Bulan Syura merupakan bulan yang penting bagi warga adat di Dataran Tinggi Dieng. Pada bulan ini di dataran Tinggi Dieng digelar sejumlah tradisi yang diantaranya adalah ritual menanam kepala dan kaki kambing hingga kirab keliling kampung selama tujuh hari tiap malam jum’at. Bagaimana dan seperti apa prosesi tersebut berlangsung, itulah yang akan Arsip Budaya Nusantara paparkan dalam postingan kali ini. Selamat menyimak…
Diawali dengan mencari kambing dengan ciri-ciri tertentu, warga adat di Dataran Tinggi Dieng bersiap untuk menggelar prosesi upacara yang rutin dilaksanakan di bulan Syura yakni ritual pendem kepala dan kaki kambing. Kambing yang digunakan untuk ritual ini memang harus kambing khusus yaitu kambing yang memiliki warna bulu hitam dengan bulu bergaris putih melintang di tubuhnya yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai wedus kendit. Setelah ciri-ciri kambing seperti di atas ditemukan maka, barulah kemudian hari di mana ritual tersebut ditentukan.
Ritual penguburan kambing kendit sendiri merupakan puncak dari ritual yang dilakukan sebelumnya yaitu berkeliling kampung selama 7 kali tiap malam jum’at oleh warga dari jam 11.00 hingga jam 01.00 pagi. Acara ini dimaknai selain menajaga keamanan lingkungan juga untuk menolak bendu (bencana). Setelah genap tujuh jum’at maka barulah kemudian ditentukan hari dimana akan dilaksanakannya ritual penguburan kepala dan kaki kambing kendit. Ketika hari itu tiba maka sejak pagi hari, diantara kabut tebal dan udara dingin yang menusuk sumsum semua warga keluar dari rumah masing-masing dengan membawa nasi tumpeng, golongan, jajanan pasar, serta ingkung (daging ayam) menuju sebuah panggung yang berdiri di halaman salah satu sesepuh Desa dimana upacara adat tersebut akan dilaksanakan. Selain beberapa makanan tradisional selaku pelengkap upacara, dibawa serta pula kambing dengan ciri-ciri yang disebutkan di atas sebagai hewan yang akan dijadikan tumbal dalam perayaan ritual syura ini. Setelah semua warga berkumpul dari kalangan anak-anak, muda, tua serta berbagai kelompok kesenian khas desa tersebut seperti Tari tradisional Rampak Yakso, Rudad hingga rebana maka ritual ini pun siap untuk dilaksanakan. Sesaji untuk keperluan upacara dibariskan di atas meja tepat di depan arena ritual. Setelah semua sesaji tertata rapi, maka dengan dipimpin oleh beberapa sesepuh desa, kambing yang dimaksud pun kemudian disembelih.
Setelah mati, kambing pun kemudian dipotong leher dan keempat kakinya lalu dibungkus dengan kain kafan secara terpisah, sementara tubuhnya kemudian diolah oleh para ibu untuk nantinya dihidangkan pada makan bersama. Oleh ratusan warga, kepala dan keempat kaki kambing tersebut diusung keliling kampung. Untuk kepala kambing dikuburkan ditengah-tengah Desa pemukiman warga tersebut. Setelah itu dilakukan doa dipimpin oleh beberapa sesepuh desa. Sedangkan keempat kaki kambing dalam mengubur ditempat yang berbeda tepatnya disudut-sudut wilayah desa tersebut.
Makna dari penguburan kepala kambing ini konon adalah bahwa dengan dikuburkannya kepala kambing di tengah-tengah pemukiman diharapkan nantinya tidak ada lagi rasa permusuhan dan besar kepala di antara warga. Sedangkan makna simbolis daripada pemguburan kaki kambing itu sendiri adalah untuk menjaga segala mentuk musibah yang akan mendatangi warga desa tersebut. Selain itu dimaknai juga sebagai cara untuk menjaga kerukunan warga, agar tidak saling berkelahi dan selalu dalam keterntaraman.
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...
Panduan Memahami Asal Usul Gresik: Dari Jejak Sejarah hingga Etimologi Nama Gresik, yang dijuluki Kota Wali karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Jawa, merupakan salah satu wilayah bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa. Memahami asal usul daerah ini tidak hanya menyangkut pengetahuan kronologis semata, tetapi juga memerlukan analisis terhadap berbagai lapisan sumber—dari prasasti kuno, naskah babad, hingga catatan kolonial. Panduan ini dirancang untuk membantu pembaca menavigasi kompleksitas historiografi Gresik secara sistematis, mulai dari etimologi nama hingga penetapan identitas administratifnya sebagai kabupaten. Sumber Sejarah dari Masa Jawa Kuno Dalam tradisi historiografi Indonesia, Gresik menempati posisi unik karena keberadaan sumber-sumber tertulis dari periode Jawa Kuno. Dua dokumen kuno menjadi landasan utama bagi para sejarawan dan budayawan dalam menelusuri akar historis wilayah ini (Sumber 3). Pertama, Babad Hing Gresik merupakan naskah sejar...
Rambu Solo': Ketika Kematian Menjadi Perayaan Perjalanan Bagaimana mungkin kematian—yang di banyak budaya menjadi momen duka dan kehancuran—diubah menjadi sebuah pesta yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Bagi Suku Toraja di Sulawesi Selatan, kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan terakhir yang memerlukan persiapan ritualistik yang rumit dan mahal. Inilah inti dari Rambu Solo' , upacara pemakaman dalam ajaran Aluk Todolo yang mengubah penguburan menjadi sebuah spektakul budaya penuh makna. Menunggu di Antara Dua Dunia Paradoks pertama dari Rambu Solo' terletak pada pengertian kematian itu sendiri. Dalam logika Aluk Todolo —kepercayaan leluhur Suku Toraja—seseorang yang baru meninggal secara fisik belum benar-benar "mati" secara spiritual. Mayat akan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah, bukan untuk segera dikubur, melainkan menunggu waktu yang dianggap tepat (Sumber 4). Masa tunggu ini bisa berlangsung berm...