Semarak #pesonalebaran tidak saja terlihat di sejumlah objek wisata, ada yang menarik berlangsung di Gampong Sibreh Keumudee, Aceh Besar, pada Selasa (27/6/2017). Tradisi reusam atau ziarah ke kuburan yang diisi dengan gotong royong bersama ini, menurut Keuchik Gampong Sibreh Keumudee Yasser sudah berlangsung sejak lama sekitar tahun 1920-an dan kini masih terus dilestarikan setiap tahunnya pada hari raya ketiga.
“Reusam ini sudah jadi kebiasaan masyarakat Sibreh Keumudee untuk ziarah kubur, serta membawa bu (nasi) kulah yang dibagi bagi anak-anak yatim sebagai bentuk khanduri bersama,” sebut Yasser.
Adanya tradisi dan budaya tersebut, menurut Yasser mampu memberikan pesan bagi anak-anak untuk mengingat menziarahi kubur orang tuanya kelak.
Selain itu, kegiatan ini juga diisi dengan tausyiah dari Tengku dan juga menjadi momen silaturrahmi masyarakat disini yang baru pulang kampung serta mengisi dengan gotong royong bersama membersihkan kubur yang yang ada di komplek pemakaman umum ini.
Sebelumnya, Disbudpar Aceh promosikan paket wisata unik lainnya sesuai dengan karakteristik daerah dan budaya Aceh yang kental dengan syiar Islam, yaitu Paket Wisata Pesona Lebaran di Aceh.
Paket Wisata Pesona Lebaran ini dirancang khusus Disbudpar Aceh dengan melibatkan pelaku industri pariwisata Aceh, khususnya tour operator untuk memanfaatkan momentum liburan keluarga sekaligus Hari Raya Idul Fitri dengan suguhan berbagai daya tarik wisata, khususnya pada objek destinasi wisata budaya dan kuliner.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Reza Fahlevi menyebutkan dalam rangka memperkenalkan dan mempromosikan Aceh kepada wisatawan, setiap momen unik dan khusus, seperti suasana Ramadhan dan lebaran di Aceh menjadi prioritas untuk dipromosikan dengan mempersiapkan paket-paket wisata menarik yang bersifat tematis, seperti Pesona Ramadhan dan Pesona Lebaran di Aceh.
“Lebaran di Aceh tentu sangat berbeda dengan daerah-daerah lainnya, karena keunikannya yang sarat dengan berbagai aktifitas spiritual sebagai sebuah tradisi menarik, sehingga menjadi ajang meluapkan suka cita untuk membawa keluarga melancong ke berbagai destinasi wisata menarik selama di Aceh,” jelasnya.
Reza juga menyebutkan, ada banyak tradisi yang menarik untuk diikuti selama lebaran di Aceh, seperti pawai malam takbiran, “teut beude” atau meriam bambu yang saling bersahutan antar kampung, shalat Ied bersama keluarga, bersilahturahmi, berziarah, menikmati sajian kuliner khas lebaran dan mengunjungi objek-objek wisata menarik dan bersejarah lainnya.
Selain itu, untuk objek-objek wisata menarik lainnya, Reza juga menyebutkan ada 10 top destinasi yang wajib dikunjungi selama lebaran di Aceh meliputi Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Museum Tsunami Banda Aceh, PLTD Apung Banda Aceh, Pantai Lampuuk Aceh Besar, Monumen Kilometer Nol RI Sabang, Pantai Iboih Sabang, Pantai Anoi Itam Sabang, Danau Lut Tawar Aceh Tengah, Pacu Kude Gayo dan Komplek Kerajaan Samudera Pasai Aceh Utara. (fau/disbudparaceh/foto: wanda)
Sumber: https://www.gomuslim.co.id/read/news/2017/06/30/4540/tradisi-reusam-ziarah-semarakkan-pesona-lebaran-di-aceh.html
#SBJ
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...