Di pantai tempat yang sangat baik untuk peristirahatan bagi pengembara, tempat yang dalam bahasa Siau disebut sebagai “Mangilaghaeng”. Dengan kata lain Mangilaghaeng berarti tempat yang baik untuk beristirahat. Pantainya berpasir, ditumbuhi pohon-pohon besar seperti pohondingkalreng, penimbuhing dan bitung yang akar-akarnya timbul di permukaan tanah dan menggelantung, saling kait mengait menyerupai gua yang lengkap dengan untaian akar serabut. Serabut akar itu seringkali digunakan penduduk sebagai ayun-ayunan. Sedangkan orang-orang dewasa dapat melepas lelah setelah melaut atau sesudah berkebun, membaringkan diri mereka di atas hamparan pasir, di bawah rindang pepohonan raksasa yang berjejer itu. Bahkan sampai pagi. Sungguh indah suasana kala itu. Itulah gambaran landscape pantai Laghaeng hingga era 1980an.
Ditelisik jauh ke belakang, yaitu dibalik sejarah berdirinya kampung, di sebelah selatan perkampungan terdapat sekelompok orang yang berasal dari Kampung Makoa. Orang-orang itu menetap sementara waktu, karena keperluan melaut. Tempat yang mereka tinggali dipenuhi pohon sagu yang disebut baru atau bahu di pesisir pantainya. Sedangkan orang-orang membangun daseng mereka di tempat yang agak tinggi. Tempat itu dinamakan Bowong Bahu. Di kemudian hari tempat itu disebut Bombahu atau Bumbahu.
Dalam perjalanan sejarah di kemudian hari, kampung Laghae berubah nama menjadi Laghaeng. Kedua huruf “ng” ditambahkan kemudian pada abad ke 19 oleh Guru Kakalang. Sejak saat itu Kampung Laghae menjadi Kampung Laghaeng. Yang dimaksud dengan Kampung Laghaeng adalah kampung dimana Tangahiang dan Sakeha mendarat. Kampung yang dulunya satu bagian utuh itu, kini terpisah. Warga yang menempati kaki bukit Megembalo menjadi warga kampung Laghaeng, sedangkan warga yang menempati kaki bukit Gumahe yaitu kawasan yang ditumbuhi banyak pohon bahu (sejenis palm untuk membuat sagu), disebut sebagai warga Bumbahu.
Kedua tempat Bumbahu dan Laghaeng dibatasi oleh satu anak bukit yang disebut Peliang sementara di kedua ujung kampung, terdapat tanjung yang disebut Tonggeng Laghaeng dan Tonggeng Bumbahu, keduanya selanjutnya dinamakan Tonggene. Bukit kecil yang menjadi batas pemisah Laghaeng-Bumbahu menjadi tempat dikuburkannya jasad Siondali dan bukit Pahempang yang tersambung dengan tanjung Laghaeng dimana Batu Darisiitu berada, menjadi tempat dimakamkannya Sakeha. Persisnya, makam Sakeha dapat dijumpai di tempat yang detilnya disebut “tamba” dan Siondali makamnya di “Bowong Peliang”. Peliang sendiri berasal dari kata peliyang berarti tabuh, sehingga Peliang dapat diartikan: yang ditabuhkan. Setiap orang yang hendak berjalan melewati Peliang, dilarang berbicara dengan suara keras apalagi ribut, karena di tempat ini sangat mateling.
Di Mangilaghaeng hiduplah sepasang suami isteri bernama Sakeha dan Siondaľi dengan beberapa keluarga merupakan keturunan Gehiwu yang awalnya menetap di puncak Bukit Megembalo. Sakeha dikenal sebagai pria yang memiliki kekayaan melimpah tetapi rendah hatinya. Isterinya, Siondaľi wanita yang amat cantik, memiliki rambut lurus sampai ke tumit dan kulitnya putih mulus, tidak heran kecantikannya memikat hati banyak orang. Dalam hal bergaul, Sakeha tidak memilih sahabat, ia bergaul dengan siapa saja karena semua orang dipandangnya baik. Sungguh pikirannya selalu positif. Sikap itulah yang membuat putri Siondali takluk dan mau dinikahi oleh Sakeha. Kedua sejoli itu hidup damai dan sejahtera, penuh kearifan dan kekayaan materi. Sakeha membuat sebilah belati dari emas murni dan isterinya mengoleksi ratusan barang-barang emas, seperti kalung, anting, gelang, serta perhiasan-perhiasan lainnya yang diletakkannya pada sebuah piring putih (pinggang uhise).
Sementara itu di Bumbahu hidup sekelompok orang yang seringkali turun ke pantai Mangilaghaeng untuk melepas lelah. Sakeha yang bertubuh kekar itu dijuluki “bahani” dan berteman karib dengan Mangintari dari Bumbahu. Mangintari sudah lama mengidap penyakit kulit sehingga tubuhnya bersisik. Dalam persahabatan kedua lelaki itu Mangintari kemudian merasa terpikat hatinya melihat kecantikan Siondal’i.
Sejatinya Sakeha dengan belati emasnya, mampu menarik murninya cinta Siondali. Sebaliknya, Mangintari merasa jatuh cinta pada Siondali meski hanya bertepuk sebelah tangan. Mangintari menyusun siasat untuk melenyapkan Sakeha dari muka bumi. Diajaknya Sakeha mencari ikan (mubae) dengan satu perahu didayung bersama.
