Tujuannya dari Upacara Ratompo ini biasanya sudah dilaksanakan setelah yang diupacarakan sudah sembuh dari rasa sakit yang dialaminya dalam suatu upacara yang disebut mancumani yang sudah merupakan pesta antar kampung.
Tempat Penyelenggaraan Upacara
Mengenai tempat penyelenggaraan upacara ratompo ini tidak terikat kepada sesuatu tempat tertentu seperti di rumah orang tua ataupun tempat khusus seperti di rumah tua adat, dan sebagainya.
Akan tetapi tradisi setempat telah menetapkan dalam hal pelaksanaan ratompo adalah dipilih suatu tempat yang jauh dari keramaian orang, misaInya di hutan di bawah pohon yang besar yang memang telah disiapkan untuk pelaksanaan upacara tersebut. Alasan ini adalah berdasarkan pada pertimbangan bahwa upacara sama sekali tidak dapat disaksikan oleh keluarga yang diupacarakan ataupun orang lain, kecuali penyelenggara teknis upacara, pembantunya, dan yang diupacarakannya sendiri. Kadangkala keluarga yang diupacarakan sudah menyiapkan terlebih dahulu rumah yang sudah dalam keadaan kosong, yang juga tempatnya sudah diperhitungkan jauh dari keramaian orang atau tempat Ialu lalang orang. Di sinilah tempat penyelenggaraan upacara yang sangat dirahasiakan.
Penyelenggaraan Teknis Upacara
Pada bagian upacara hanya ada seorang sebagai penyelenggara teknis upacara yakni tope tompo (dukun). Tope tompo adalah seorang pria yang kedudukan sosialnya adalah dari kalangan orang kebanyakan di mana mempunyai keahlian khusus dalam melakukan mencabut gigi bagi perempuan, dan menurut salah seorang informan yang peneliti sempat wawancarai bahwa orang biasa melaksanakan ratompo hanya seorang saja ada di daerah Kulawi yang memang sudah menjadi pekerjaannya adalah melaksanakan di bawah pengaruh kuasa lembaga adat dan raja-raja pada saat itu.
Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara
Di samping penyelenggara teknis upacara, maka satu-satunya orang yang terlibat dalam upacara ratompo adalah tope pahilu (orang yang membantu topetompo) yang bertugas memegang kedua belah pipi yang diupacarakan pada saat ratompo dilaksanakan. Jadi, karena upacara ini harus terpisah dari keluarga yang diupacarakan, maka dalam pelaksanaarmya pun lebih diperketat agar tidak dapat disaksikan baik.
Persiapan dan Perlengkapan Upacara
Pengadaan materi dalam kegiatan upacara Ratompo adalah dua buah barang (ton’o), air hangat secukupnya, tikar dan bantal untuk tempat tidur yang diupacarakan, painpongoa (tempat sirih) tempat penampungan darah, ayu (abu dapur) untuk peresap darah dalam tempat sirih, tabo ngkala (cebokan) untuk menampung darah yang lebih banyak (pendarahan), dan porama mavau (sejenis rumput yang busuk baunya).
Jalannya Upacara Menurut Tahap-tahapannya
Peristiwa upacara ratompo menurut tahap-tahapnya adalah berbeda dengan upacara-upacara lainnya. Ratompo dilaksanakan bagi seorang gadis yang mempunyai sifat-sifat khusus dan hanya dilakukan di kalangan golongan bangsawan berdasarkan keturunan, sehinga tahap upacaranya sangat berbeda seperti misaInya sebelum ratompo dilaksanakan maka terlebih dahulu pihak keluarga yang diupacarakan meminta izin kepada raja bahwa pada hari yang telah ditentukan nanti anak saya si A akan ratompo, maka atas dasar permintaan izin tersebut, ratompo dapat dilaksanakan. Pada saat hari yang telah ditentukan di mana yang diupacarakan di rumahnya telah terkumpul sanak keluarga dan topetompo serta tope palielit (pembantu) telah siap semua, maka yang diupacarakan mulai diberi pakaian secukupnya yakni halili (baju putih dari kulit kayu ) dan sarung dari mbesa. Setelah selesai dipakaikan pakaian lalu diberi makan dengan ketan dan telur. Setelah selesai makan dengan diantar oleh keluarga yang diupacarakan, topetompo dan topepahelu mulai berjalan ke depan pintu rumah yang diupacarakan. Keluarga yang mengantarkan hanya sampai di halaman rumah sebagai tanda melepas kepergian yang diupacarakan. Maka yang diupacarakan pun dengan diikuti oleh topetompo serta topepalielu berangkat meninggalkan rumah menuju tempat vang sudah ditentukan seperti dahulu yang sunyi dari keramaian atau sebelah rumah yang dikosongkan. Sesudah tiba di tempat yang telah ditentukan maka topetompo mulai menyiapkan perlengkapan yang dibawanya serta yakni dua buah guma (parang) dan topepahelu sudah menyiapkan tikar dan bantal.
Setelah siap semua peralatan upacara, maka yang pertama dilakukan adalah topepalielu mulai menutup mata anak yang diupacarakan dengan kain nunu, dan ditidurkan di atas tikar, kepalanya di atas bantal. Kemudian kedua kaki yang diupacarakan pun mulai diikat dengan kain nunu dan kedua belah tangannya pun diikat.
Selanjutnya semuanya telah siap maka topepahelu menyiapkan perlengkapan-perlengkapan lain seperti air hangat, am (abu dapur), pompangoa (tempat siri), dan taba ngkala (cebokan). Bila segala persiapan ini sudah disiapkan maka topepahelu mulai mengambil tempat di bagian kepala yang diupacarakan, sedangkan topetompo sudah memulai memegang peralatannya berupa dua buah guma (parang) masing-masing parang ini adalah sebagai pahat dan martil. Parang yang berupa pahat ini pada ujung gagangnya sudah ditipiskan yang cocok bila dimasukkan di antara sela-sela gigi; sedangkan parang yang dijadikan martil yang digunakan untuk memukul pahat tersebut adalah bagian belakang parang. Sebelum ratompo dilaksanakan, maka terlebih dahulu topetompo membacakan gane (mantera) antara lain: “Ane moto moleko patumpako, ane matumpako patumoleko, bona nemo madea ra mchuko tiroi daka kami“. Artinya: Bila kami tidur tengadah, lihatlah kami dan bila kami tidur tengkurap angkatlah kami, jangan sampai banyak darah yang keluar lihatlah kami.
Sesudah membaca mantera tersebut, maka topetompo mulai memasukkan parang yang serupa pahat tadi ke sela-sela gigi yang akan ditanggalkan dengan maksud untuk menjarangkan. Sesudah digoyang-goyangkan pahat yang sudah berada di sela gigi bagian atas dan bawah yang terdiri dari delapan gigi seri, empat gigi taring atas dan bawah. Setelah pahat sudah selesai digoyang-goyangkan di antara sela-sela gigi, maka topetompo mulai memukulkan belakang parang pada pahat itu dengan sekuat-kuatnya. Karena itu, sejumlah gigi tersebut menjadi tanggal dan topepohelu mulai mencabut satu per satu gigi yang sudah tanggal tersebut.
Setelah semua gigi tersebut dikeluarkan, maka mulai diberi pengobatan berupa air hangat untuk dikumur-kumur dan semua darah yang keluar ditampung di tempat sirih dengan diberi abu dapur agar darah yang sudah tertampung tersebut dapat terserap oleh abu dapur tersebut. Setelah darah mulai berkurang dan yang diupacarakan sudah siuman maka yang diupacarakan pun dengan diantar oleh topetompo dan topepalielu kembali ke rumah yang diupacarakan. Sesudah tiba di rumah, maka anak yang diupacarakan lalu di tidurkan di tempat tidur yang sudah disiapkan. Selama pengobatan berlangsung di rumah yang diupacarakan, dilakukan oleh topepahelu sampai anak yang diupacarakan itu sembuh benar.
Pantangan-pantangan Yang Harus Dihindarkan
Selain tujuan penyelenggaraan upacara adalah mencuri keselamatan dan menghindarkan malapetaka maka dalam upacara ratompo juga mengenal pantangan-pantangan yang tidak bersifat-sakral magis, tetapi pantangan di sini menyangkut hal cepatnya kesembuhan yang diupacarakan. Pantangannya meliputi tingkah laku dan perbuatan, seperti selama dalam pengobatan yang diupacarakan tidak boleh banyak bergerak karena akibatniya dapat menimbulkan pendarahan yang banyak atau bengkaknya tidak akan turun. Pantangan lainnya adalah selama pengobatan berlangsung yang diupacarakan tidak boleh makan yang asam-asam dan selama tiga hari sejak saat diratompo tidak boleh minum air akibatnya bila hal ini dilanggar akan lebih lama proses kesembuhan yang diupacarakan.
Lambang-lambang atau Makna yang Terkandung dalam Unsur-unsur Upacara
Ketan putih dan satu butir telur sebagai simbol yang diupacarakan. Lambang ini adalah merupakan tanda keihlasan dan ketulusan hati daripada yang diupacarakan yang seputih dan sebulat hati menyerahkan anak untuk diupacarakan. Sebab hal ini menurut tradisi setempat bahwa upacara ratompo adalah sebagai tanda setengah berkabung bagi keluarga yang diupacarakan.
Source: http://telukpalu.com/2007/11/ratompo/
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...