Kabelah adalah seorang anak laki-laki yang lahir dengan tubuh hanya separuh. Karena tubuhnya yang cacat itu, ia sering dicemooh oleh teman-teman sebayanya. Ketika beranjak dewasa, Kabelah berniat untuk pergi mencari Tuhan agar tubuhnya dibuat sempurna layaknya manusia pada umumnya. Berhasilkah Kabelah memenuhi keinginannya? Ikuti kisahnya dalam cerita Sang Kabelah berikut ini!
* * *
Alkisah, ada sepasang suami-istri yang tinggal di sebuah kampung di daerah Lampung. Mereka sudah bertahun-tahun berumah tangga, namun belum dikaruniai seorang anak. Mereka sangat menginginkan seorang anak untuk mengisi kesepian mereka. Oleh karena itu, hampir setiap malam mereka berdoa dan mendatangi tabib yang sakti untuk memenuhi keinginan tersebut.
Pada suatu malam, sepasang suami-istri tersebut berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
"Oh Tuhan! Karuniakanlah kepada kami seorang anak, walaupun hanya berbadan sebelah!" pinta suami istri itu dengan penuh ketulusan.
Berkat doa yang tulus tersebut, sang Istri pun mengandung. Sesuai dengan permintaan mereka, beberapa bulan kemudian, sang Istri pun melahirkan seorang bayi laki-laki berbadan setengah. Bayi mungil itu hanya memiliki satu telinga, satu mata, satu tangan, dan satu kaki. Oleh kedua orang tuanya, bayi itu diberi nama Kabelah.
Meskipun berbadan sebelah, Kabelah senantiasa mendapat perhatian dan kasih sayang tulus dari kedua orang tuanya. Ia tumbuh menjadi anak sehat dan dapat bermain bersama teman-teman sebayanya. Namun, ia seringkali dicemooh oleh teman-temannya karena badannya hanya sebelah.
Pada suatu hari, ketika sedang asyik bermain, Kabelah dicelah oleh teman-temannya. Dengan hati sedih, ia pun pulang ke rumahnya.
"Hai Belah, Anakku! Kenapa kamu selalu tampak sedih setiap pulang dari bermain?" tanya ibunya dengan penuh perhatian.
"Iya, Bu! Belah sedih karena setiap hari mereka mengejekku. Belah tidak mau lagi ikut bermain bersama mereka," keluh Kabelah kepada ibunya.
"Sabarlah, Anakku! Kita harus rela menerima keadaan ini dengan hati yang tulus. Semua ini sudah menjadi kehendak Tuhan Yang Mahakuasa. Jika mereka mencelamu sama artinya mereka mencela Tuhan," hibur ibunya.
Walaupun berkali-kali dicegah oleh ibunya, Kabelah tetap saja bersedih dan sering menyendiri. Ia tidak pernah lagi bermain bersama teman-temannya karena malu terus dicemooh.
Waktu terus berjalan. Kabelah pun tumbuh dewasa. Suatu ketika, tiba-tiba terlintas di pikirannya untuk pergi mencari Tuhan. Ia pun menyampaikan niat itu kepada kedua orang tuanya.
"Ayah, Ibu! Aku tidak tahan lagi hidup dengan keadaan seperti ini. Izinkanlah aku pergi mencari Tuhan," pinta Kabelah kepada kedua orang tuanya.
"Sudahlah, Anakku! Kamu harus rela menerima takdir ini. Kamu tidak mungkin menemukan Tuhan," cegah ibunya.
Meskipun kedua orang tuanya berkali-kali mencegahnya, Kabelah tetap bersikeras untuk pergi mencari Tuhan. Kedua orang tuanya pun tidak dapat lagi mencegah keinginan Kabelah. Mereka hanya dapat mendoakannya dengan mengadakan selamatan untuk keselamatan anak semata wayangnya selama di perjalanan.
Akhirnya, Kabelah pun berangkat dengan membawa bekal seperlunya. Setelah berhari-hari berjalan, ia bertemu dengan seorang lelaki tua berpakaian serba putih sedang duduk berzikir di atas batu di tengah hutan lebat. Kabelah pun memberanikan diri bertanya kepada pertapa itu.
