Produk Arsitektur
Produk Arsitektur
Pura dan Tradisi Pertanian Bali Bali
Pura Ulun Carik
- 29 November 2017

Setiap Subak biasanya memiliki pura yang disebut Pura Ulun Carik atau Pura Bedugul, yang khusus dibangun oleh para petani untuk memuja Dewi Sri. Sistem pengairan ini diatur oleh seorang tokoh adat dan juga merupakan petani yang disebut dengan Kelian (Klian) yang mempunyai tugas untuk mengawasi dan mengelola subak.

Untuk menjadi Kelian subak ini adalah sifatnya sosial, tidak mendapatkan gaji ataupun imbalan. Pembagian atau penyaluran air disesuaikan dengan keanggotaan petani di subak, ada anggota yang aktif dan pasif, keduanya mendapat pembagian air yang berbeda. Inilah dasar keadilan dimana distribusi air disesuaikan dengan kontribusi.

---

Pura Ulun Carik adalah pura krama subak yaitu kelompok pura kahyangan khusus sebagai pura swagina oleh para petani anggotanya yang pusat induknya di Pura Ulun Danu Danau Bratan Bali.
 
Pura Ulun Carik pada kutipan artikel Subak Bali dalam kebudayaan Indonesia, pura yang khusus dibangun oleh para petani ini diperuntukkan kepada Dewi Sri sebagai lambang dewi kemakmuran dan kesuburan.
 
Pura yang dibangun diantara petak sawah oleh para anggotanya dalam kaitan artikel padi dan subak di jagat Bali, Pura Ulun Carik ini mereka gunakan untuk mengadakan sebuah upacara bersama. 
 
Pura Ulun Danu di Danau Bratan sebagaimana disebutkan dikenal sebagai 'induk' dari semua sistem subak di Bali, dan beberapa subak sering mengadakan kunjungan ke pura Ulun Danu sebelum mereka mulai mengairi sawah mereka. 
 
Ada juga pura-pura kecil yang disebut 'Bedugul', sering dijumpai di daerah persawahan dan biasanya terletak dekat dam air. Pura kecil bedugul tanpa atap ini dibangun oleh perorangan untuk petak-petak sawahnya sendiri.
 
Upacara paling penting yang dilakukan subak di pura ulun carik ini pada saat perayaan 'ngusaba nini', yang biasanya digelar menjelang atau segera setelah panen. 
 
Perayaan ini digelar di desa masing - masing maupun pura milik subak dan merupakan perwujudan dari rasa syukur terhadap Dewi Sri sebagai dewi kemakmuran.
 
---
 
Pura Ulun Carik
Pura Ulun Carik didirikan pada setiap subak sebagai “hulunya” subak.
 
Dalam lontar Maharsi Markandya, diuraikan :
 
Mangkana mwah ring sowang-sowang subak, hana ingadegakena pura, inaranan Pura Ulun Carik.
 
Di dalam lontar Siwagama Sasana disebutkan :
 
Kunang waneh pawarah ira Bhatara Siwa ring Pusering Bhuwana, ri kanang wang kabeh kinonta agawaya panyiwyan pangulunung sawah, palungguhira Bhatari Umadewi, sinembahing magaga sawah, mangasraya ri kahaywaning tahun, samangkana tantunya nguni tekeng phala bungkah phala gantung, apan sira nimittaning gaga sawah pinaka caraking tahun.
 
Dengan demikian Pura Ulun Carik adalah sthana dari Bhatari Umadewi.
 
Selain itu ada juga didirikan sebuah sanggah yang sifatnya darurat, yang sering disebut dengan Sanggah Catu, yang ditancapkan di hulu sawah (pangalapan), jika ada upacara di sawah barulah dipasang.–
 
---
 
Sumber:
http://www.id.baliglory.com/2016/04/subak-bali.html
https://panbelog.wordpress.com/2014/12/22/pura-ulunswi-seseh/
https://balebengong.id/kabar-anyar/melindungi-sawah-mempertahankan-jati-diri-bali.html
http://sejarahharirayahindu.blogspot.co.id/2011/11/pura-ulun-carik.html

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker