SATE JANDO
Sate Jando (Gasibu) terletak di Jalan Cimandiri tepat di belakang Gedung Sate Bandung, di depan Gedung Fakultas Ekonomi Unpad,yang membuka lapak jualan di sepanjang trotoar. Jika anda sedang melewati jalan Cimandiri, terutama hari minggu pagi, anda akan melihat antrean panjang orang-orang yang sedang menunggu giliran untuk membeli Sate Jando. Menurut penuturan pelanggannya ada yang tengah mengantre 35-60menit!!! "Apa?!", Terbayang sudah saya harus berdiri berapa lama. Hmm..
Pertanyaanya kenapa bisa Sate Jando mampu menarik begitu banyak minat pembeli dan harus rela berdiri berlama-lama?
Takmungkin jikalau takada cerita panjang dibalik itu semua, begini ceritanya:
Menurut Bapak Agung(anak bungsu dari pemilik sate jando yang memiliki dua anak perempuan dan satu laki-laki) begini katanya;
"Sate Jando sendiri telah berdiri sejak tahun 1960, oleh ibu dari Bapak Agung yang bernama Katemi atau biasa dipanggil "Mbok Ayu". Mbok Ayu saat itu berumur 15 tahun ketika ia berjualan Sate Jando. Pada mulanya ia berjualan dengan turun ke jalan, dari satu gang ke gang lainnya, satu daerah ke daerah lainnya menjajakan jualan sate dengan cara di "gendong". Hingga sekitar pada tahun 1980'an, Mbok Ayu mendapat lahan berjualan di Kantin Gasibu, kompleks Gedung Sate hingga tahun 1990'an. Karena ada kebijakan dan masalah yang mengaharuskan Mbok Ayu harus menggulung tikar dari Kantin tersebut dan kembali berjualan ke jalan. Tetapi pada tahun yang sama Mbok Ayu memilih menetap di trotoar belakang Gedung Sate dengan berbagai pertimbangan. Semenjak hari itu, nama Sate Jando terus berkembang, takdiduga, takdisangka, takdinyana Sate Jando semakin diminati dan menjadi fenomena kuliner penikmat daging khususnya sate yang wajib untuk disinggahi. Proses dan usaha tidak pernah membohongi!" Tutur bapak Agung.
"Jadi keberhasilan Sate Jando hingga bisa pada titik ini tidak instant, butuh proses yang panjang serta usaha yang gigih dari Mbok Ayu. Dan hingga hari ini saya dan kakak perempuan saya bernama Sri ikut membantu berjualan ditambah 15 pegawai yang siap bekerja." Lanjutnya.
"Sempat juga pada tahun 2000an karena kepopulerannya Sate Jando membuka beberapa cabang,di The Kiosk Braga Citywalk, Balubur Townsquare dan Kopo. Tetapi tidak berjalan lancar dan pengunjung sepi akhirnya gulung tikar dan hanya membuka di trotoar saja. Karena memang di sini yang paling laris dan memang sudah rezekinya di sini. Namanya usaha, jatuh-bangun untuk sampai pada pilihan yang terbaik. Dan Alhamdulillah hingga sekarang semakin ramai." Tambahnya.
"Sekarang Ibu sudah tidak membantu disini, karena faktor usia dan kesehatan yang mengharuskan ia harus beristirahat. Sekaranglah anak-anaknya yang harus meneruskan". Tuntasnya.
Sate Jando sendiri artinya bukan "Janda" tetapi berasal dari konsumen yang sering menyebut sate payudara sapi tersebut jando. Karena memang menu yang paling laris dan selalu habis adalah Sate Jando (Sate susu sapi/lemak sapi). Dan terkadang para penjual dan pelanggan memelesetkannya dengan gurauan "Janda". Dan kata "Janda" sering dipakai untuk menghibur para pelanggan yang sedang mengantre dengan berkata "Janda nya sedang pulang dulu" ataupun "janda geulis, janda geulis" yang mengundang tawa pelanggan yang sedang mengantre.
Ada tiga macam sate yang bisa dipilih di sini, yaitu sate ayam, sapi, dan payudara sapi. Seporsi sate berisi 10 tusuk termasuk lontong yang disajikan dengan daun pisang. Sate disiram bumbu kacang yang sangat kental, kecap, dan sambal. Seporsi sate bisa dibanderol Rp 22 ribu tambah lontong harganya Rp 24 ribu.
Rasanya yang istimewa, karena daging satenya sendiri tanpa bumbu kacang sudah mengandung rasa gurih, lantaran sebelum dibakar daging sate dilumuri bumbu kuning yang dibuat dari jahe, kunir, sirih, dan rempah lainnya.
Yang spesial pula adalah bumbu kacang Sate Jando berbeda dengan sebagian besar bumbu kacang yang biasa dipakai sate. Teksturnya sangat kental. Rasanya begitu kuat. Tak sedikit pembeli yang meminta tambah bumbu kacang. Karena memang bumbu kacang ini asli kacang sama cabai tanjung, tanpa aron atau ubi
Dalam sehari, khususnya hari minggu Sate Jando mampu terjual hingga 4000 tusuk. Dimana padahari minggu 60 kg daging sapi dan 20 kg beras ludes.
Bahan-bahan untuk Sate Jando seperti; Kacang, gula, kecap, daging, dan daun pisang di beli dari Pasar Ciroyom. Dan Arangnya dikirim langsung dari Cicendo.
Sate Jando sudah mendapat tempat spesial di Kota Bandung. Dan bagi kalian yang penasaran, silahkan datang saja ke Sate Jando. Buka setiap hari, Senin-Sabtu: Jam 09.00 - 14.00 Wib. Khusus hari minggu buka lebih awal, jam 07.00 wib. Pokoknga Sate Jando adalah menu wajib bagi kalian yang datang ke kota Bandung.
Mari!
Sate jando
Apakah sepadan dengan antrian itu dengan rasanya? Kira-kira kalau dibungkus rasanya tetap enak tidak ya? Terimakasih.
SATE JANDO
Tentunya. Sangat sepadan, sangat berkesan,dan sangat menentramkan lidah. Rasanya? Takperlu di ragukan. Jikalau takmau mengantre anda bisa memesannya juga loh.. ada nomor kontak yang bisa anda hubungi. Ayo Pesan! Rasanya tetap enak, karena satenya sendiri sudah berbumbu yang meresap hingga kedalam sel dagingnya XD. Disantap selagi hangat atau setelah dingin masih nikmat. Coba saja. Karena seyogyanya makanan itu dicicip. Salam Nusa Kuliner. Sobat Budaya! Berdaya, Berkarya, Berbudaya!
Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno Candi Miri merupakan salah satu situs candi Hindu yang menjadi bagian dari warisan arsitektur religius Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penyebaran pusat-pusat keagamaan yang strategis pada periode klasik Jawa. Sebagai candi Hindu, Candi Miri mencerminkan adaptasi tradisi arsitektur India yang dikembangkan dengan karakteristik lokal Jawa Kuno, berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Sejarah & Latar Belakang Candi Miri didentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Sumber 4). Letaknya berada di wilayah administratif Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah peradaban Jawa klasik. Terdapat variasi dalam pencatatan lokasi spesifik candi ini. Beberapa sumber merujuk lokasi Candi Miri di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo (Sumber 1, Sumber 2, Sumber...
Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak Di tengah kekayaan kuliner Indonesia yang tak terhingga, Babi Panggang Karo (sering disingkat BPK) muncul sebagai sebuah mahakarya rasa yang menghadirkan jejak budaya dan tradisi dari tanah Sumatera Utara. Lebih dari sekadar hidangan, BPK adalah manifestasi dari identitas masyarakat Karo, sebuah sajian yang kaya akan aroma, rempah, dan cerita. Mengapa BPK begitu istimewa, dan bagaimana ia menjadi simbol kebanggaan kuliner bagi suku Karo? Mari kita telusuri keunikan dan daya pikatnya. ## Andaliman: Jantung Rasa BPK Rahasia di balik kelezatan BPK terletak pada penggunaan rempah-rempah khas, dan yang paling menonjol adalah andaliman. Dikenal juga sebagai "merica Batak" atau "sichuan pepper"-nya Indonesia, andaliman memberikan sensasi rasa yang unik dan tak tertandingi: pedas, sedikit asam, dan yang paling khas adalah efek kebas atau "getar" di lidah (Sumber 2). Rasa yang identik dan aroma yang kuat dari andal...
Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis batik khas Papua yang dikenal dengan corak unik dan makna mendalam. Berbeda dengan batik dari daerah lain di Indonesia, batik Papua, termasuk Kamoro, memiliki ciri khas motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya suku asli di sana (Sumber 1, Sumber 3). Batik ini secara spesifik menampilkan corak khas Timika, yang terinspirasi dari suku Kamoro dan keindahan alam sekitarnya (Sumber 1). Batik Kamoro tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga merupakan representasi semangat dan keberanian penduduk asli Papua (Sumber 2). Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya merefleksikan kehidupan masyarakat adat, menjadikannya salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan. ## Motif dan Makna Batik Kamoro Motif utama batik Kamoro sangat khas dan mudah dikenali. Corak yang sering ditemukan pada batik ini meliputi: ### Simbol Patung Salah satu motif yang paling menonjol pada batik Kamoro adal...
Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...