Produk Arsitektur
Produk Arsitektur
Rumah Tradisional Sumatera Barat Kabupaten Mentawai
Rumah Uma Adat Mentawai
- 28 April 2014

Rumah tradisional / adat suku Mentawai masih banyak kita di jumpai di kabupaten Kepulauan Mentawai, provinsi Sumatera Barat, Indonesia.

Uma biasanya dihuni oleh 5 hingga 7 kepala keluarga dari keturunan yang sama. Satu diantaranya anggota yang tinggal dalam sebuah rumah disebut Sikerei. Sikerei itulah yang oleh suku Mentawai dianggap sebagai tetua. Uma menjadi pusat kehidupan bagi suku Mentawai. Di dalam Uma itulah, suku Mentawai tinggal, menyelenggarakan pertemuan dan melaksanakan berbagai macam acara adat, seperti penikahan. Uma juga menjadi tempat untuk menyembuhkan anggota keluarga jika ada yang sakit.

Uma adalah rumah besar yang berfungsi sebagai balai pertemuan semua kerabat dan upacara-upacara bersama bagi semua anggotanya. Uma terbuat dari kayu kokoh dan berbentuk rumah panggung yang dibawahnya digunakan sebagai tempat pemeliharaan ternak seperti babi.

Selain bangunan rumah utama atau uma ada macam bangunan lain yang di sebut:

Lalep tempat tinggal yang di peruntukan suami istri yang pernikahannya sudah dianggap sah secara adat. Biasanya lalep terletak di dalam Uma.

Rusuk suatu pemondokan khusus, tempat penginapan bagi anak-anak muda, para janda dan mereka yang diusir dari kampung atau orang-orang yang di asingkan karena melanggar aturan adat suku mentawai.

Kontruksi Bangunan Uma
Secara umum konstruksi uma ini dibangun tanpa menggunakan paku, tetapi dipasak dengan kayu serta sistem sambungan silang bertakik.

Bangunan uma menyerupai atap tenda memanjang yang dibangun diatas tiang-tiang, karena atap yang terbuat dari rumbia yang menaungi menjulur ke bawah sampai hampir mencapai lantai rumah. Pohon sagu atau rumbia merupakan bahan penutup atap dari daun daun pohon rumbia yang banyak tumbuh di rawa atau di pantai. Kelebihan menggunakan atap rumbia yaitu terlihat alami, menimbulkan suasana baru, ringan dan relatif murah. Sedangkan kekurangannya ialah daya tahan maksimal 4 tahun, sulit melakukan upaya perbaikan atau pergantian, dan rawan bocor bila terjadi hujan lebat.

Kerangka bangunan, terdiri dari lima perangkat konstruksi dari tonggak-tonggak, balok-balok, dan tiang-tiang penopang atap. Kerangka bangunan ini dibangun berjejer melintang ke belakang dan saling berhubungan dengan balok memanjang.

Kekuatan struktur Uma dihasilkan oleh teknik ikat, tusuk dan sambung sedemikian rupa. Bahan Uma diambil dari alam sekitar dan dipilih yang bermutu baik.

Luas rumah persatuan kepala keluarga dengan rata-rata panjang : 31 m, lebar : 10 m, dan tinggi = 7 m. Pembagian ruangannya cukup sederhana, di bagian depan adalah serambi terbuka yang merupakan tempat untuk menerima tamu. Sedang pada bagian dalam digunakan untuk ruang tidur keluarga. Di ruangan ini terdapat pula perapian yang digunakan untuk memasak suatu keadaan yang wajar mengingat kegiatan siang hari bagi laki-laki dihabiskan di ladang atau di hutan, sementara istrinya bertugas di kebun halaman dan memasak.

Bangunan uma ini terdiri atas dua bagian ruangan besar. Di depan ada beranda yang luas tanpa dinding yang berfungsi untuk ruang tamu dan ruang keluarga berkumpul dan bercakap-cakap pada malam hari. Di belakangnya, ruangan yang berdinding menjadi ruang tidur dan dapur, tanpa sekat.

Sisi depan rumah ditutup dengan dinding atap rumbia yang terbentang kebawah sampai batas 1 m (ditengah (tempat masuk) 1,5 m) dari lantai. Rumbia atau disebut juga (pohon) sagu adalah nama sejenis palma penghasil pati sagu.

Dinding sebelah dalam diatas tempat masuk diperkokoh dengan selembar papan yang dihiasi gambar (tagga) atau ukiran, sedangkan ruangan dibawahnya dan sisi kanan dan kirinya tidak berdinding, yang disebut serambi depan.

Kolong
Terdapat dibawah rumah tempat tinggal dan tidak memiliki dinding. Kolong ini dimanfaatkan sebagai tempat untuk berternak babi.

