Genesis atau kisah penciptaan Dusunic Sabah ada banyak versi, salah satu versi yang agak menarik adalah versi Rangawan. Dalam versi ini, disebutkan bahwa Kinorohingan adalah kata nama umum untuk deity dan merupakan deities yang dicipta. Rangawan dikatakan telah mencipta dua Kinorohingan, satu lelaki dan satu perempuan. Tujuan keduanya diciptakan adalah untuk membantu Rangawan mencipta langit dan bumi. Rangawan telah mencipta langit dan bumi, tapi ciptaan ini kononya hanya sebesar “sirung”, atau topi tradisional. Kemudian dia mencipta dua Kinorohingan tersebut, memerintahkan mereka supaya mencipta langit dan bumi; mencipta tujuh lapisan syurga (libabou) dan tujuh lapisan bumi. Ketika kedua Kinorohingan ini selesai mencipta, mereka kemudian mencipta manusia. Rangawan memerintahkan kedua Kinorohingan tersebut supaya mencipta pohon “timadang” yang dapat mengeluarkan buah yang cepat dan banyak, sebagai makanan kepada manusia ini, pohon “timadang” itu juga diperintahkan untuk mengeluarkan buah padi, mengeluarkan ikan dan beberapa bahan makanan lain. Ketika tanaman pertanian manusia berhasil mengeluarkan hasil, maka Rangawan memerintahkan kedua Kinorohingan untuk mencipta semua jenis binatang liar, juga binatang jinak dan binatang ternak. Setelah selesai, kedua Kinorohingan itu diperintahkan untuk mencipta pakaian, peralatan besi, perak, emas dan tembaga.
Ketika semuanya sudah selesai, Rangawan memerintahkan kepada kedua Kinorohingan supaya mereka menumbangkan pohon “timadang” yang mampu mengeluarkan pelbagai bahan makanan tersebut. Ini karena, pohon “timadang’ sakti itu telah menyebabkan pertengkaran antara sesama manusia, masing-masing bertengkar karea ingin memiliki pohon tersebut, sehingga banyak yang terbunuh. Rangawan mengatakan kepada kedua Kinorohingan tersebut, manusia tidak dapat melihat mereka karena Rangawan tidak mengajarkan manusia ritual-ritual keagamaan untuk berhubung dengan mereka. Maka Kedua Kinorohingan itu bertanya kepada Rangawan, “bagaimanakah kami dapat mengajarkan manusia ritual-ritual agama, sedangkan kamu mengatakan manusia tidak dapat melihat kita?”. Rangawan berkata kepada kedua Kinorohingan tersebut, “ajarkan ritual-ritual agama tersebut kepada ‘kogiyu (orang utan)’, kerana mereka dapat melihat kita”. Maka kedua Kinorohingan tersebut mengajarkan ritual-ritual agama kepada “kogiyu”. Kononya, seorang lelaki bujang telah mempelajari ritual-ritual agama tersebut ketika ia menjumpai “kogiyu” tersebut sewaktu berburu di hutan, di Sungai Kadamaian, Sungai Pibutulan dan Sungai Sugud.
Rangawan merupakan satu tuhan yang agak kabur identitinya, kerana “Rangawan” dalam istilah Dusun bererti “mata kail”. Tapi nampaknya istilah “Rangawan” ini kemungkinan hasil pengaruh daripada Hinduisme, agama dari India yang dipercayai mula bertapak di Borneo seawall abad-4 masehi. Kerajaan etnik Dusunic bermula pada sekitar tahun 6 masihi di Brunei, dan dipengaruhi oleh Hinduisme dan Buddahisme. Kemungkinan kaum Dusun Sabah mendapat pengaruh Hinduisme pada zaman Brunei lama yang beragama Hindu-Buddha. Dalam Hinduisme, ada dewa yang dalam istilah Sanskrit disebut “raghava” atau “raghavan” dalam istilah India Selatan. Istilah tersebut bererti, “keturunan daripada Raghu”. Istilah “raghavan/raghava” ini merupakan nama gelaran untuk dewa Hindu yang bernama “Rama”; Rama merupakan avatar atau penjelmaan daripada dewa Vishnu. Nama Rama juga sering dipakai sebagai nama mistik untuk Raja Kosala, semantara dalam keagamaan Hindu, nama “Raghava Rama” pula merujuk kepada “Mantera Vaishna” yang dikaitkan dengan guru spiritual Hinduisme yang bernama Sri Caitanya Mahaprabhu.
Apakah nama “Rangawan” ini berkaitan dengan dengan agama kuno Hindu yang pernah tersebar dan bertapak di Borneo suatu ketika dahulu, atau mungkin berasal dari kata benda “mata kail” dalam bahasa Dusun, tidak ada yang tahu. Hal yang menarik lagi mengenai agama tradisi Dusun kuno adalah mengenai istilah “Kinorohingan”. Secara etymologi, istilah “Kinorohingan” berasal daripada akar kata “molohing” yang berasal dari kata “lohing”. Istilah ini sebenarnya terbentuk dari dua kata, iaitu “ki” dan “lohing”. Kedua kata ini ditambah denga imbuhan atau “suffix”, iaitu “an” dan “on”, serta pertukaran konsonan daripada “I” kepada “r” untuk membantuk kata nama (noun). Daripada proses dinamik gramatikkal ini, muncullah kata “Kinorohingan”, yang bererti “Yang Tersangat Tua”. Terdapat banyak versi mengenai gambaran “Kinorohingan”, bermula daripada gambaran sederhana seperti lelaki yang sangat tua dan seorang “modsusupu (tukang besi)” di syurga, sampailah gambaran yang lebih ekstreme, misalnya tuhan yang memiliki tujuh tanduk. Dalam banyak tradisi agama serta mitos Dusun, istilah “Kinorohingan” juga adalah kata nama umum untuk entiti yang berkuasa. Di daerah Ranau misalnya, ketika mereka mengadakan upacara keagamaan suci yang dipanggil Patod, mereka akan menyeru sebanyak 18 Kinorohingan, iaitu :
01. Kinorohingan Kinopuunon.
02. Padtalaban Polopusan.
03. Sinumandak Sinandayang.
04. Pomurikoton Pomurindoyon.
05. Moguguwu Moginobot.
06. Kinombura Kinondawai.
07. Suminundu Lominodu.
08. Odu Sundu Irolodu.
09. Anakundi Sibaanon.
10. Tinonlugu Tinontagas.
11. Rinandawi Rinondunu.
12. Mogulungung Monginanau.
13. Mongudinking Mongudia.
14. Muring Poiton Potingagadon.
15. Durapos Garawan.
16. Nombuyun Nindahau.
17. Modsusupu Manansa.
18. Gogopupon Pogowian.
Pada umumnya, kaum Dusun mempercayai bahwa Kinorohingan tinggai di syurga tingkat ke-7 yang dalam bahasa spiritual dipanggil “Kopinturuh”. Bobolian memiliki kemampuan untuk berhubung dengan Kinorohingan, bahkan bertemu dengan Kinorohingan melalui komburongohnya yang berisikan semangat baik yang dicipta Kinorohingan untuk membolehkan manusia berhubung dengan Nya. Salah satu cara Bobolian berhubung dengan Kinorohingan adalah dengan menggunakan Komburongohnya. Pertama, semangat Komburongohnya itu dibagikan kepada semangat lelaki (Komburongoh) dan semangat perempuan (Rinokian). Kedua semangat ini kemudian diperintahkan untuk pergi menghadap Kinorohingan, memberitahu apa yang dimohon oleh Bobolian, entah itu “tutuduk”, “sundu” maupun “kosogit-sogiton”.
Sumber: Aki Rumantai
https://folksofdayak.wordpress.com/2018/04/13/rangawan-sang-pencipta-kinorohingan-mengenal-rangawan-dan-kinorohingan-2/
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...
Ayam goreng adalah salah satu menu favorit keluarga yang tidak pernah membosankan. Namun, jika kamu ingin mencoba variasi yang lebih gurih dan harum, ayam goreng bawang putih renyah adalah pilihan yang tepat. Ciri khasnya terletak pada aroma bawang putih yang kuat serta kriukannya yang renyah saat digigit. Resep ini juga sangat mudah dibuat, cocok untuk menu harian maupun Bahan-Bahan Bahan Ayam Ungkep ½ kg ayam (boleh potong kecil agar lebih cepat matang) 5 siung bawang putih 4 siung bawang merah 1 sdt ketumbar bubuk 1 ruas kunyit (opsional untuk warna) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400 ml Bahan Kriuk Bawang 5–6 siung bawang putih, cincang halus 3 sdm tepung maizena ¼ sdt garam ¼ sdt lada Minyak banyak untuk menggoreng Cara Membuat Ungkep ayam terlebih dahulu Haluskan bawang putih, bawang merah, kunyit, dan ketumbar. Tumis sebentar hingga harum. Masukkan ayam, aduk rata, lalu tuang air. Tambahkan garam dan kaldu bubuk. Un...
Ayam ungkep bumbu kuning adalah salah satu menu rumahan yang paling praktis dibuat. Rasanya gurih, aromanya harum, dan bisa diolah lagi menjadi berbagai hidangan seperti ayam goreng, ayam bakar, hingga pelengkap nasi kuning. Keunggulan lainnya, resep ini termasuk cepat dan cocok untuk kamu yang ingin memasak tanpa ribet namun tetap enak. Berikut resep ayam ungkep bumbu kuning cepat yang bisa kamu coba di rumah. Bahan-Bahan ½ kg ayam, potong sesuai selera 4 siung bawang putih 5 siung bawang merah 1 ruas kunyit 1 ruas jahe 1 ruas lengkuas (geprek) 2 lembar daun salam 2 lembar daun jeruk 1 batang serai (geprek) 1 sdt ketumbar bubuk (opsional) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400–500 ml Minyak sedikit untuk menumis Cara Membuat Haluskan bumbu Blender atau ulek bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, dan ketumbar bubuk (jika dipakai). Semakin halus bumbunya, semakin meresap ke ayam. Tumis bumbu hingga harum Panaskan sedikit m...