Pong Pong Balong pada dasarnya adalah permainan sederhana yang dimainkan dengan tangan dan bernyanyi bersama. Pong-pong Balong adalah permainan tradisional anak-anak Betawi (Jakarta) dimana anak-anak atau para pemain duduk melingkar sembari dipandu oleh anak terbesar (opsional). Cara bermainnya adalah tiap pemain meletakkan tangan mereka yang digenggam atau dikepal di lantai.Lalu, tiap pemain mengurutkan tangan mereka satu per satu secara vertical sampai ditumpuk seperti menara. Kemudian, pemimpin permainan menyanyikan lagu Pong-pong Bolong dengan syair :
“Pong-pong Bolong, Pong-pong Bolong, dumerang ducabe, pecaha ngisor dhewe”
Nyanyian itu bisa diikuti oleh semua pemain. Setelah nyanyian selesai, tangan yang paling bawah direggangkan seolah-olah pecah dalam posisi telungkup. Kemudian nyanyian diatas diulang kembali. Setiap nyanyian selesai, tangan yang mendapat posisi paling bawah direnggangkan, dengan pengecualian jika penyair memberikan perintah, misalnya tangan paling atas direnggangkan. Jika tidak ada lagi tangan yang dapat direnggangkan, maka pemimpin dolanan segera melanjutkan nyanyian:
“Ri-uri, ri-uri jang-anjang widadari, cleret gombel tiba umplung, kembangmu kembang apa?”
Pemimpin dolanan menyanyikan lagu tersebut sambil menekan jari telunjuknya pada telapak tangan paling atas yang terkurap. Setelah nyanyian selesai, pemilik tangan paling atas harus menjawab dalam nama – nama kembang, contohnya kembang turi. Kemudian pemimpin dolanan segera melanjutkan nyanyian,
“Mbang turi, mbang turi, si A kepengin cepet mari”
Pemimpin dolanan akan berusaha memilih kata – kata yang sepadan dengan kata paling belakang. Sewaktu menyanyikan lagu yang terakhir, pemimpin dolanan mangangkat tangan paling atas dalam posisi telungkup dengan dua jari, kemudian menyentuh lantai. Ini adalah simbol dibebaskannya tangan yang diangkat.
Lalu pemimpin dolanan mengulang kembali nyanyian lagu kedua, diikuti dengan jawaban pemain kedua. Kemudian dilanjutkan lagi nyanyian pemimpin dolanan. Langkah tersebut diulang terus menerus hingga semua tangan pemain yang telungkup di lantai habis, yang menandakan bahwa permainan sudah selesai. Jika permainan hendak dilanjutkan, maka akan dimulai dari awal lagi.
Tantangan dalam permainan ini adalah mencari nama – nama bunga dalam waktu singkat, terkadang pemimpin dolanan juga bingung untuk mencari jawaban yang pas. Permainan ini sangat mirip seperti lomba berpantun. Setiap pemain harus pintar-pintar mencari nama bunga dan menjawabnya. Jika lama menjawab, biasanya akan ditertawakan atau dipermalukan pemain lain.
Permainan dolanan ini dapat meningkatkan rasa kebersamaan dan kesabaran para pemain. Selain itu, permainan ini juga merupakan salah satu cara bagi anak – anak bangsa dalam melestarikan bahasa daerah. Kalah menang dalam permainan ini tidak berarti apa – apa, karena permainan ini hanya sebuah hiburan belaka. Karena sifat permainan yang tanpa risiko, permainan ini sangat dianjurkan untuk anak – anak.
#OSKMITB2018
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara