Keberadaan maen pukul Troktok di Ulujami bermula dari belajarnya seorang anak muda yang bernama (Haji) Dilun mempelajari ilmu maen pukul dari seorang guru yang bernama Marzuk di Rawa Kidang Tangerang. Sosok Guru Marzuk selain dikenal sebagai ahli dalam ilmu beladiri,beliau juga dikenal sebagai ahli dalam ilmu agama. Karena pada zaman itu maen pukul dan ibadah merupakan sesuatu yang tak terpisahkan keberadaannya. Jadi berangkatlah (Haji) Dilun menemui Guru Marzuk.
(Haji) Dilun adalah anak pertama dari tiga bersaudara pasangan seorang kepala desa/lurah Ulujami pertama yang bernama (Ki)Syairan atau Siran/Biran/Diran bin Madi dengan seorang istri yang berasal dari Kreo Ciledug. Diperkirakan beliau lahir pada tahun 1843 M(saat itu Ulujami termasuk dalam wilayah administrasi kecamatan Ciledug Daswati II (kabupaten/kotapraja) Tangerang. Data ini dapat dilihat pada tahun-tahun mendatang.seperti tertera pada Surat Ketetapan Iuran Pembangunan Daerah pada tahun 1967.
Saat usianya tumbuh remaja. Atas perintah dan rekomendasi bapaknya,ia pergi berguru kepada Guru Marzuk diRawa Kidang.
Sampai beberapa lama,sampai pada saat ia dinyatakan cukup dan selesai dalam pembelajarannya,akhirnya ia pun kembali ke Ulujami untuk mengamalkan setiap ilmu yang telah didapatnya.
Sementara itu,adiknya yang pertama yang bernama (Haji)Buang menjabat sebagai kepala desa/lurah Ulujami yang ke-2 menggantikan posisi bapaknya. Sedangkan adiknya yang kedua yang bernama Madi,konon beliau pergi merantau ke Bagan Siapiapi Kepulauan Riau(sempat terjadi kontak melalui surat yang menyatakan bahwa ia berada,tinggal dan menetap disana).
Waktu berlalu,masing-masing dari beliau mempunyai keluarganya sendiri. Sementara itu (Haji)Dilun dalam pernikahannya yang ke-2 dengan seorang gadis dari Kampung Sawah(Pisangan Kretek) Petukangan yang bernama (Hajjah)Rainah binti Tiran. Beliau dikarunia beberapa orang anak yang diantaranya adalah Muhammad Syukri sebagai anak bungsu dari 3 bersaudara. Ia lahir pada hari Jum’at tanggal 07 Agustus 1936 M atau bertepatan dengan tanggal 19 Jumadil ‘Awwal 1355 H.
Ulujami yang dipimpin oleh (Haji)Buang,kala itu ia didampingi (Haji)Dilun dalam melaksanakan tugas-tugasnya dibidang keamanan. Banyak warga Ulujami dengan latar belakang maen pukul yang berbeda bersatu padu dalam keamanan menjaga kampung. Karena pada dasarnya seluruh warga asli Ulujami masih terkait dalam tali kekeluargaan(banyak warga asli Ulujami dengan berbagai versi mempercayai bahwa asal usul mereka berasal dari Banten atau Cirebon. Hal ini ditegaskan dengan adanya sebuah maqam tua yang dikeramatkan dan dikenal dengan nama Maqam Keramat Nyai Syeikh Kompi Syerah yang dipercaya sebagai pendiri kampung Ulujami yang berasal dari Banten atau Cirebon..Wallohu a’lam).
Saat anak-anak dari (Haji)Dilun beranjak dewasa,mereka diwajibkan untuk belajar maen pukul dengan kebebasan untuk memilih jenis dan aliran maen pukul yang disukai untuk dipelajari. Karena (Haji)Dilun beranggapan semua jenis dan aliran maen pukul baik dan bagus semua,tinggal bagaimana yang mempelajari mengamalkannya.
Kebetulan dari beberapa anak-anaknya hanya M.Syukri yang menguasai dan meneruskan keberadaan maen pukul Troktok di Ulujami. M.Syukri selain belajar kepada bapaknya,ia juga belajar langsung kepada Guru Marzuk di Rawa Kidang. Pada masa-masa beliaulah maen pukul Troktok berkembang. Saat itu banyak para orang tua menitipkan anak-anaknya untuk belajar maen pukul ini. Maen pukul yang orang kebanyakan menyebutnya dengan sebutan “Jurus Angin”, lantaran untuk ngejalaninnya tidak dituntut untuk mengeluarkan banyak tenaga. Ada juga yang menyebut dengan “Tepok Nyamuk”,karena kedengaran seperti orang lagi nepokin nyamuk. Ada juga yang menyebut dengan “Langkah” dan “Ronce”,khusus penyebutan Ronce,biasanya untuk penyebutan didalam sambut dimaenan ini,yang berarti nyambung terus menerus tiada putus layaknya anyaman rantai.
Pada hari ahad tanggal 22 September 1963 M atau bertepatan pada tanggal 3 Jumadil ‘Awwal 1383 H, Haji Dilun meninggal dunia disebabkan sakit. Dengan usia kurang lebih 120 tahun. Jenazah beliau dimakamkan dikomplek pemakaman keluarga dibelakang gedung SMP/SMK PERWIRA Ulujami Pesanggrahan.
Sepeninggal bapaknya,M.Syukri meneruskan maen pukul Troktok dengan mengajar anak-anaknya dan anak muda seputaran Ulujami. Mereka datang dengan rombongan.tiap-tiap rombongan sekitar 10-20 orang. Waktu saya masih kecil,kira-kira umur 4 atau 5 tahun. Hampir tiap malam rumah selalu ramai dengan datangnya rombongan anak muda yang ingin belajar.tidak saja dari wilayah Ulujami,tapi juga dari wilayah lainnya.
Pada hari selasa dinihari tanggal 10 Juli 2001 M atau yang bertepatan dengan tanggal 18 Rabiul Tsani 1422 H. Haji Muhammad Syukri meninggal dunia karena sakit. Jenazah beliau dimakamkan diPemakaman Wakaf belakang kelurahan Ulujami.
(Robbighfirlana waliwaalidina warhamhuma kamaa robbayana shighoro..).
Dalam maen pukul ini terdapat beberapa jurus dan langkah,diantaranya:
A.J U R U S
1. Pukul/jurus angin
2. Deprok
3. Kepang/seliwa
4. Kancut(tendangan dengkul)
B. L A N G K A H (dalam maenan ini, dimulai dengan langkah 2.sedangkan langkah 1 dijadikan sebagai penutup.
1. Langkah 2 kurung
2. Langkah 3 kurung
3. Langkah 4 colong
4. Langkah 5
-sangkol
-tetes
5. Langkah 1
-silo macan
-ngayak
C. S A M B U T
(by ndelminerva)
Sumber: http://forumsilat.blogspot.com/2012/08/pencak-silat-betawi-troktok.html
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...