https://www.youtube.com/watch?v=baENHTG2SCc
Hal menarik dari alat musk ini adalah tidak memiliki kunci nada dan lirik. . Lalu, bagaimana mempelajarinya? Secara oral dan aural. Atau bahasa mudahnya: pakai feeling, yang berasal dari indra pendengaran dan lisan yang diajarkan dengan cara duduk bersama.
Menariknya lagi, sapeq yang dimainkan mengiringi tarian, tangga-tangga nada yang keluar berasal dari ketukan gerak dan makna tarian. Pada masa lampau, pemain sapeq baru bisa memainkan dawainya setelah melihat gerak dan paham makna tariannnya. Yang kemudian menghasilkan music yang menjadi milik tarian tersebut. Music Sapeq tidak memiliki lirik. Kata “lirik” mempunyai arti yang lain, yaitu nada.
Menyangon atau memainkan lagu mempunyai fungsi tersendiri, sebagai pengiring vocal, tari, hiburan, dan pengantar seseorang yang dianggap ahli melantunkan mantra-mantra bersama ramuan tumbuhan untuk mengobati orang yang sakit. Tata cara ini dulunya berawal dari kebiasaan Suku Dayak Tunjung atau Belian. Kemudian, music sapeq pengantar mantra dinamakan sapeq habai. Mengapa sapeq? Sebab, dulu belum ada mantra apalagi dokter, jadilah sapeq, mantra, dan ramuan tumbuhan memiliki kesaktian sebagai penyembuh.
Tangga nada untuk tarian dan pengantar mantra tidak berbeda. Sapeq sebagai pengiring tarian dinamakan sapeq uwi. Dari sini bisa disimpulkan bahwa music adalah penenang jiwa yang otomatis mampu menyembuhkan pikiran dan hati yang sedang sakit—yang menjalar ke organ-organ tubuh menjadi penyakit. Mendengarkan music kuasa menenangkan jiwa dan menimbulkan perasaan yang meminimalisir rasa sakit.
musik Sapeq bukan untuk kegiatan atau upacara ritual. Tapi lebih digunakan untuk acara ulang tahun, pernikahan, atau acara tukar cidernmata antar kampong, Sedangkan untuk acara ritual, Suku Dayak biasa menggunakan alat music gong. Tak heran, music sapeq dan tari kerap dipertunjukkan pada acara Pemerintah Desa/Daerah.
Jenis-jenis tarian yang biasa diiringi music sapeq adalah Tari Nyatang, Jie, Tujah, dan Kukot[1]. Tari Nyatang adalah tarian riang gembira, yang dibawakan secara erkelompok, antara 10-20 orang. Tari Tujah adalah tarian yang gerak tarinnya diadopsi dari gerakan burung Murai[2], seperti cara dia terbang atau hinggap di atas dahan pohon. Tari Jie menggambarkan kumpulan ikan lais[3] yang bertelur dengan cara berputar-putar mengeliling teluk, berbeda dengan cara ikan lain yang mengerluakan telurnya di bawah batu.
Alat music sapeq hanya mempunyai dua senar yang dibuat dari rotan yang diraut dan dibentuk bulat. Sesuai perkembangan zaman dan kebutuhan kepuasaan manusia yang berkembang, alat music tradisional ini menjadi 3, 4, dan 6 senar. Dawainya pun terbuat dari nilon kawat, tak lagi rotan. Pun, Sapeq 2 senar tak terdengar lagi senandungnya. Menurut Pak Hans, masyarakat lebih tertarik mendengar sapeq 6 senar dibandingkan dua senar, sebab suara yang dihasilkan lebih bervariasi. Sapeq tidak hanya memgiring tarian tapi juga sastra lisan.
Dari jenis pemilihan kayu, pemain atau pembuat alat music sapeq, memilih kayu yang bisa mengeluarkan suara yang bagus. Seringnya mereka menggunakan kayu arau.
Di Tiong Ohang, alat music sapeq dua senar sudah tidak ada lagi, kecuali ada yang membuatnya. Sekitar 2 pemain yang masih bisa memainkan dua dawai didaerah ini.
Alat music tradisional lainnya asal Tiong Ohang adalah Suling yang terbuat dari bamboo dan cara memainkannya dengan meniupnya melalui hidung atau mulut. Otong, alat music yang terbuat dari daun enau. Bunyi akan keluar dari mulut yang terbuka dan diletakan alat music sambil dipukul. Mengeluarkan suara …ngau…ngau…ngau. Alat jenis music ini tidak ada lagi yang bisa memainkannya. Bisa jadi masih ada di kampong lain seperti Tiung Bu’u, Kriyo, dan Labuan. Kroni Burung, terbuat dari tanaman labu air yang bagus yang digabungkan dengan bamboo. Alat music ini mirip alat music harmonica. Cara memainkannya, lubang bamboo ditiup dengan labu air. Menggunakan 6 bambu sehingga menghasilkan 6 nada. Suara yang keluar jernih sekali.
.
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...
Panduan Memahami Asal Usul Gresik: Dari Jejak Sejarah hingga Etimologi Nama Gresik, yang dijuluki Kota Wali karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Jawa, merupakan salah satu wilayah bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa. Memahami asal usul daerah ini tidak hanya menyangkut pengetahuan kronologis semata, tetapi juga memerlukan analisis terhadap berbagai lapisan sumber—dari prasasti kuno, naskah babad, hingga catatan kolonial. Panduan ini dirancang untuk membantu pembaca menavigasi kompleksitas historiografi Gresik secara sistematis, mulai dari etimologi nama hingga penetapan identitas administratifnya sebagai kabupaten. Sumber Sejarah dari Masa Jawa Kuno Dalam tradisi historiografi Indonesia, Gresik menempati posisi unik karena keberadaan sumber-sumber tertulis dari periode Jawa Kuno. Dua dokumen kuno menjadi landasan utama bagi para sejarawan dan budayawan dalam menelusuri akar historis wilayah ini (Sumber 3). Pertama, Babad Hing Gresik merupakan naskah sejar...
Rambu Solo': Ketika Kematian Menjadi Perayaan Perjalanan Bagaimana mungkin kematian—yang di banyak budaya menjadi momen duka dan kehancuran—diubah menjadi sebuah pesta yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Bagi Suku Toraja di Sulawesi Selatan, kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan terakhir yang memerlukan persiapan ritualistik yang rumit dan mahal. Inilah inti dari Rambu Solo' , upacara pemakaman dalam ajaran Aluk Todolo yang mengubah penguburan menjadi sebuah spektakul budaya penuh makna. Menunggu di Antara Dua Dunia Paradoks pertama dari Rambu Solo' terletak pada pengertian kematian itu sendiri. Dalam logika Aluk Todolo —kepercayaan leluhur Suku Toraja—seseorang yang baru meninggal secara fisik belum benar-benar "mati" secara spiritual. Mayat akan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah, bukan untuk segera dikubur, melainkan menunggu waktu yang dianggap tepat (Sumber 4). Masa tunggu ini bisa berlangsung berm...