Ornamen/ragam hias
Pola-pola ornamen atau dekorasi rumah Mentawai, sangat dipengaruhi oleh pengaruh India wujudnya berupa bentukan sulur-sulur yang bentuk tumbuh-tumbuhannya dengan dedaunan dan bunga-bungaan.

PEMBAGIAN RUANG UMA
Di muka tempat masuk yang sebenarnya. Disini terdapat batu pengasah kapak dan pisau, dan ditaruh bumbung bambu yang besar untuk dipakai para wanita dan anak- anak untuk mengambil air dari anak sungai yang dekat dengan rumah. Sedangkan para pria memakai tempat ini pada siang hari yang pengap dan bercuaca mendung untuk mengurus perkakas.

Dinding sebelah dalam diatas tempat masuk diperkokoh dengan selembar papan yang seringkali dihiasi ukiran atau gambar (tangga).Ruangan dibawahnya terbuka, dan sisi kanan dan kirinya bagian pertama dari rumah yang berada dibawah naungan atap tidak berdinding, yang biasa disebut dengan serambi depan atau kagareat dengan panjang lima meter.

1. Diantara tiang-tiang dipasang bangku-bangku disebelah kiri dan kanannya.

2. Beranda depan difungsikan untuk berkumpul, mengobrol dan menerima tamu.

Ruang dalam pertama, cahaya diperoleh lewat lubang pintu, ruangan yang dimaksud berwujud seperti bangsal yang panjang dan gelap dengan dinding papan yang menutupi sisi samping dan belakangnya. Kecuali lewat lubang pintu tingkap, kadang cahaya diperoleh lewat celah yang terjadi dengan jalan melepaskan salah satu papan dinding, dengan cara seperti ini jg dapat dipergunakan untuk masuk ke bilik-bilik samping (jairabba) yang berada di bawah bagian samping atap, dengan lantai panggung tersendiri. Pada panggung seperti ini ditaruh tuddukat, yaitu perangkat keuntungan ynag terdiri dari empat batang kayu yang dilubangi dengan cara membuat celah dan dengan panjang satu setengah sampai tiga meter.

Pertengahan rumah, terdapat konstruksi balok yang melintang. Dilantai sebelah depannya ada perapian yang lebarnya mengisi seluruh lorong tengah, berfungsi sebagai tempat memasak seluruh kelompok saat perayaan. Perapian terbuat dari tanah yang dipadatkan dalam segi empat yang dibentuk oleh balok-balok yang saling dihubungkan dalam sistem pasak.

Ruangan uma terbagi menjadi 2 bagian, yaitu :
a. Bagian depan : adalah serambi terbuka yang merupakan tempat untuk berkumpul, mengobrol, dan menerima tamu. Di malam hari tempat ini dipakai untuk bercerita atau bercakap-cakap tentang kejadian sehari-hari, serta di gunakan sebagai ruang tidur bagi para pria.

b. Bagian dalam : digunakan untuk ruang tidur keluarga. Di ruangan ini terdapat pula perapian yang digunakan untuk memasak. Pada bagian tengah Uma terdapat ruangan untuk berkumpul dan dan menarikan tarian adat Mentawai.

Jenis-jenis ruangan pada Uma Berdasarkan Urutan dari Depan Sampai Belakang
1. Panggung : terbuat dari hamparan papan-papan yang tidak halus, yang terletak di sisi depan rumah. Disini terdapat batu pengasah, kapak, dan pisau. Juga ditaruh bumbung bambu yang besar-besar yang dipakai para wanita dan anak-anak untuk mengambil air dari anak sungai yang berada di dekat rumah, sedangkan para pria memakai tempat itu pada siang hari untuk bekerja mengurus perkakas.

2. Serambi depan : tempat untuk berkumpul dan tempat tidur para pria dan juga pada sisi kanan dan kirinya ada bangku kayu untuk menerima tamu.

3. Ruang dalam pertama : disini terdapat ruangan yang berwujud bangsal panjang dan gelap dengan dinding kurang lebih setinggi orang yang menutupi sisi samping dan belakang. Pencahayaan dalam ruang diperoleh lewat lubang pintu atau dengan dilepaskannya salah satu papan dinding. Biasanya ruangan ini digunakan untuk menjamu tamu dan tempat segala rapat dan upacara adat digelar.

4. Ruang dalam kedua : di berikan sekat dengan kayu-kayu sehingga memisahkan ruang utama. Dilantai sebelah depannya terdapat perapian yang lebarnya mengisi seluruh lorong tengah tempat masuk pada waktu perayaan. Disisi kanan perangkat konstruksi balok melintang ketiga ini, tempat untuk menggantungkan bejana-bejana sajian untuk upacara memohon keberhasilan dalam berburu. Di lorong tengah, anatara perapian dan dinding belakang bangsal, lantainya terbuat dari papan lebar yang diserut sampai halus, yang merupakan tempat untuk menari.
 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker
Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu