Menurut pandangan orang Bugis, perkawinan bukan sekedar menyatukan dua mempelai dalam hubungan suami-istri, tetapi perkawinan merupakan suatu upacara yang bertujuan untuk menyatukan dua keluarga besar yang telah terjalin sebelumnya menjadi semakin erat atau dalam istilah orang Bugis mappasideppe mabelae atau mendekatkan yang sudah jauh (Pelras 2006:178).
Upacara perkawinan dalam suku Bugis disebut Mappabotting sementara itu istilah perkawinan dalam suku bugis disebut siala yang mempunyai arti saling mengambil satu sama lain. Perkawinan adalah ikatan timbal balik antara dua manusia berlainan jenis kelamin untuk menjalin sebuah hubungan kekeluargaan. Istilah perkawinan dalam suku Bugis juga bisa disebut mabinne berarti menanam benih, maksudnya menanam benih dalam kehidupan rumah tangga.
Nonci (2002:3) mengatakan bahwa tata cara pernikahan adat suku bugis diatur sesuai dengan adat agama, sehingga merupakan rangkaian upacara yang menarik, penuh tata karma dan sopan santun serta saling menghargai. Bugis-Makassar untuk menunjukkan posisinya dalam masyarakat dengan menjalankan ritual-ritual serta mengenakan pakaian-pakaian, perhiasan, dan berbagai pernak-pernik tertentu sesuai dengan kedudukan sosial mereka dalam masyarakat. Selain itu Millar (2009:1) mengatakan bahwa di masyarakat Bugis, acara-acara pernikahan menjadi tempat yang paling jelas mempertontonkan standar-standar baru bagi status sosial.Oleh karena itu, tak jarang sebuah keluarga menjadikan pesta perkawinan sebagai ajang untuk meningkatkan status sosial mereka.
Berikut adalah prosesi perkawinan masyarakat Bugis.
Mabbaja laleng berasal dari kata mabbaja‘membabat’ dan laleng ‘jalan’. Prosesi ini dilakukan untuk mencari tau tentang status sang gadis yang akan dilamar. Caranya yakni melalui seseorang yang dekat dengan keluarga gadis tersebut dan bertanya mengenai gadis tersebut, bahkan sering menggunakan bahasa kiasan. Apabila setelah hasil penyelidikan belum ada yang mengikatnya maka selanjutnya pihak keluarga laki-laki mengutus beberapa orang terpandang, baik dari kalangan keluarga maupun dari kalangan luar lingkungan keluarga untuk datang menyampaikan lamaran (madduta atau masuro).
Madduta artinya pihak laki-laki mengirim utusan untuk mengajukan lamaran untuk gadis tersebut. Dalam melakukan lamaran orang harus berhati-hati dan bijaksana, harus pandai membawakan diri agar orang tua gadis tidak tersinggung.
Acaramappettu ada (memutuskan kata) ini sangat penting, karena waktu inilah yang digunakan untuk merundingkan dan memutuskan segala sesuatu yang bertalian dengan upacara perkawinan antara lain:
a. Tanra esso (penentuan hari)
b. Balanca (uang belanja)/ dui menre (uang naik)
c. Sompa (mas kawin).
Rombongan pappettu ada (pemutus kata) ini terdiri dari lelaki dan perempuan yang masing-masing berpakaian adat yang didpimpin oleh orang yang dianggap tua, mereka disambut dengan sebaik-baiknya oleh keluarga pihak wanita.
Mappacci berasal dari nama daun pacar (pacci) yang dapat di artikan paccing, yaitu berarti bersih. Dengan demikian prosesi mappacci mempunyai makna membersihkan (mappaccing) yang dilakukan oleh kedua pihak (laki-laki dan perempuan).
Dahulu di kalangan bangsawan, acara mappacci ini dilaksanakan tiga malam berturut-turut, akan tetapi saat ini acara mappacci dilaksanakan satu malam saja, yaitu sehari sebelum upacara perkawinan. Konon kabarnya prosesi mappacci hanya dilaksanakan oleh kaum bangsawan dan sekarang umumnya masyarakat Bugis melaksanakan prosesi mappacci ini.
Pengantin laki-laki meninggalkan rumah bersama pengiringnya, setelah terlebih dahulu beberapa orang lain terdiri dari laki-laki dan perempuan dengan membawa erang-erang. Pengantin laki-laki menuju rumah pengantin perempuan untuk melaksanakan akad nikah.
Madduppa berarti menyambut, dimana prosesinya berupa penyambutan pihak perempuan dengan symbol membuang beras kepada iring-iringan pihak laki-laki, yang bermakna kesuburan untuk segala hal (ekonomi, keturunan, rukun)dan diharapkan menjadi keluarga sakinah mawaddah warahma.
Dilakukan pada hari yang sama mappenre botting dan mappatudang. Harus dihadiri oleh pihak pemerintah (KUA untuk muslim dan catatan sipil untuk non muslim). Yang melakukan ijab Kabul biasanya orang tua (bapak) pengantin atau diwakili oleh wali perempuan danada saksi minimal 2 (dua) ornag dari masing-masing pihak pengantin.
Setelah akad nikah pengantin laki-laki diantar ke tempat pengantin wanita untuk ipasikarawa. Mappasikarawa berarti mempersentuhkan, yang berasal dari kata karawa (sentuh). Dalam artian bahwa pengantin laki-laki dan wanita untuk pertama kalinya saling bersentuhan. Biasanya yang dipegang adalah ubun-ubun atau leher bagian belakang, maknanya ialah agar istri tunduk kepada suaminya.
Mappatudang berasal dari kata tudang yang berarti duduk dan botting (pengantin). Prosesi ini berupa pengantin dinaikkan ke pelaminan.
Pada hari yang telah disepakati dan setelah penjemput dari pihak pengantin laki-laki datang menjemput, berangkatlah pasangan pengantin baru ini ke rumah mertuanya. Acara mengunjungi mertuan ini disebut marola.
Sumber :
Millar, Susan Bolyard. 2009. Perkawinan Bugis: Refleksi Status Sosial dan Budaya di Baliknya. Makassar: Ininnawa.
Nonci. 2002. Upacara Adat Istiadat Masyarakat Bugis. Makassar: CV Karya Mandiri Jaya.
Saleh, N. A. 1997. Sistem Upacara Perkawinan Adat Bugis Makassar Sulawesi Selatan. Ujung Pandang: Balai Pustaka Sejarah dan Nilai Tradisional.
Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa,tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan harimau. Tapi bagi kami, hutan ini seperti halaman belakang rumah sendi...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.