Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Sulawesi Selatan Sulawesi Selatan
SI PENAKLUK RAJAWALI
- 20 Juli 2018

Si Penakluk rajawali adalah seorang pemuda yang tinggal di sebuah daerah di Sulawesi Selatan, Indonesia. Pemuda tersebut dinikahkan dengan putri raja, karena berhasil memenangkan sayembara menaklukkan seekor rajawali raksasa.

 

Konon, pada zaman dahulu kala ada sebuah negeri di daerah Sulawesi Selatan yang diperintah oleh seorang raja. Raja tersebut mempunyai tujuh orang putri. Menurut adat di kerajaan itu, jika raja memiliki putri sampai tujuh orang, maka salah seorang di antaranya harus dipersembahkan kepada seekor rajawali raksasa agar keluarga istana terhindar dari malapetaka. Hal tersebut membuat sang Raja sedih dan gelisah, karena ia tidak mau kehilangan salah seorang putrinya. Ia pun berpikir keras mencari jalan keluar bagaimana caranya agar ketujuh putrinya tersebut dapat  hidup semua. 
 
Sudah berhari-hari sang Raja tidak enak makan dan tidak nyenyak tidur memikirkan hal itu. Hingga pada suatu hari, tiba-tiba sesuatu terlintas dalam pikirannya.
“Mmm..., bagaimana kalau aku mengadakan sayembara untuk menaklukkan rajawali itu. Barangkali di antara rakyatku ada yang mempunyai kesaktian yang tinggi dan mampu melumpuhkan rajawali itu,” pikir sang Raja.
Keesokan harinya, sang Raja segera mengumpulkan seluruh rakyatnya di depan istana.
  • “Wahai, rakyatku! Aku akan mengadakan sayembara untuk menaklukkan rajawali raksasa itu. Siapapun yang berhasil menaklukkannya, jika dia seorang laki-laki maka aku akan menikahkannya dengan putriku, dan jika dia seorang perempuan, maka aku akan mengangkatnya menjadi keluarga istana!” seru sang Raja kepada seluruh rakyatnya.
  • “Ampun, Baginda! Kapan sayembara tersebut akan dilaksanakan”“ tanya seorang warga dengan penuh semangat.
  • “Menurut penasehat istana, rajawali raksasa itu akan datang ke negeri ini seminggu lagi. Jadi, mulai sekarang latih dan perdalamlah ilmu dan kesaktian kalian!” seru sang Raja.
Mendengar seruan itu, para warga pun kembali ke rumah masing-masing. Seminggu sebelum kedatangan rajawali tersebut, para warga tampak ramai melatih dan memperdalam ilmu kesaktian mereka dengan penuh semangat. Para laki-laki berharap dapat menjadi menantu raja, sedangkan kaum perempuan berharap dapat menjadi keluarga istana.
 
Sementara itu, para pengawal istana sedang membuat sebuah baruga (pendapa) di sebuah tempat yang agak jauh dari istana. Baruga tersebut merupakan tempat tinggal sang Putri sebelum disantap rajawali. Sang Putri sengaja dibuatkan baruga untuk memancing kedatangan burung rajawali tersebut. Selain sajian berupa anak gadis, juga disiapkan segala macam kue-kue, sokko (bahasa Bugis: nasi ketan), dan minuman di tempayan untuk burung rajawali tersebut.
 
Tidak terasa seminggu telah berlalu. Hari kedatangan rajawali itu pun tiba. Pagi-pagi sekali salah seorang putri raja yang menjadi persembahan diantar ke baruga tersebut. Sang putri diantar oleh keluarga dan pengawal istana. Bahkan banyak warga yang ikut mengantarnya. Mereka sangat khawatir terhadap nasib sang Putri yang akan menjadi santapan rajawali tersebut sekiranya tidak ada warga yang mampu mengalahkannya.
“Maafkan Ayah, Putriku! Ayah melakukan semua ini karena adat di negeri ini. Tapi, Nanda tidak usah khawatir, Ayah sedang berusaha untuk menyelamatkan Nanda dengan mengadakan sayembara ini. Semoga di antara warga ada yang mampu mengalahkan burung rajawali itu,” ucap sang Raja menenangkan hati putrinya.
Menjelang kedatangan rajawali itu, sang Raja bersama keluarga dan pengawal istana bergegas kembali ke istana dengan perasaan cemas. Tinggallah sang Putri seorang diri di atas baruga itu. 
 
Sementara itu, di sekitar tempat baruga itu berdiri, para peserta sayembara sudah bersiap-siap menyambut kedatangan burung rajawali dengan berbagai macam senjata di tangan mereka. Ada yang membawa tombak yang sudah dibubuhi racun, ada yang membawa tali untuk mengikat leher rajawali tersebut, dan ada pula yang membawa bambu runcing.
 
Tidak lama kemudian, seorang pemuda pengembara melintas di tempat itu. Ia melihat seorang gadis cantik sedang duduk termenung di atas baruga. Ia pun segera naik ke atas baruga dan menghampiri gadis itu.
  • “Hai, gadis cantik! Kenapa kamu sedih dan duduk sendirian di sini”“ tanya pemuda itu dengan perasaan iba.
  • “Aku sedang menunggu ajal,” jawab sang Putri dengan suara lirih.
  • “Apa maksudmu”“ tanya pemuda itu penasaran.
  • “Aku adalah seorang putri raja dan mempunyai enam orang saudara perempuan. Menurut adat di negeri ini, jika putri raja sudah berjumlah tujuh orang, maka salah seorang di antaranya harus dipersembahkan kepada seekor rajawali raksasa untuk disantap,” jelas sang Putri.
  • “Tapi, jika ada orang yang mampu menaklukkan rajawali itu, maka raja akan menikahkannya denganku,” tambah sang Putri.
  • “Maaf, Tuan Putri! Jika diperkenankan, hamba akan menemani sang Putri di sini,” kata pemuda itu.
  • “Jangan! Nanti kamu ikut dimakan rajawali itu.”
  • “Tidak usah khawatir, Tuan Putri! Hamba akan melindungi Tuan Putri dari sergapan rajawali itu.”
Sambil menuggu rajawali itu, tiba-tiba pemuda itu mengantuk sekali dan akhirnya tertidur di atas baruga itu. Sang Putri pun memerhatikan pemuda itu.
“Baik sekali pemuda ini. Semoga dia mampu mengalahkan rajawali itu, sehingga dialah yang akan menikah denganku,” kata sang Putri dalam hati dengan penuh harap.
Ketika hari beranjak siang, tiba-tiba terdengar suara gemuruh laksana angin topan datang menerjang. Dari kejauhan tampak seekor burung raksasa sedang terbang sambil mengepak-ngepakkan sayapnya menuju ke arah baruga. Mengetahui bahwa yang datang adalah burung rajawali raksasa itu, maka sang Putri segera membangunkan pemuda itu.
“Ayo, Bangun! Rajawali raksasa itu sudah datang!” seru sang Putri.
Pemuda itu pun segera bangun sambil mengusap-usap matanya. Rajawali itu semakin mendekat. Sang Putri yang ketakutan segera bersembunyi di belakang pemuda itu sambil menutup matanya. Sementara sang Pemuda segera mengeluarkan senjata pusakanya berupa sebilah badik yang dapat menikam sendiri dan seutas tali yang dapat mengikat sendiri. Begitu hinggap di baruga, rajawali itu langsung menyantap kue-kue, sokko, dan minuman yang tersedia. Setelah menghabiskan makanan dan minuman sesaji tersebut, rajawali itu bersiap untuk menyantap sang Putri.
 
Melihat keadaan itu, sang Pemuda segera bertindak. Ia memerintahkan talinya untuk mengikat rajawali itu. Secepat kilat, tali ajaib itu meluncur dan melilit seluruh tubuh rajawali itu. Sang rajawali berusaha melepaskan lilitan tali itu dengan mengepak-ngepakkan sayapnya. Beberapa saat kemudian, tali itu mengendor karena tidak kuat menahan kepakan sayap rajawali itu.
”Tuan, tolong aku! Aku tidak sanggup menahan kepakan sayap rajawali ini,” seru tali itu meminta tolong kepada tuannya.
Tanpa berpikir panjang, pemuda itu pun segera memerintahkan badiknya.
“Hai badikku, tikam rajawali itu!” seru sang Pemuda.  
Secepat kilat, badik sakti itu langsung menikam dan terus menikam hingga rajawali itu mati. Sang putri masih menutup matanya, karena ketakutan. Ia hanya mendengar suara pemuda itu sedang berbicara dengan seseorang. Namun, setelah membuka matanya, sang Putri merasa heran, karena tidak ada orang lain kecuali dia dan pemuda itu.
 
Para warga yang bersembunyi di sekitar tempat itu baru muncul setelah tahu rajawali itu mati. Senjata yang ada di tangan mereka tidak sempat mereka gunakan, karena pemuda itu dengan cepat sekali melumpuhkan rajawali itu. Akhirnya, para peserta sayembara yang merasa dirinya sakti segera mencincang dan memotong-motong tubuh rajawali itu.
 
Sementara pemuda yang telah mengalahkan rajawali itu berpamitan kepada sang Putri ingin melanjutkan perjalanannya. Sebagai ucapan terima kasih, sang Putri memberikan selandangnya kepada pemuda itu.
“Terima kasih! Anda telah menyelamatkan nyawaku. Bawalah selendang ini sebagai cenderamata dariku,” ucap sang Putri.
Setelah pemuda itu pergi, sang Putri diusung oleh warga kembali ke istana. Sebagian warga yang merasa dirinya sakti saling berebut ingin membawa tubuh rajawali itu ke hadapan sang Raja. Namun, karena tubuh rajawali itu besar, maka para warga membagi-baginya. Ada yang membawa kepala, ada yang memikul paha, dan ada yang mengambil kaki rajawali itu. Mereka berebut tubuh rajawali, karena ingin dikatakan sebagai pahlawan yang berhasil mengalahkan rajawali itu.
 
Sesampainya di istana, sang Putri disambut gembira oleh sang Raja dan seluruh keluarga istana. Sang raja kemudian bertanya kepada putrinya tentang siapa orang yang berhasil mengalahkan rajawali itu.
  • “Ampun, Ayahanda! Ananda tidak mengenalnya. Sepertinya pemuda gagah itu bukanlah warga negeri ini,” jawab sang Putri.
  • “Tapi, apakah Nanda tahu bagaimana dan dengan apa pemuda itu mengalahkan rajawali itu”“ tanya sang Raja.
  • “Ananda juga tidak tahu, Ayah! Waktu itu Nanda sedang menutup mata karena ketakutan. Nanda hanya mendengar pemuda itu berseru: `Ikat rajawali itu...! Tikam raja wali itu...! Saat Nanda membuka mata, ternyata rajawali itu sudah mati,” cerita sang Putri.
  • “Tapi, jika bertemu lagi dengan pemuda itu, apakah Nanda dapat mengenalnya”“ sang Raja kembali bertanya.
  • “Iya, Ayah! Saya dapat mengenal pemuda itu, karena sebelum ia pergi, Nanda memberikan selendang Nanda kepadanya,” jawab sang Putri.
Setelah mendengar cerita putrinya itu, sang Raja pun mengerti bahwa orang yang berhasil melumpuhkan rajawali itu bukanlah rakyat negeri itu. Kemudian ia segera menemui para peserta sayembara yang sudah berkumpul di halaman istana.
“Wahai, seluruh rakyatku! Berdasarkan cerita dari putriku bahwa orang yang telah mengalahkan rajawali itu adalah seorang pemuda yang tidak dikenal. Ia bukan warga negeri ini. Oleh karena itu, walaupun rajawali itu telah mati, tidak seorang pun di antara kalian yang kunikahkan dengan putriku. Akan tetapi, aku akan mengadakan pesta besar-besaran atas matinya rajawali itu,” kata sang Raja.
Keesokan harinya, pesta besar-besaran pun berlangsung ramai. Berbagai jenis makanan dan minuman disuguhkan. Tidak ketinggalan pula berbagai seni pertunjukan dipertontonkan. Bahkan dalam pesta itu, raja juga mengadakan lomba sepak raga (bola kaki). Para warga berbondong-bondong ke pesta tersebut, baik sebagai peserta lomba maupun sebagai penonton ataupun undangan. 
 
Di serambi istana, sang Raja bersama permaisuri dan ketujuh putrinya sedang duduk menyaksikan lomba sepak raga. Peserta lomba silih berganti masuk arena lomba memainkan bola. Di tengah keramaian penonton, tiba-tiba seorang pemuda gagah memasuki arena lomba. Pemuda itu mempermainkan bola di kaki, di paha, dan di kepalanya dengan tangkas, gesit dan lincah. Lengan pemuda itu dibalut dengan selendang wanita yang berkibar-kibar seakan-akan menari.
“Ayah! Itulah pemuda yang telah mengalahkan rajawali raksasa!” seru sang Putri sambil menunjuk ke arah pemuda yang berada di tengah arena lomba.
Sang Raja pun tersentak kaget, seakan-akan tidak percaya apa yang sedang disaksikannya.  Ternyata, selain sakti, pemuda itu juga sangat mahir bermain sepak raga. Sang Raja sangat kagum kepada pemuda itu. Setelah pemuda itu keluar dari arena lomba, sang Raja pun memanggil pemuda itu.
  • “Hei, anak muda! Kemarilah sebentar!” seru sang Raja.
  • “Ampun, Baginda! Ada apa Baginda memanggil Hamba”“ tanya pemuda itu penasaran.
  • “Benarkah Engkau yang telah mengalahkan rajawali itu”“ sang Raja balik bertanya.
  • “Benar, Baginda!” jawab pemuda itu.
  • “Dengan apa kamu mengalahkannya”“ tanya sang Raja.
  • “Ampun, Baginda! Hamba menggunakan seutas tali dan sebilah badik yang dapat bergerak sendiri jika diperintah,” jawab pemuda itu.
Mendengar jawaban dari pemuda itu, semua warga yang hadir dan pernah mengaku sebagai penakluk rajawali itu menjadi malu. Akhirnya, sang Raja pun menikahkan pemuda itu dengan putrinya yang selamat dari santapan rajawali. Pemuda si penakluk rajawali pun hidup berbahagia bersama sang Putri di dalam istana.
 
Sumber: http://agathanicole.blogspot.com/2017/11/si-penakluk-rajawali.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Keris: Lebih dari Senjata, Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Aceh

Keris: Lebih dari Senjata, Warisan Budaya Tak Benda Indonesia Identitas dan Asal-Usul Keris Jawa merupakan senjata tikam tradisional yang secara fisik dikenali dari bilah asimetris dengan pola berkelok-kelok atau lurus, serta terbagi menjadi tiga komponen utama yaitu bilah, gagang, dan sarung [S1]. Struktur ini menjadi penanda identitas visual yang membedakannya dari belati atau pisau tikam lainnya di Nusantara [S5]. Material pembuatannya bervariasi, mulai dari logam besi dan baja untuk bilah, hingga kayu, gading, atau logam mulia seperti emas dan perak yang digunakan pada hulu dan warangka [S2]. Pengakuan UNESCO sebagai Karya Agung Warisan Budaya Kemanusiaan Lisan dan Nonbendawi menegaskan posisi keris sebagai warisan budaya yang dilindungi secara internasional [S1]. Secara geografis, keris berakar kuat di Pulau Jawa, dengan sentra produksi dan pengembangan budaya yang terpusat di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur [S5]. Beberapa referensi menekankan bahwa keris merupakan ciri...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Yupa: Jejak Martapura, Pilar Peradaban Purba Kalimantan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Kalimantan Timur

Yupa: Jejak Martapura, Pilar Peradaban Purba Kalimantan? Identitas dan Asal-Usul Kalimantan Timur merupakan provinsi di Indonesia yang memiliki jejak peradaban kuno tercatat sejak masa prasejarah hingga pengaruh kerajaan lokal dan luar [S1]. Secara administratif, wilayah ini mencakup kawasan pesisir timur Kalimantan yang berbatasan dengan Sabah (Malaysia) dan Laut Sulawesi, dengan pusat sejarah utama terletak di kawasan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara [S1]. Peradaban awal di wilayah ini ditandai oleh keberadaan prasasti Yupa, yang menjadi bukti tertulis tertua di Nusantara dan mengungkap keberadaan Kerajaan Martapura (atau Kutai Martapura) pada abad ke-5 Masehi [S1][S2]. Keunikan Kalimantan Timur terletak pada temuan tujuh prasasti Yupa di Muara Kaman, yang ditulis dalam aksara Pallawa berbahasa Sanskerta [C2]. Prasasti ini mencatat silsilah Raja Mulawarman, cucu Kundungga, serta sumbangan emasnya kepada kaum brahmana, yang menjadi bukti awal pengaruh Hindu-Buddha di wi...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Setiap motif yang digunakan dalam ornamen atau peralatan ritual memiliki makna yang berbeda-beda
Ornamen Ornamen
Kalimantan Barat

Setiap motif yang digunakan dalam ornamen atau peralatan ritual memiliki makna yang berbeda-beda Identitas dan Asal-Usul Ragam hias Dayak Kanayatn merupakan identitas visual yang melekat pada masyarakat suku Dayak di Kalimantan Barat, khususnya di Kabupaten Landak [S2]. Penelitian menunjukkan bahwa pusat pengembangan motif ini terdapat di Desa Garu, Kecamatan Mempawah Hulu [S2]. Objek budaya ini berfungsi sebagai simbol yang merepresentasikan kehidupan sosial dan kepercayaan masyarakat setempat [S5]. Keberadaan motif ini tidak terlepas dari konteks kerajinan tangan dan alat ritual yang digunakan dalam aktivitas sehari-hari [S1]. Terdapat variasi bentuk motif yang memiliki makna simbolik berbeda-beda, seperti oncok rabukng yang melambangkan generasi penerus budaya [S2]. Motif lain seperti mata pune merepresentasikan proses pengambilan keputusan melalui mufakat dalam perundingan [S2]. Selain itu, stilasi burung enggang pada pakaian adat juga menjadi elemen penting yang mengandung...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Jamu Jawa: Warisan Mataram, Ikon Mbok Jamu, dan Pengakuan UNESCO
Makanan Minuman Makanan Minuman
Aceh

Jamu Jawa: Warisan Mataram, Ikon Mbok Jamu, dan Pengakuan UNESCO Identitas dan Asal-Usul Jamu tradisional Jawa merupakan warisan budaya Indonesia yang kaya akan nilai kesehatan dan filosofi kehidupan, dipraktikkan secara turun-temurun sejak era Kerajaan Mataram [S1, S3, S4, S5]. Pengobatan alami ini telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Jawa selama berabad-abad [C2]. Pengakuan UNESCO terhadap budaya kesehatan jamu sebagai "Warisan Budaya Takbenda" pada Desember 2023 menegaskan pentingnya kearifan lokal ini [C3]. Jamu tidak hanya sekadar minuman herbal, melainkan simbol kebijaksanaan lokal yang mengutamakan alam sebagai sumber penyembuhan [C12]. Tradisi herbal ini masih bertahan di pedesaan, di mana masyarakatnya terus menjaga kesehatan melalui obat herbal alami warisan leluhur [S2, C6]. Ramuan yang dikenal sejak zaman nenek moyang ini terbukti memberikan manfaat kesehatan yang diakui ilmu pengetahuan, bukan hanya menyembuhkan gejala tetapi juga memperbaiki fun...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Gamelan: Lebih Tua dari Hindu-Buddha?
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Jawa Tengah

Gamelan: Lebih Tua dari Hindu-Buddha? Identitas dan Asal-Usul Gamelan adalah ansambel musik tradisional yang menjadi ciri khas Indonesia, khususnya Pulau Jawa [S1]. Ansambel ini umumnya menampilkan instrumen metalofon, gendang, dan gong [S3]. Gamelan bukan sekadar kumpulan bunyi, melainkan warisan budaya Nusantara yang kaya, kompleks, dan berpengaruh, serta menjadi simbol kebudayaan yang sarat makna dan nilai spiritual [S5, S4]. Alat musik ini telah menjadi identitas bangsa Indonesia dan dikenal luas di seluruh dunia, bahkan telah dipentaskan secara internasional oleh generasi muda [C10, C7, C9]. Sejarah gamelan di Jawa diperkirakan telah ada jauh sebelum masuknya pengaruh Hindu-Buddha [C4]. Beberapa pakar sejarah menduga bahwa gamelan berasal dari kebudayaan asli masyarakat Jawa yang berkembang pada masa prasejarah, sekitar 4000 tahun lalu [C5]. Namun, sumber lain mengaitkan sejarah gamelan di Jawa dengan dominasi budaya Hindu-Buddha di tanah Jawa pada masa lampau [S2, C8]. Ter...

avatar
Kianasarayu