Ketika hendak melaut bersama, Mangintari mengambil belati emas milik Sakeha kemudian menjatuhkannya ke dasar laut, karena pikirnya, belati itulah yang selama ini menjadi sumber segala kesaktian Sakeha sehingga dengan mudahnya memperoleh kekayaan dan isteri yang cantik. Sakeha kaget melihat perbuatan Mangintari, kemudian bertindak spontan menyelam ke dasar laut mengejar belatinya dengan menggunakan tolu di kepalanya. Sakeha tak sempat membuka tolu yang dikenakannya saat itu.
Sebelum belati emasnya menyentuh dasar laut, belati itu terlebih dulu menancap di ujung tolu yang dikenakan Sakeha, kemudian dirinya kembali ke permukaan dengan belati sakti yang tertancap kuat di tolu-nya.
Sementara Sakeha sedang berjuang keras mengejar belatinya tadi, Mangintari buru-buru kembali ke daratan dan memberitahukan kepada seluruh penduduk di Laghaeng maupun penduduk bahwa Sakeha telah tenggelam ke dasar laut dan dimangsa ikan hiu. Mangintaripun pergi hendak meminang janda Sakeha, si Siondal’i. Mendengar kabar itu, Siondal’I menangis semalam suntuk lalu menolak mentah-mentah lamaran Mangintari.
Ketika subuh datang, Siondali naik ke Pahempang melalui “dal’eng batu” membawa semua harta emasnya yang diletakkan di piring uhise. Dari atas Pahempang ia lalu menangis sekuat-kuatnya sehingga didengar oleh semua penduduk, kemudian membuang dirinya dan seluruh emasnya ke tubir Kampung Laghaeng. Dan hingga kini, tak seorangpun menemukan jasad Siondalri dan harta itu kembali. Dalam tangisnya Siondali berpesan bahwa harta kekayaannya tidak berguna sama sekali, lebih baik dirinya kehilangan emas daripada kehilangan kekasih hatinya yang selama ini hidup bersama penuh cinta. Sejak saat itu dikenallah pepatah Laghaeng “Maning Bulraeng Sindepa, Tamakasulrung Pudalahiking Mapia”.
Padahal, sesungguhnya Sakeha ditolong oleh Hiu raksasa (Tangahiang) dan selama tiga hari tiga malam mereka pergi ke semua nusa untuk menyampaikan kabar sekaligus anjuran perdamaian tentang jasa pertolongan Hiu kepada anak manusia (Sakeha), sehingga seluruh manusia di nusa-nusa sejak saat itu dilarang memburu dan makan daging Hiu. Jika anjuran ini tidak diindakan, maka hukumannya adalah manusia akan dimangsa Hiu, sebaliknya jika anjuran ini ditegakkan, maka manusia akan ditolong dari bahaya di lautan.
Setelah melakukan misi mulia itu, pada petang di hari ketiga, tiba-tiba pantai Laghaeng dan segala isinya dihantam ombak yang amat besar seperti sedang mengalami tsunami. Ombak itu terjadi karena amukan banyak ikan hiu yang berseliweran dan menggelorakan air laut di pantai Laghaeng. Tsunami itu memporak-porandakan setiap sudut kampung sampai hancur lebur. Begitu banyak ikan-ikan seperti ikan layang dan ikan bergerigi panjang dan tajam (ikan selong) menancap dan menembus batang pohon-pohon pisang milik warga. Warga mengungsi ke kaki bukit Magembalo dan kaki bukit Gumahe. Dalam pengungsian yang mendadak itu, warga mengalami kekurangan makanan dan ikan-ikan yang menancap di pohon pisang kemudian diambil warga untuk dikonsumsi. Sejak saat itu kampung baru yang ditempati warga eksodus itu diberi nama “laghae” yang artinya masaklah.
Warga Laghaeng yang mengungsi kala itu melihat langsung aksi gagah perkasa Sakeha yang mengendarai Tangahiang dan mendamparkan dirinya di sebuah batu datar yang terletak samping Batu Darisi (batu berdiri). Mulut Tangahiang terbuka lebar setinggi batu darisi itu sembari menakut-nakuti penduduk yang sedang lari tunggang langgang. Sakeha kemudian turun dari punggung Tangahiang dengan melompat ke atas batu datar itu dan menenangkan seluruh warga agar tidak panik.
Sebagai rasa terimakasihnya pada Tangahiang, Sakeha mencari bunga Manuru dicampur dengan pohon-pohon wewangian lainnya diramu menjadi air wewangian yang dimandikan kepada Tangahiang. Hiu raksasa itupun menjadi betah tinggal di Laut Laghaeng. Tangahiang memberi tanda kepada Sakeha bahwa dalam tiga hari Sakeha tidak boleh mandi di laut.
Sakeha tidak membalas perbuatan jahat yang dilakukan Mangintari terhadap dirinya. Karena jelas tidak dapat menghidupkan kembali isteri tercintanya. Hanya saja, Sakeha telah belajar banyak perilaku sahabatnya yang sudah melakukan perbuatan jahat dan tetap mengampuni dan mengasihani Mangintari seperti saudaranya sekandung.
Setelah tiga hari yang diisyaratkan oleh Tangahiang, sekelompok Hiu kembali menyerang pantai Laghaeng dan ombak besar menghantam semua yang tinggal di kampung. Pada saat itulah, Mangintari lenyap ditelan ombak dan dimakan Hiu secara mengenaskan. Sikap patriotik dan ksatria Sakeha ini, menjadi teladan bagi keturunannya di Kampung Laghaeng.
sumber:
Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa,tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan harimau. Tapi bagi kami, hutan ini seperti halaman belakang rumah sendi...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.