Sebernanya wujud dari geblek ini hampir sama seperti cireng makanan tradisonal Jawa Barat, yang membedakan hanya komposisinya
· Wajan, Sotil atau serok
· Kompor Gas
· Panci, nampan atau tampah
· Tempat mengaduk adonan dan sendok pengaduk adonan
· Cobek dan ulekan
· 1/4 kelapa atau 2 ons kelapa
· 1/2 sendok makan ketumbar.
· Penyedap rasa secukupnya sesuai selera
· 5-8 siung bawang putih
· Garam secukupnya sesuai selera
· 0,5 kilo gram tepung kanji
· Air secukupnya untuk adonan diatas
· 2 liter Air digunakan untuk merebus adonan
· Minyak goreng
1. Giling atau tumbuk semua bumbu yang sudah dipersiapkan tadi (bawang putih, ketumbar, garam, penyedap rasa)
2. Kemudian Rebus 2 liter air sampai mendidih
3. Aduk atau ampurkan antara tepung kanji dan parutan air kelapa.
4. Tambahkan air yang sudah matang sedikit demi sedikit jangan sampai terlalu lembek .
5. Masukkan bumbu yang sudah ditumbuk tadi kedalam adonan tepung kanji dan parutan air kelapa tadi
6. Bagi adonan tersebut menjadi tiga bagian agar lebih mudah saat dimasukkan ke dalam air mendidih.
7. Bentuklah salah satu adonan yang sudah dibagi menjadi tiga tadi menjadi bulat. lalu masukkan adonan ke dalam air mendidih selagi masih direbus tadi.
8. Rebuslah adonan tadi selama 3 menit lalu angkat.
9. Letakkan adonan pada nampan atau tampah yang sudah direbus, tunggu sampai adonan mendingin
10. Setelah dingin, potong-potong mengunakan pisau hingga terurai semua dan setelah terpotong-potong tunggu sebentar hingga panas sedikit berkurang.
11. Kemudian uleni atau plintir adonan yang sudah terpotong tadi hingga bagian yang masak dan bagian tengah menjadi tercampurr rata. Plintir atau leni terus sampai tepung kanji tidak ada yang lengket
12. Kemudian bentuk adonan menjadi seperti lontong dengan selinder memanjang berdiameter 10 cm.
13. Kemudian potong adonan menjadi kecil-kecil dengan panjang sekitar 2-3 cm.
14. Pelintir atau uleni lagi (buat selinder kecil) bagian kecil hingga seukuran ibu jari.
15. Lalu bentuk menjadi angka 8.
1. Goreng adonan yang berbentuk angka 8 tadi kedalam minyak panas
2. Gorenglah hingga kering atau sesuai selera
3. Tiriskan hingga minyak berkurang
4. Geblek siap di hidangkan.
Tips Menggoreng GeblekGunakan api kecil, karena jika terlalu besar dan terburu-buru, maka geblek akan meletus ga karuan
Agar lebih nikmat di santap geblek enaknya dihidangkan dengan sambal untuk cocolan. Sambal cocolan inipun bervariasi, ada yang menggunakan sambal pecel, saos botol yang banyak dihidangkan diwarung, bahkan ada yang menggunakan sambal colo-colo (sambal kecap ditanbah cabe rait dan bawang putih), hidangkan geblek bersama tenh hangat.
Sumber : http://www.lungo.id/2016/06/cara-membuat-geblek-khas-purworejo.html
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...
Sekaten adalah Upacara Peringatan Kelahiran Nabi Muhammad SAW: Asal-usul dan sejarah serta fungsi, makna, dan nilai budaya Identitas Ritual Sekaten adalah rangkaian upacara tahunan yang diselenggarakan oleh Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW (Maulid Nabi) [S1][S3]. Ritual ini berlangsung selama delapan hari, dimulai pada tanggal 5 Rabi'ul Awal (Mulud dalam kalender Jawa) dan berakhir pada tanggal 12 Rabi'ul Awal dengan upacara penutup bernama Garebeg Mulud [S3]. Nama "Sekaten" sendiri berasal dari adaptasi istilah Arab syahadatain , yang merujuk pada dua persaksian (syahadat) dalam Islam [S1]. Komunitas pelaksana Sekaten adalah institusi keraton sebagai pusat ritual, dengan melibatkan masyarakat luas dalam prosesi dan perayaan [S2]. Lokasi utama penyelenggaraan adalah Yogyakarta, meskipun tradisi serupa juga dilaksanakan di Surakarta [S1]. Upacara ini bukan sekadar perayaan keagamaan, melainkan laku budaya-religius...
Tenun NTT: Simbol Status, Identitas, dan Kisah Leluhur Identitas dan Asal-Usul Tradisi tenun yang paling populer di Indonesia merujuk pada Tenun Ikat , khususnya varian yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Popularitas ini tidak terlepas dari keunikan teknik, motif, dan makna filosofisnya yang kuat dalam budaya masyarakat setempat [S1]. Tenun ikat di NTT merupakan warisan budaya yang bertahan hingga kini, diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian integral dari identitas komunitas [S2]. Secara geografis, sentra tenun ikat NTT tersebar di berbagai pulau, dengan Pulau Sumba dikenal sebagai salah satu pusat tradisi ini yang paling kuat. Di Sumba, pembuatan kain tenun ikat tradisional masih lestari, dengan kampung-kampung seperti Kanatang dan desa-desa di wilayah Sumba Timur menjadi lokasi perajin aktif [S3]. Proses pembuatannya sangat mengikat dengan sejarah dan kehidupan masyarakat, di mana kain tenun bukan sekadar produk ekonomi tetapi juga warisan leluhur yang...