"Maaf, Tuan! Bolehkah aku bertanya apakah Tuan mengetahui keberadaan Tuhan?" tanya Kabelah.
Tanpa diduganya, orang tua menjawabnya dengan kata-kata kasar.
"Hai, pemuda cacat! Aku saja yang berbadan sempurna dan bertahun-tahun duduk berzikir di atas batu ini belum juga menemukan Tuhan, apalagi kamu yang hanya berbadan sebelah itu," hardik lelaki tua.
Betapa sedihnya hati Kabelah mendengar jawaban itu. Dengan hati sedih, ia pun segera berlalu dari tempat itu untuk melanjutkan perjalanannya. Setelah beberapa jauh berjalan, ia tiba-tiba dihadang oleh sekawanan perampok.
"Hai, pemuda jelek! Hendak ke mana kamu, hah? Serahkan semua barang bawaanmu itu kepada kami!" seru kepala perampok itu.
"Ampun, Tuan! Jangan sakiti aku. Izinkalah aku lewat! Aku ingin pergi mencari Tuhan," iba Kabelah.
Salah seorang anggota perampok merasa kasihan melihat Kabelah. Ia pun berusaha membujuk pimpinannya itu agar membiarkan anak muda ini pergi. Melihat kejujuran Kabelah, kepala perampok itu pun mengizinkannya untuk melanjutkan perjalanan. Bahkan ia berpesan agar Kabelah singgah di tempat mereka sepulang dari bertemu dengan Tuhan.
"Terima kasih, Tuan! Aku berjanji akan kembali menemui kalian jika aku sudah bertemu dengan Tuhan," ucap Kabelah seraya berpamitan.
Kabelah kembali melanjutkan perjalanan. Ketika sudah mulai gelap, ia bermaksud untuk beristirahat. Setelah berkeliling mencari tempat berlindung dari dinginnya udara malam dan gangguan binatang buas, akhirnya ia menemukan sebuah gua. Sebelum memasuki mulut gua itu, terlebih dahulu meminta izin kepada penjaganya. Betapa terkejutnya ketika ia berada di sebuah ruangan di dalam gua itu. Ia merasa seolah-olah tubuhnya tidak menyentuh lantai. Tak berapa lama kemudian, ia kembali dikejutkan oleh suara yang menggema menegurnya.
"Hai, Anak Muda! Kamu tidak boleh berada di dalam ruangan itu!" demikian suara itu.
Baru saja Kabelah akan meninggalkan ruangan itu, tiba-tiba matanya menjadi mengantuk sekali. Akhirnya ia tertidur di tempat. Betapa terkejutnya saat ia terbangun. Tiba-tiba ia berada di dalam sebuah ruangan yang sangat indah. Tak seorang pun di ruangan itu kecualinya dirinya. Meski demikian, ia mencoba untuk bertanya tentang keberadaan Tuhan.
"Siapa pun yang mendengar suaraku, mohon jawablah pertanyaanku ini! Di manakah Tuhan berada dan di mana tubuhku yang sebelah?" tanya Kabelah.
Sejenak Kabelah diam, namun tak ada jawaban. Ia justru kembali tertidur. Begitu terbangun, tiba-tiba ia melihat tubuhnya menjadi normal seperti manusia pada umumnya. Ia pun segera berucap syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa.
"Terima kasih, Tuhan! Engkau telah mengambulkan permohonan hamba!" ucap Kabelah.
Ketika Kabelah akan meninggalkan gua itu, tiba-tiba terdengar suara berpesan kepadanya.
"Wahai, Kabelah! Jangan lupa singgah di tempat pertapa dan kawanan perampok itu! Beritahukan kepada mereka agar mau merubah sifat dan perilaku mereka!" seru suara itu.
Setelah mendengar pesan itu, Kabelah pun pulang ke rumahnya. Ketika singgah di tempat pertapa itu, ia mendapati orang tua itu sedang duduk terpekur. Ia pun segera menyampaikan pesan itu kepadanya. Akhirnya, lelaki tua itu insyaf. Ia tidak pernah lagi berkata kasar dan memandang rendah orang lain. Demikian pula para perampok itu, mereka juga insyaf dan tidak pernah lagi merampok. Untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, mereka bercocok tanam.
Setelah menyampaikan pesan tersebut, Kabelah kembali meneruskan perjalanannya pulang. Setibanya di rumah, ia pun disambut gembira dengan penuh bahagia oleh kedua orang tuanya. Mereka pun mengandakan syukuran atas kepulangan anaknya dengan tubuh yang sudah sempurna. Sejak itu, nama Kabelah diganti menjadi Muhammad Syukur. Ia pun dapat kembali bergaul bersama teman-temannya tanpa ada perasaan dendam sedikit pun.
* * *
Demikian cerita Sang Kabelah dari daerah Lampung. Cerita di atas termasuk kategori dongeng yang mengandun pesan-pesan moral. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa dengan kemauan keras, ketekunan, dan kesabaran, keinginan seseorang akan terwujud. Hal ini terlihat pada sifat dan perilaku Kabelah. Berkat kemauan, kerja keras, dan kesabarannya, keinginan untuk mengembalikan tubuhnya menjadi normal dapat terwujud.
Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno Candi Miri merupakan salah satu situs candi Hindu yang menjadi bagian dari warisan arsitektur religius Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penyebaran pusat-pusat keagamaan yang strategis pada periode klasik Jawa. Sebagai candi Hindu, Candi Miri mencerminkan adaptasi tradisi arsitektur India yang dikembangkan dengan karakteristik lokal Jawa Kuno, berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Sejarah & Latar Belakang Candi Miri didentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Sumber 4). Letaknya berada di wilayah administratif Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah peradaban Jawa klasik. Terdapat variasi dalam pencatatan lokasi spesifik candi ini. Beberapa sumber merujuk lokasi Candi Miri di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo (Sumber 1, Sumber 2, Sumber...
Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak Di tengah kekayaan kuliner Indonesia yang tak terhingga, Babi Panggang Karo (sering disingkat BPK) muncul sebagai sebuah mahakarya rasa yang menghadirkan jejak budaya dan tradisi dari tanah Sumatera Utara. Lebih dari sekadar hidangan, BPK adalah manifestasi dari identitas masyarakat Karo, sebuah sajian yang kaya akan aroma, rempah, dan cerita. Mengapa BPK begitu istimewa, dan bagaimana ia menjadi simbol kebanggaan kuliner bagi suku Karo? Mari kita telusuri keunikan dan daya pikatnya. ## Andaliman: Jantung Rasa BPK Rahasia di balik kelezatan BPK terletak pada penggunaan rempah-rempah khas, dan yang paling menonjol adalah andaliman. Dikenal juga sebagai "merica Batak" atau "sichuan pepper"-nya Indonesia, andaliman memberikan sensasi rasa yang unik dan tak tertandingi: pedas, sedikit asam, dan yang paling khas adalah efek kebas atau "getar" di lidah (Sumber 2). Rasa yang identik dan aroma yang kuat dari andal...
Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis batik khas Papua yang dikenal dengan corak unik dan makna mendalam. Berbeda dengan batik dari daerah lain di Indonesia, batik Papua, termasuk Kamoro, memiliki ciri khas motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya suku asli di sana (Sumber 1, Sumber 3). Batik ini secara spesifik menampilkan corak khas Timika, yang terinspirasi dari suku Kamoro dan keindahan alam sekitarnya (Sumber 1). Batik Kamoro tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga merupakan representasi semangat dan keberanian penduduk asli Papua (Sumber 2). Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya merefleksikan kehidupan masyarakat adat, menjadikannya salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan. ## Motif dan Makna Batik Kamoro Motif utama batik Kamoro sangat khas dan mudah dikenali. Corak yang sering ditemukan pada batik ini meliputi: ### Simbol Patung Salah satu motif yang paling menonjol pada batik Kamoro adal...
Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...