Provinsi Nusa Tenggara Timur merupakan sebuah provinsi kepulauan yang terletak dibagian tenggara Indonesia. Sesuai dengan namanya, provinsi satu ini tersusun dari beberapa pulau kecil, atau lebih tepatnya sekitar 500 pulau dengan beberapa pulau berukuran besar, seperti Pulau Rote, Pulau Sumba, Pulau Flores, Pulau Alor, Pulau Timor, Pulau Sabu, Pulau Lembata, Pulau Adonara, Pulau Komodo, Pulau Solor, dan Pulau Palue.
Karena terbagi menjadi beberapa pulau, kebudayaan dari masyarakat Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) juga sangat beragam. Setiap pulau yang masing-masing dihuni oleh suku-suku tertentu mempunyai perbedaan yang cukup spesifik dalam segi kebudayaan. Untuk diketahui, bahwa sedikitnya terdapat 7 suku besar yang menjadi suku mayoritas para penduduk Provinsi NTT yang diantaranya adalah suku Antoni, Sumba, suku Lamaholot, suku Belu, suku Manggarai, suku Rote, dan suku Lio. Masing-masing dari suku tersebut mempunyai peradaban dan ikonnya masing-masing, termasuk dalam hal ikon kebudayaan berupa rumah adat.
Adapun bila kita bicara mengenai rumah adat Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) secara umum, maka yang menjadi topik utama yaitu rumah adat dari suku Ende Lio atau suku Lio yang bernama "Rumah adat Musalaki". Rumah adat ini menjadi ikon rumah adat Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) karena disebut mempunyai beberapa keunikan baik itu dari segi desain arsitekturnya ataupun dari nilai-nilai filosofis yang terkandung didalamnya. Nah, seperti apakah keunikan dari rumah adat tersebut? berikut ini penjelasannya.
Struktur dan Arsitektur Rumah Adat
Nama Musalaki sebenarnya berasal dari kata dalam bahasa Ende Lio yakni "Mosa" dan "Laki", Mosa artinya adalah ketua atau kepala, sementara Laki artinya adalah Adat atau suku. Jadi sesuai dengan nama rumah adat tersebut, maka rumah musalaki ini hanya difungsikan sebagai tempat tinggal bagi kepala suku atau ketua adat Ende. Berdasarkan dari penelusuran data, rumah adat ini juga selalu digunakan sebagai tempat bermusyawarah untuk memutuskan suatu keputusan, sebagai tempat digelarnya berbagai upacara ritual adat, dan kegiatan lainnya yang masih berhubungan dengan adat atau keagamaan.
Dalam menunjang fungsinya tersebut, rumah adat Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini disusun dengan ukuran besar serta struktur bangungannya yang kokoh. Material bangunannya sendiri hampir secara keseluruhan berasal dari alam, mulai itu dari batu-batuan, kayu, sampai daun-daunan. Material-material tersebut dipakai untuk semua bagian dari struktur rumah adat bernama Musalaki ini.
Struktur rumah Musalaki ini sendiri terbagi menjadi 4 bagian utama, yakni Kuwu Lewa (Pondasi), Maga (Lantai), dan Atap.
A. Kuwu Lewa atau Pondasi
Kuwu Lewa atau pondasi rumah adat Musalaki ini terbuat dari batu lonjong yang dipasang secara vertikal atau berdiri. Pandasi batu ini sebenarnya bukanlah pondasi utama. Rumah adat provinsi NTT ini tetap harus ditopang oleh pondasi kayu, sedangkan pondasi batu hanya dipasang sebagai pencegah rubuhnya rumah jika suatu saat terjadi bencana gempa. Pondasi kayu ini sendiri selain berfungsi sebagai tempat bertumpunya lantai juga mempunyai fungsi sebagai penyokong rangka atap rumah.
B. Maga atau Lantai
Karena merupakan rumah adat dengan struktur panggung, rumah adat Musalaki ini mempunyai lantai gantung yang terbuat dari beberapa susunan papan-papan panjang. Papan pada lantai rumah adat disusun agak jarang guna menjaga kelembaban di dalam rumah. Susunan papan sendiri pun dibuat satu arah sehingga tidak akan menimbulkan bunyi ketika dipijak. Tingginya lantai tersebut berkisar antara 60 sampai dengan 100 meter dari permukaan tanah.
Lantai pada rumah adat Musalaki dibedakan menjadi 2 (dua) jenis berdasarkan tingginya. Ada lantai teras atau tenda teo yang berada dibagian luar dan lantai koja ndawa atau ruang dalam. Lantai tenda teo biasanya lebih tinggi dibandingkan dengan lantai koja ndawa.
C. Atap
Salah satu bagian unik dari rumah adat Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terletak pada struktur atapnya. Atap rumah yang terbuat dari susunan jerami ini bertumpu dirangka atap yang terdiri dari saka ubu atau bubungan, kayu palang, jara atau kuda-kuda, dan leka reja. Rangka tersebut membentuk struktur atap yang terlihat sangat unik dengan bentuknya yang menjulang tinggi ke atas.
Sumber:
http://www.kamerabudaya.com/2017/09/rumah-musalaki-rumah-adat-dari-nusa-tenggara-timur-ntt.html
Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno Candi Miri merupakan salah satu situs candi Hindu yang menjadi bagian dari warisan arsitektur religius Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penyebaran pusat-pusat keagamaan yang strategis pada periode klasik Jawa. Sebagai candi Hindu, Candi Miri mencerminkan adaptasi tradisi arsitektur India yang dikembangkan dengan karakteristik lokal Jawa Kuno, berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Sejarah & Latar Belakang Candi Miri didentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Sumber 4). Letaknya berada di wilayah administratif Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah peradaban Jawa klasik. Terdapat variasi dalam pencatatan lokasi spesifik candi ini. Beberapa sumber merujuk lokasi Candi Miri di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo (Sumber 1, Sumber 2, Sumber...
Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak Di tengah kekayaan kuliner Indonesia yang tak terhingga, Babi Panggang Karo (sering disingkat BPK) muncul sebagai sebuah mahakarya rasa yang menghadirkan jejak budaya dan tradisi dari tanah Sumatera Utara. Lebih dari sekadar hidangan, BPK adalah manifestasi dari identitas masyarakat Karo, sebuah sajian yang kaya akan aroma, rempah, dan cerita. Mengapa BPK begitu istimewa, dan bagaimana ia menjadi simbol kebanggaan kuliner bagi suku Karo? Mari kita telusuri keunikan dan daya pikatnya. ## Andaliman: Jantung Rasa BPK Rahasia di balik kelezatan BPK terletak pada penggunaan rempah-rempah khas, dan yang paling menonjol adalah andaliman. Dikenal juga sebagai "merica Batak" atau "sichuan pepper"-nya Indonesia, andaliman memberikan sensasi rasa yang unik dan tak tertandingi: pedas, sedikit asam, dan yang paling khas adalah efek kebas atau "getar" di lidah (Sumber 2). Rasa yang identik dan aroma yang kuat dari andal...
Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis batik khas Papua yang dikenal dengan corak unik dan makna mendalam. Berbeda dengan batik dari daerah lain di Indonesia, batik Papua, termasuk Kamoro, memiliki ciri khas motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya suku asli di sana (Sumber 1, Sumber 3). Batik ini secara spesifik menampilkan corak khas Timika, yang terinspirasi dari suku Kamoro dan keindahan alam sekitarnya (Sumber 1). Batik Kamoro tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga merupakan representasi semangat dan keberanian penduduk asli Papua (Sumber 2). Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya merefleksikan kehidupan masyarakat adat, menjadikannya salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan. ## Motif dan Makna Batik Kamoro Motif utama batik Kamoro sangat khas dan mudah dikenali. Corak yang sering ditemukan pada batik ini meliputi: ### Simbol Patung Salah satu motif yang paling menonjol pada batik Kamoro adal...
Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...