Mungkin tidak banyak yang tahu sekarang ini bahwa orang Dayak mengenal system pembagian waktu. Orang Dayak Ngaju membagi waktu satu tahun berdasarkan perubahan musim dan kegiatan kegiatan yang dilakukan pada musim-musim itu. Sehingga dalam kalender Dayak Ngaju, satu tahun akan terbagi menjadi 11 masa atau bulan, nama nama masa itu antara lain:
Ini masa memusyawarahkan membuat rencana tentang perladangan yang akan datang. Misalnya dimana dan bagaiman ladang yang akan datang dibuat. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada bulan Januari
Ini adalah masa untuk mempersiapkan alat-alat berladang, antara lain beliung, parang, tikar, alat menampi, luntong, palundu dan sebagainya. Kegiatan ini dilakukan pada bulan Februari.
Masa untuk tebas-tebang hutan untuk tempat berladang dan kegiatan ini dilakukan pada bulan Maret – April
Kayu tebang ditempat yang akan dijadikan lading dibiarkan kering. Masa ini biasanya jatuh pada musim kemarau yaitu sekitar bulan Mei, dan pada masa itu banyak penduduk desa yang bekerja sebagai pendulang emas.
Masa setelah pembakaran tebangan yang kering, yaitu terjadi pada bulan Juni
Masa ini terjadi pada bulan Juli, yaitu masa untuk bertanam padi diladang atau disebut MANUGAL
Masa untuk menyiangi lading. Sementara itu padi sudah mulai berisi (batihi). Kejadian ini terjadi pada bulan Agustus
Masa persiapan menyediakan alat-alat yang berhubungan dengan musim menuai. Persiapan yang dimaksud biasanya membuat karayan, lusuk atau karangking parei (lumbung padi dirumah). Masa ini terjadi pada bulan September
Masa permulaan menuai. Pada masa ini para petani dan keluarganya diladang bersukaria membuat makanan khas Dayak yang diebut “KENTA” atau semacam quaker oat. Masa ini terjadi pada bulan Oktober
Masa ii diesebut pula dengan masa “PAKANAN BATU” atau di Kalimantan Barat dikenal dengan istilah GAWAI – yaitu masa yang menandakan bahwa musim menuai telah selesai. Para petani akan melakukan ritual syukur bumi kepada RANYING MAHATALA LANGIT dan penghormatan kepada para leluhur. Pesta ini juga dilakukan makan bersama dengan mengundang keluarga sekampung. Juga pada masa ini dibuatkan sesajian dan ritual – masa ini biasanya jatuh pada bulan November. Namun untuk saat ini ritual PAKANAN BATU di Kalimantan Tengah sudah punah dan tidak pernah dilakukan lagi.
Merupakan masa untuk membersihkan alat-alat pertanian yang telah dipakai pada masa berladang untul disimpan untuk digunakan kembali pada waktu akan membuat lading pada masa berikutnya. Masa ini merupakan masa istirahat dalam mengerjakan lading. Masa ini biasanya diisi dengan mengerjakan pekerjaan sampingan misalnya membuat berbagai anyaman atau kerajinan lainnya.
Orang Dayak juga mengenal astronomy dalam penentuan waktu. Penentuan ini melihat bintang deret tiga di sabuk Orion yang dikenal dengan nama astronominya MINTAKA, ALNITAK dan ALNILAM yang dikenal dalam Bahasa Dayaknya sebagai BINTANG PATENDU atau disebut juga BINTANG LUKU atau BINTANG SALAMPATEI – yang diyakini bintang ini dikuasai oleh seorang Dewa yang masa / waktu yang disebut MANYAMEI RAJAN PATENDU.
Berikut ini penentuan waktu mengerjakan ladang berdasarkan bintang patendu tadi:
Demikianlah system waktu bagi orang Dayak – Orang Dayak juga mengenal system kalender yang disebut dengan PAPAN KATIKA – lain kali penulis bisa sharing mengenai system penanggalan orang Dayak masa lalu. Tabe
Motive MAYAMEI BINTANG PATENDU – Pada kaos Official Folks Of Dayak
Sumber: https://folksofdayak.wordpress.com/2015/09/07/sistem-pembagian-waktu-suku-dayak-ngaju/
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...
Ayam goreng adalah salah satu menu favorit keluarga yang tidak pernah membosankan. Namun, jika kamu ingin mencoba variasi yang lebih gurih dan harum, ayam goreng bawang putih renyah adalah pilihan yang tepat. Ciri khasnya terletak pada aroma bawang putih yang kuat serta kriukannya yang renyah saat digigit. Resep ini juga sangat mudah dibuat, cocok untuk menu harian maupun Bahan-Bahan Bahan Ayam Ungkep ½ kg ayam (boleh potong kecil agar lebih cepat matang) 5 siung bawang putih 4 siung bawang merah 1 sdt ketumbar bubuk 1 ruas kunyit (opsional untuk warna) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400 ml Bahan Kriuk Bawang 5–6 siung bawang putih, cincang halus 3 sdm tepung maizena ¼ sdt garam ¼ sdt lada Minyak banyak untuk menggoreng Cara Membuat Ungkep ayam terlebih dahulu Haluskan bawang putih, bawang merah, kunyit, dan ketumbar. Tumis sebentar hingga harum. Masukkan ayam, aduk rata, lalu tuang air. Tambahkan garam dan kaldu bubuk. Un...
Ayam ungkep bumbu kuning adalah salah satu menu rumahan yang paling praktis dibuat. Rasanya gurih, aromanya harum, dan bisa diolah lagi menjadi berbagai hidangan seperti ayam goreng, ayam bakar, hingga pelengkap nasi kuning. Keunggulan lainnya, resep ini termasuk cepat dan cocok untuk kamu yang ingin memasak tanpa ribet namun tetap enak. Berikut resep ayam ungkep bumbu kuning cepat yang bisa kamu coba di rumah. Bahan-Bahan ½ kg ayam, potong sesuai selera 4 siung bawang putih 5 siung bawang merah 1 ruas kunyit 1 ruas jahe 1 ruas lengkuas (geprek) 2 lembar daun salam 2 lembar daun jeruk 1 batang serai (geprek) 1 sdt ketumbar bubuk (opsional) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400–500 ml Minyak sedikit untuk menumis Cara Membuat Haluskan bumbu Blender atau ulek bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, dan ketumbar bubuk (jika dipakai). Semakin halus bumbunya, semakin meresap ke ayam. Tumis bumbu hingga harum Panaskan sedikit m...