Reog, tarian yang sudah tidak asing lagi di telinga kita semua sebagai masyarakat Indonesia, terkhusus masyarakat pulau Jawa. Sebuah tarian yang menggunakan topeng singa dengan ekor merak sebagai atributnya. Reog biasanya diadakan saat upacara adat maupun sekedar kesenian budaya. Banyak cerita di balik Reog Ponorogo, tidak banyak juga yang tau sejarah tentang Reog sendiri. Konon, Reog berasal dari Kerajaan Kediri, Jawa Timur. Di kerajaan tersebut ada seorang putri raja bernama Putri Sanggalangit, ia sangat baik hati dan cantik parasnya sehingga banyak pangeran yang datang untuk melamarnya. Namun sayangnya Putri selalu menolak lamaran para pangeran, lantas sang Raja khawatir dan berbicara kepada sang Putri. Raja meminta sang Putri menerima salah satu pangeran dan sang Putri pun tidak dapat menolak permintaan ayahnya. Sang Putri pun memberikan syarat pada pangeran yang ingin melamarnya, syaratnya yaitu mereka harus mengadakan pertunjukan yang belum pernah ada di negri ini. Tidak berhenti disitu, ada syarat lain yaitu, pertunjukan tersebut harus diiringi 140 penunggang kuda kembar, serta sang Putri meminta mereka membawa hewan berkepala dua. Singkat cerita ada dua pangeran yang menerima tantangan tersebut, yaitu Pangeran Kelana dan Pangeran Singabarong. Pangeran Kelana pun datang dengan semua syarat, tetapi satu yang ia tidak punya, yaitu hewan berkepala dua. Namun Pangeran Kelana membawakan sang Putri seekor burung merak yang sangat indah. Sayangnya di tengah perjalanan rombongan Pangeran Kelana dihadang seekor singa, yang sebenarnya singa itu adalah jelmaan Pangeran Singabarong. Tiba-tiba burung merak yang dibawa Pangeran Kelana naik ke atas singa tersebut dan mematuk-matuk si singa. Lalu sang Pangeran mengarahkan pecut sakti miliknya ke arah singa dan merak tersebut. Tubuh si singa dan si merak pun menjadi satu dan pangeran pun dapat menjinakkan hewan tersebut. Dengan begitu, lengkap sudah syarat yang diperlukan. Singkat cerita Putri Sanggalangit pun menerima lamaran Pangeran Kelana dan tradisi tersebut dilanjutkan sampai sekarang.
#OSKMITB2018
Sumber : https://dongengceritarakyat.com/cerita-rakyat-sejarah-asal-mula-reog-ponorogo/
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...