Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Kalimantan Barat Pontianak
Pulau Belumbak
- 17 November 2018

Jika kita menyusuri Sungai Kapuas dari kota Pontianak menuju kota Sanggau, di antara kota Tayan dan kota Sanggau kita akan melewati dua buah pulau yang berjejer di tengah Sungai Kapuas. Bentuk kedua pulau itu menyerupai dua buah kapal yang sedang berlomba. Oleh karena itu, penduduk menamai kedua pulau ini Pulau Belumbak. Belumbak dalam bahasa daerah pedalaman Kalimantan Barat berarti “berlomba”.

Menurut cerita para leluhur, kedua pulau itu asalnya dari dua buah kapal milik dua bersaudara. Pada zaman dahulu, di tempat kedua pulau itu berada, terdapat sebuah kota. Walaupun kota itu tidak begitu besar, penduduknya cukup banyak dan ramai. Di pinggiran kota itu hiduplah seorang janda miskin dengan dua orang anak laki-lakinya. Ayah mereka telah meninggal dunia. Tiap hari mereka hanya mencari kayu bakar yang mereka jual kepada orang kampung demi sesuap nasi. Dari tahun ke tahun, mereka menjalani kehidupan semacam itu hingga kedua anak itu tumbuh menjadi dewasa.

Ketika kedua anak itu telah menginjak dewasa, timbullah keinginan mereka untuk merantau ke negeri seberang. Mereka ingin mengadu nasib di perantauan dengan harapan nasibnya dapat berubah. Sang ibu berat sekali melepaskan kedua anaknya. Akan tetapi, keinginan kedua anaknya tidak dapat dihalangi. Akhirnya, sang ibu terpaksa mengabulkan keberangkatan kedua anaknya itu. Dua ekor anak ayam jantan yang menjadi milik kedua anak itu dititipkan kepada ibunya agar dipelihara sampai mereka kembali.

Kedua bersaudara itu hanya menumpang sebuah kapal dagang yang datang ke kota itu. Untuk sementara, mereka menjadi kuli di kapal itu. Ibunya hanya dapat membekali mereka dengan ketupat nasi masing-masing tiga buah. Namun sang ibu mengiringi kedua anaknya dengan doa agar mereka selamat di perantauan dan berhasil mencapai cita-cita mereka.

Hari berganti bulan dan bulan pun berganti tahun. Entah berapa purnama telah berlalu, sang ibu masih tetap menunggu kedatangan kedua anaknya. Usianya semakin tua dan rambutnya pun semakin banyak yang memutih. Tenaganya semakin berkurang karena ketuaannya dan ia pun sering sakit-sakitan. Namun, ia tetap bekerja menurut kemampuannya demi sesuap nasi.

Di perantauan, kedua kakak beradik itu berhasil menjadi orang yang kaya raya. Keduanya telah memiliki sebuah kapal yang cukup besar dan bagus. Keduanya memiliki para pekerja dan pengiring. Keduanya pun memiliki istri yang cantik sekali.

Setelah beberapa lama merantau, timbul hasrat kedua bersaudara itu untuk kembali ke kampung halamannya di Kalimantan Barat. Kedua kapal kakak beradik itu berlayar menuju Kalimantan Barat. Setelah beberapa lama berlayar, sampailah mereka di pesisir Kalimantan Barat dan langsung menyusuri Sungai Kapuas. Akhirnya kedua kapal itu tiba di wilayah Sanggau dan berlabuh ditengah Sungai Kapuas.

Ibu mereka yang sudah tua mendengar bahwa yang datang adalah kedua anaknya, maka dengan tertatih-tatih ia naik perahu sambil membawa ubi rebus dan dua ekor ayam jantan.

Ketika wanita tua itu tiba di kapal anaknya yang sulung, ia tidak diakui sebagai ibu oleh anaknya. Si Sulung merasa malu beribukan wanita miskin lagi buruk itu, malu kepada istri dan bawahannya.

Ketika sang Ibu ingin memeluk karena rindu. Ia menolak dengan ucapan kasar, “Hai orang tua buruk lagi melarat. Apakah kau sudah gila, kau bukan ibuku. Ibuku sudah lama meninggal. Cepat pergi dari sini!”

“Anakku mengapa kau melupakanku.” kata wanita itu. “Aku ini ibumu, lihat ayam jantan kecil ketika kalian berangkat.”

Mendengar ucapan itu, kemarahan anaknya makin menjadi-jadi. Ibunya ditendang dengan keras hingga jatuh tersungkur dan pingsan. Lama ia tak sadarkan diri.

Setelah siuman ia berjalan menuju kapal anaknya yang lain. Ia berharap akan mendapat perlakuan yang baik dari anak bungsunya. Tetapi di kapal anaknya yang bungsu, ia mendapat perlakuan yang lebih kejam. Matanya ditusuk dengan tongkat sehingga menjadi buta.

Orang tua itu menangis, lalu pulang. Sedih hatinya mendapat perlakuan yang menyakitkan dari kedua anaknya itu. Akan tetapi, kesedihan itu menjadi sebuah kebencian.

Ibu tua itu membuat sebuah pedupaan di rumahnya. Pedupaan yang sedang berasap itu ditaruhnya di lubang lesung. Kemudian ia naik ke atas lesung itu. Sambil menggucangkan susu kiri dan susu kanannya, ia berseru, “Ya Tuhan. kedua anak kandungku telah durhaka kepada ibunya. Apakah benar mereka itu bukan anakku?”

Sambil terus mengguncangkan kedua susunya, ibu tua itu berseru lagi, “Kalau mereka itu benar anakku dan mereka meminum air susu ini, timpakanlah bala bencana atas mereka.”

Tidak lama setelah ibu tua itu mengucapkan kata-katanya yang terakhir, angin mulai bertiup. Mula-mula perlahan, makin lama makin kencang. Dilangit awan hitam semakin menebal. Tidak lama kemudian, langit menjadi gelap gulita. Angin menderu dan mendesing disertai kilat dan petir yang sambung-menyambung. Bunyi guruh menggelegar seperti membelah bumi. Tiba-tiba datang angin putar yang disebut angin puting beliung. Angin itu menerpa kapal milik kedua bersaudara yang berada di tengah Sungai Kapuas. Tiang-tiang layarnya rusak dan patah. Angin putting beliung datang berulang-ulang. Kedua kapal itu miring, lalu terangkat ke atas, dan tarhempas ke air tanpa ampun. Akhirnya, kedua kapal itu tenggelam dan tidak seorang pun selamat. Harta benda di kapal itu semuanya musnah. Sebelum kedua kapal itu tenggelam, kedua anak durhaka itu berteriak minta ampun kepada ibunya. Akan tetapi, hal itu sudah terlambat. Kutukan Tuhan telah berlaku atas mereka.

Setelah kedua kapal itu tenggelam, angin mulai mereda. Langit sedikit demi sedikit kembali cerah. Akhirnya, cuaca kembali terang. Angin berhembus perlahan-lahan, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.

Beberapa tahun kemudian, muncullah dua buah pulau yang bentuknya menyerupai kapal yang sedang berlomba. Kedua pulau itu berada di tengah Sungai Kapuas. Oleh karena itu, kedua pulau itu oleh penduduk setempat dinamakan Pulau Belumbak atau Pulau Berlomba.

Kita tidak boleh durhaka terhadap kedua orang tua kita. Orang yang durhaka kepada orang tuanya dan belum mendapat maaf darinya maka ia akan mendapat bencana baik di dunia maupun akhirat. Dikutuk oleh Tuhan, seperti halnya kedua bersaudara dalam cerita ini.

 

 

Referensi:

  1. Indotim (https://indotim.wordpress.com/cerita-rakyat-nusantara-2/cerita-rakyat-nusantara-iv/26/)

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Bekam Bali
Permainan Tradisional Permainan Tradisional
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Bekam Bali
Pengobatan dan Kesehatan Pengobatan dan Kesehatan
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Negeri antara: Jejak Putro aloh dan Manusia Harimau
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...

avatar
Mahlilazmi_02
Gambar Entri
Genggong
Alat Musik Alat Musik
Bali

Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.

avatar
Yogaxd
Gambar Entri
Dari Rendang Hingga Gudeg: 10 Mahakarya Kuliner Indonesia yang Mengguncang Lidah
Makanan Minuman Makanan Minuman
DKI Jakarta

1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...

avatar
Umikulsum