Makanan Minuman
Makanan Minuman
Permainan Adat Maluku Maluku
Permainan Tradisional Anak Maluku
- 3 Januari 2019

Sejatinya anak-anak memang lebih suka menghabiskan waktu mereka untuk bermain dan bersenang-senang bersama teman-temannya, tak pernah terlintas dalam pikiran mereka untuk susah dan memikirkan masalah sosial, yang mereka tahu adalah bermain dan bersenang-senang karna semuanya sudah disediakan.

Permainan adalah yang dijadikan media bersenang-senang. Setiap daerah pastinya memiliki permainannya sendiri dengan ciri khas masing-masing, contohnya adalah Maluku. Daerah kepulauan ini memiliki permainan daerah yang khas dengan budaya masyarakatnya, apakah itu? Mari kita simak bersama.

1. ENGGO LARI / ENGGO RAJA / ENGGO BASAMBUNYI
Enggo lari atau disebut juga Enggo raja atau Enggo sambunyi adalah nama Maluku untuk permainan Petak Umpet. Sejatinya, petak umpet memang ada di semua daerah di Indonesia dan hanya penyebutannya saja yang berbeda-beda di tiap daerah. Enggo lari/ enggo raja / enggo sambunyi dimainkan sama seperti yang diketahui pada umumnya. Permainan ini dimainkan oleh lebih dari 2 orang dan ada satu orang yang akan menjadi penjaga Enggo. Enggo adalah titik dimana sang penjaga akan menutup mata disaat yang lain pergi bersembunyi dan mejaga titik itu agar tidak disentuh oleh pemain lain sebelum ia menemukan semua pemain yang bersambunyi. Lagu yang akan dinyanyikan oleh si penjaga adalah :

satu cari tampa
dua basambunyi
tiga grak,, 1,2,3,4,5,………. (Menghitung sampai batas ketentuan)

Saat sang penjaga berhasil menemukan salah satu pemain yang bersembunyi, ia akan berteriak “”ENGGO” sebagai tanda bahwa sang pemain sudah kalah dan harus keluar dari persembunyiannya, sedangkan pemain yang sudah ditemukan itu masih bisa menang kalau ia dapat berlari dengan cepat menyentuh Enggo sebelum disentuh oleh si penjaga dengan berteriak Enggo. Pemain yang sudah kalah / ditemukan masih bisa selamat kalau ada pemain lain yang bisa merebut Enggo dari si penjaga dengan berteriak “ENGGO”.

2. LENG KALI LENG
Permainan yang berikut ini memiliki nama yang cukup unik, yaps Leng Kali Leng. Tidak ada sejarah pasti dari mana nama ini menjadi identitas permainan satu ini dan dari mana dia berasal. Permainan ini dimainkan dengan menyanyikan lagu Leng Kali Leng sambil berputar mengelilingi si buta. Lagunya berbunyi :

leng kali leng
kali leng cina buta
awas anak kecil
ditangkap cinta buta, buta…

Permainan ini dimainkan oleh banyak pemain, salah satunya akan menjadi si Cina Buta dan yang lainnya adalah orang biasa. Si cina buta akan ditutup matanya dengan kain dan sebagainya, pemain lainnya akan membuat lingkaran dengan berpegangan tangan dan si cina buta akan duduk ditengah-tengah lingkaran itu. Mereka akan berputar-putar mengelilingi si cina buta sambil bernyanyi lagu Leng Kali Leng dan diakhir permainan mereka akan berteriak buta sambil mengacak-acak rambut di cina buta. Para pemain akan memencara dan si cina buta akan mencari mereka dengan mata tertutup. Diharus menangkap salah satu pemain dan menebak identitas si penebak itu, jika ia benar makan pemain itu dinyatakan kalah dan menjadi si cina buta, apabila salah maka permainan dimainkan ulang dan ia tetap menjadi cina buta.

3. LEMON NIPIS
Permainan ini dinamai sesuai dengan lagunya. Lagu Lemon nipis seperti berikut.

lemon nipis
taguling-guling
guling apa dilobang cacing
saratus digulung-gulugn
dua ratus dikawalinya-linya-linya-linya

Permainan ini dimainkan oleh banyak orang, dua orang akan membentuk sebuah lorong dengan tangan mereka yang terangkat ke udara membentuk mulut lorong. Kemudian yang lain akan berbaris kebelakang dan pemain yang dibelakang akan meletakkan tangan mereka dipundak pemain didepan.

Mereka akan menyanyikan lagu Lemon Nipis sambil berjalan bagaikan kereta masuk-keluar lorong yang dibuat dua pemani lain sampai pada lirik terakhir yang diulang-ulang dan ada satu pemain yang akan masuk dalam lingkaran yang dibuat dua pemain yang membuat lorong tadi. Si pemain yang tertangkap akan memilih untuk menjadi anak buah siapa, yang disebelah kana atau kiri dan ia akan berdiri dibelakang juragannya sambil memegang pundaknya. Permainan akan dimainkan terus sampai tinggal satu pemain dan pemain itu dinyatakan kalah.

4. BETA KAYA KAYA, BETA MISKIN MISKIN.. MARI ETE MARI O
Permainan ini menggambarkan status sosial yang berbeda. Ada si kaya dan si miskin dalam permainan ini yang dimainkan dengan iringan lagu yang dinyanyikan berbalasan.

Si kaya : Beta kaya kaya kaya mariete mario
Si Miskin : Beta miskin miskin mariete mario
Si Kaya : Betalah mau sorang dari pada kamong ……(Menyebutkan jumlah orang dalam kelompok miskin) mariete mario
Si Miskin : Ose lah mau minta sama dari pada katong …… (Menyebutkan jumlah orang dari kelompok mereka) mariete mario
Si Kaya : Betalah mau minta …. (Menyebutkan nama pemain) mariete mario
Si Miskin : Ambel dia par ose jua mariete mario

Permainan ini akan dimainkan oleh banyak orang yang dibagi dalam 2 kelompok sama banyak yaitu si kaya dan si miskin. Si kaya dan si miskin akan berdiri berhadap-hadapan dalam barisan horizontal. Mereka akan bernyanyi berbalas-balasan sambil berjalan maju-mundur. Si kaya akan meminta salah satu dari si miskin untuk menjadi bagian mereka dan menyebutkan namanya dalam lagu. Si miskin akan memberikan pemain yang diminta si kaya dan pemain itu menjadi bagian dari mereka. Mereka akan terus bernyanyi berbalas-balasan sampai tertinggal satu pemain di kelompok si miskin.

5. SEKOLAH BATU
Permainan ini mengandalkan keberuntungan dalam menebak. Uniknya permainan ini adalah dalam lagu yang dinyanyikan tidak menyebutkan kata sekolah batu, entah darimana nama sekolah batu ini menjadi identitas permainan satu ini. Lagunya berbunyi :

sabiji katumbar dua biji ganemu
siapa loko batu cabu rukukuku
caburukuku caburukuku caburukuku

Permainan ini dimainkan dua kelompok dengan jumlah anggota sama banyak dan akan duduk berdempet-dempetan sehingga tidak ada cela yang dapat dilihat kelompo lawan. Kedua kelompok akan duduk berjauh-jauhan sambil berhadapan satu sama lain. Salah satu pemain akan duduk di belakang pemain lain dan bertugas menjalan batu sambil bernyanyi. Batu yang dipegang pemain tersebut akan dijalankan ditangan-tangan pemain lain di depannya yang tangannya disembunyikan di belakang sambil terbuka siap menampung batu. Pemain yang bertugas dibelakang akan meletakan sembarang batu itu ditangan salah satu pemain di depanya sebelum lagu berakhir. Saat lagu berkata Caburukuku Caburukuku Caburukuku pemain yang di depan akan mengangkat tangan mereka sambil menggoyangkannya ke depan dan menarik kebelakang sambil bernyanyi Caburukuku Caburukuku Caburukuku . Saat lagu berakhir, kelompok lawan akan menebak ditangan siapa batu itu berada dan apabila benar kelompok itu bergiliran untuk memainkan permainan ini dan kelompok yang tadi akan menebak, tapi bila salah maka mereka dinyatakan kalah dan kelompok pertama akan mengulang permainan.

6. BOI 
Permainan yang satu ini merupakan permainan yang cukup sangat melelahkan, permainan ini bernama Boi. Tidak saya temukan sejarah yang menjelaskan darimana asal nama Boi ini sebagai identitas nama permainan ini, sedangkan Boi adalah salah satu nama negeri (kampung) di pulau Saparua, mungkinkah permainan ini berasal dari sana ?? . Permainan ini dimainkan oleh banyak orang mulai dari anak-anak, remaja hingga anak-anak muda.

Permainan ini dimainkan dengan cara menyusun batu yang permukaannya datar atau pecahan tehel rumah yang disusun hingga mencapai tingkat ketinggian setara lutut anak kecil atau bisa lebih selagi tumpukannya tidak jatuh karena terlalu tinggi kemudian tumpukan itu dilempar dengan bola yang aman (biasanya dipakai bola tenis). Para pemain yang ikut akan hompimpa untuk menentukan salah satu orang yang bertugas menjaga Boi atau tumpukan batu tadi. Yang terpilih akan berdiri dibelakang tumpukan batu dan pemain lain berbaris kebelakang pada jarak yang cukup jauh di depan tumpukan batu. Para pemain lain akan melempar tumpukan itu dengan bola secara bergantian.

Apabila ada pemain yang berhasil meruntuhkan tumpukan itu, maka pemain yang berjaga dibelakangnya harus segera mengambil bola itu dan melempar semua pemain lain sebelum ada pemain yang lain berhasil menyusun tumpukan batu tadi. Apabila semua pemain berhasil dilempar oleh dipenjaga sebelum tumpukan berhasil disusun, maka dia menang dan pemain yang pertama terkena lemparan bola akan menggati posisinya untuk menjaga tumpukan itu, namun apabila ada pemain yang berhasil menyusun kembali tumpukan itu sebelum semua pemain berhasil dilempar maka si penjaga dinyatakan kalah dan harus kembali menjaga tumpukan itu. Kekalahan si penjaga ditandai dengan adanya pemain yang berteriak “BOI” sebagai tanda bahwa tumpukan batu berhasil disusun kembali.

Sumber : http://www.latuheru.com/permainan-tradisional-anak-maluku/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker
Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu