Produk Arsitektur
Produk Arsitektur
Produk Arsitektur Jawa Barat Kabupaten Garut
Punden Barundak Pasir Lulumpang
- 25 Februari 2015

Pasir Lulumpang berada di Kampung Cimareme, Desa Cimareme, Kecamatan Banyuresmi. Berada pada koordinat: 107º 57'09,1" BT dan 07º 16'6" LS LS dengan ketinggian sekitar 680 m dpl. Hampir seluruh areal situs saat sekarang (1995) telah dijadikan lahan perkebunan oleh penduduk setempat dengan ditumbuhi oleh pohon Jati dan tanaman lainnya milik Bapak Oha. Situs Pasir Lulumpang berada ± 11 km dari Kota Garut.

Lokasi dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan roda empat atau kendaraan roda dua dari Kota Garut menuju Leles, sampai disimpang Tarogong, belok ke arah timur dengan melewati Situ Bagendit yang telah dikembangkan sebagai objek wisata alam. Sampai di Simpang Desa Cimareme, selanjutnya di lingkungan RW 01 ditempuh dengan kendaraan roda dua atau jalan kaki melewati jalan telah disemen sampai ke situs. Waktu pencapaian dari Kota Garut sampai di situs ± 45 menit Berita kepurbakalaan situs Pasir Lulumpang baru muncul pada Bulan November 1993, berdasarkan laporan Kandepdikbud Kabupeten Garut tentang adanya dua objek arkeologis di Desa Cimareme, Kecamatan Banyuresmi, yang sebelumnya objek ini belum pernah tercatat oleh hasil N.J. Krom di dalam Rapporten van den Oudheidkundigen Diens in Nederlandsch Indie (ROD tahun 1914). Kemudian peninjauan dilakukan ke situs ini oleh Tim dari Balai Arkeologi Bandung pada Bulan Juni 1994 dan Februari 1995.  Pasir Lulumpang memiliki batas alam di sebelah timur adalah sungai yang berair hanya di musim hujan, sebelah barat mengalir sungai Cijangkameong dan Cimuara yang kedua sungai airnya mengalir ke Sungai Cimanuk yang terletak di sebelah utara situs, di Baratlaut situs terdapat Gunung Haruman dan Kaledong serta bekas rawa Rancagabus yang sebagian masih berair, serta Gunung Haruman m,erupakan puncak tertinggi di kawasan itu.  Pasir Lulumpang terletak dengan arah utara-selatan dan kemiringan sekitar 45° di tepi sebelah timur laut rawa Ranca Gabus. Rawa Ranca Gabus membentang di antara beberapa bukit atau pasir yaitu Pasir Lulumpang, Pasir Kiara Payung, Pasir Tengah, Pasir Kolocer, Pasir Astaria, Pasir Luhur, Pasir Gantung, Pasir Tanjung, Pasir Malaka. Di sebelah utaranya mengalir Sungai Ciledug yang mengandung banyak bebatuan.  S

itus Pasir Lulumpang temuannya berupa dua buah punden berundak. Punden I terletak pada sisi barat bukit yang menempati lahan seluas 73 x 38 x 42 m, dengan orientasi punden ke arah timur-barat. Punden I terdiri dari 13 undakan/teras dari bahan batu andesit. 

• Teras I merupakan teras yang paling atas berbentuk trapesium dengan ukuran 30,5 m x 13,5 m, tanahnya relatif datar dan luas banyak ditanami pohon jati, ditemukan 2 buah lumpang batu dan susunan batu menyerupai bentuk segi tiga. 

• Teras II berukuran 11 m x 4 m, tinggi susunan batu dinding 1,25 m dan ditemukan 1 buah lumpang batu yang posisinya miring serta batu tegak yang berdiri berpasangan. 

• Teras III berukuran 13 x 2,5 m, dengan tinggi 90 cm m, ditemukan 2 buah lumping batu. 

• Teras IV berukuran 5 x 36,5 m, dengan ketinggian dinding 90 cm, susunan batu masih kompak dan teratur. 

• Teras V hampir sama ukurannya dengan teras IV, tetapi ketinggian dinding 160 cm, sebegian besar dinding mengalami kerusakan karena akar-akar pohon jati; 

• Teras VI berukuran 36,5 m x 4 m dan tinggi dinding 160 cm, susunan batu pada beberapa bagian telah rusak dan hilang.

• Teras VII berukuran 36,5 m x 5 m, dengan tinggi dinding teras 160 cm, sebagian batu telah hilang.

• Teras VIII berukuran 36,5 m x 3 m, dengan tinggi dinding teras 120 cm.  

• Teras IX berukuran 36,5 m x 4 m, dengan tinggi dinding teras tersisa 1 m, kondisi teras masih utuh. 

• Teras X berukuran 36,5 m x 4 m, dengan tinggi dinding teras 160 sebagian besar batu masih utuh. 

• Teras XI berukuran sama dengan teras X, kondisi batu utuh.

• Teras XII merupakan undakan tanah, batu sudah tidak ada lagi berukuran 36,5 m x 5 m, dengan tinggi dinding teras 160 cm.  

• Teras XIII undakan tidak utuh lagi dan susunan batu tidak ada lagi berukuran 36,5 m x 2,5 m, dengan tinggi dinding undakan 40 cm.

Punden Berundak II terletak kurang lebih 80 m dari Punden berundak terdiri dari 9 undakan atau teras dibuat dari bahan batu andesit. Punden II mempunyai undakan teratas (I) berukuran 12 x 9 m dan tinggi undakan 120 m, sedang undakan paling bawah berukuran 33 m x 4 m, tinggi dinding 120 cm. Selain itu dari hasil ekskavasi ditemukan fragmen gerabah, fragmen besi, batu giling (gandik), dan fragmen batu obsidian.  Situs Pasir Lulumpang merupakan peninggalan dari tradisi megalitik berupa punden berundak yang dilengkapi lumpang-lumpang batu, hal ini merupakan satu model bangunan punden yang sebelumnya belum pernah dijumpai. Lumpang-lumpang batu itu seakan-akan menjadi pengganti menhir yang sering dijumpai melengkapi bangunan-bangunan punden berundak seperti punden berundak Lebak Cibedug, Pangguyangan (Cisolok). Lumpang-lumpang batu yang melengkapi punden berundak di Situs Pasir Lulumpang kiranya merupakan artefak-artefak simbolik dalam konteks yang berkaitan denagn sistem religi megalitik. Lumpang-lumpang batu di situs punden berundak Pasir Lulumpang diperkirakan memiliki fungsi dalam kaitan pemujaan yang diselenggarakan oleh komunitas-komunitas pendukungnya. Tujuan pemujaan dengan menggunakan lumpang batu atau batu dakon sebagai media upacara diperkirakan berhubungan dengan upacara-upacara kesuburan/pertanian untuk keberhasilan panan nantinya atau sebagai ungkapan rasa syukur atas keberhahasilan panen yang dicapai. Upacara-upacara semacam ini masih biasa diselenggarakan oleh komunitas-komunitas petani tradisional di daerah Jawa Barat, yang lazim disebut upacara Hajat Bumi; ngalaksa; serentaun seperti yang masih dilakukan secara adat oleh komunitas Badui, Cikondang, Subang, Sukabumi. Situs Pasir Lulumpang dapat dikembangkan sebagi objek wisata budaya karena temuan dari masa budaya megalitik cukup bervariasi jenisnya ada punden berundak, lumpang batu, menhir, fitur akan merupakan daya tarik bagi pelajar atau mahasiswa yang berminat di bidang sejarah dan purbakala. Dengan tersedianya sarana trasportasi berupa kendaraan angkutan kota dan ojeg akan lebih memudahkan wisatawan sampai ke sini.

Lokasi:  Kampung Cimareme, Desa Cimareme, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut.

Koordinat : 107º 57'09,1" S,  07º 16'6" E

Telepon:

Email:

Internet:

Arah:  Situs Pasir Lulumpang berada ± 11 km dari Kota Garut. Lokasi dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan roda empat atau kendaraan roda dua dari Kota Garut menuju Leles, sampai disimpang Tarogong, belok ke arah timur dengan melewati Situ Bagendit yang telah dikembangkan sebagai objek wisata alam. Sampai di Simpang Desa Cimareme, selanjutnya di lingkungan RW 01 ditempuh dengan kendaraan roda dua atau jalan kaki melewati jalan telah disemen sampai ke situs. Waktu pencapaian dari Kota Garut sampai di situs ± 45 menit 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Jipeng
Seni Pertunjukan Seni Pertunjukan
DKI Jakarta

Jipeng: Kombinasi Unik Tanji dan Topeng dalam Orkes Betawi Sebuah seni teater khas Betawi yang muncul dari kolaborasi antara Tanji dan Topeng. Jipeng: Kombinasi Unik Tanji dan Topeng dalam Orkes Betawi Sebuah seni teater khas Betawi yang muncul dari kolaborasi antara Tanji dan Topeng. Jipeng: Kombinasi Unik Tanji dan Topeng dalam Orkes Betawi Sebuah seni teater khas Betawi yang muncul dari kolaborasi antara Tanji dan Topeng.

avatar
Xxxxxx
Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba Pagar Jabu - Sahan - Pohung
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
Ilmu Tamba Tu
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker