Serangan cacing kremi (oxyuris vemicularis) meliputi seluruh golongan masyarakat baik di kota maupun di desa. Masyarakat pedesaan khususnya di Semarang, Jawa Tengah, menyebut penyakit yang sering melanda anak-anak ini dengan sebutan Kreminen. Pengobatan dengan cara tradisional ini disebabkan oleh kurang beragamnya fasilitas kesehatan, pengetahuan yang memadai, dan tentunya keterbatasan biaya.
Cara pengobatan tradisional yang dilakukan masyarakat Jawa antara lain adalah:
a. Temu Hitam
Temu hitam sebanyak setengah jari diparut bersama 3 butir bawang putih. Kemudian dicampur air panas, disaring, dan diberi campuran gula jawa. Diminumkan pada pagi hari sebelum makan, satu minggu sekali hingga cacing lenyap.
b. Campuran
Adonan yang dimasukkan ke dalam dubur penderita, terdiri dari campuran minyak kelapa dan bawang putih.
Selain dengan ramuan, masyarakat Jawa kuno turut mengupayakan kesehatan secara rohani, yaitu dengan pengucapan syair tertentu yang ditembangkan. Biasanya, apabila yang terserang penyakit adalah bayi atau anak balita, ibunya akan membungkusnya dengan "gedong", kemudian menembangkan syair kuno. Syair ini nampaknya memiliki kekuatan magis yang dapat mempengaruhi kesehatan. Salah satunya adalah dengan cara dinyanyikan pada si penderita, berikut syairnya:
Yen nangis lare puniku
Lela lelalen anuli
Supaya doh king lelara
Sarap sawane alari
Tan wani anyedekana
Saking rokhmate Gusti Allah
Pitik tulang pitik tukung
Tetulake jabang bayi
Situlak tunggu ning marga
Situkung mangungkung ngarsi
Cacing recek samya ilang
Krumo kremi pada mati
Demikian ulasan artikel mengenai tata cara pengobatan tradisional untuk mengobati penyakit Kreminen. Meskipun telah tersedia secara tradisional, dewasa ini masyarakat diharapkan sudah mampu melakukan pengobatan dengan cara yang lebih modern dan mumpuni.
Sekian artikel dari saya, semoga bermanfaat.
#OSKMITB2018
Layanan Halo BNI tersedia selama 24 jam penuh setiap hari dan dapat diakses melalui WhatsApp ( 081252934601 ) info lebih lanjut.Layanan Halo BNI tersedia selama 24 jam penuh setiap hari dan dapat diakses melalui WhatsApp ( 081252934601 ) info lebih lanjut.
GELOMBANG EKSODUS I. Pelarian Di Pacitan Ketika panji-panji emas Majapahit tercabik oleh perang perebutan warisan dinasti, sejarah arus utama seolah menoleh ke arah lain. Yang tercatat kemudian hanyalah runtuhnya tiga pusat kekuasaan besar secara beruntun: Wilwatikta-Trowulan yang ambruk pada 1478 M, Kediri di bawah Girindrawardhana yang tumbang dua dasawarsa kemudian, serta: Lenyapnya benteng pertahanan terakhir Patih Mahodara pada 1527 M. Di balik kronik pergantian rezim itu, tersimpan kisah lain yang jauh lebih megah dan tragis: kisah manusia-manusia yang terseret arus perubahan kekuasaan baru, Demak Bintoro. Seusai kemenangan Ranawijaya atas kubu Bhre Kertabhumi, muncul kebutuhan mendesak untuk membangun dasar legitimasi baru. Upaya itu dijalankan melalui jejaring brahmana, penetapan tanah-tanah sima yang dibebaskan dari kewajiban pajak, penguatan tradisi Buddha-Siwa, serta pembentukan identitas Keling yang berpusat di Daha. Dalam pandangan para pendukungnya, ide...
Sejarah Senjakala Majapahit-Daha II. Patih Udara/Mahodara Berkuasa (1498 M) A. Krisis Demi mempertahankan kekuasaan di tengah impitan ekonomi dan bayang-bayang kehancuran, Ranawijaya memperlakukan rakyat kecil pedalaman sebagai sapi perah guna mendanai prajurit yang butuh logistik besar menghadapi kelompok pembangkang yang mulai tumbuh kembali. Pembangunan Kedaton baru beserta sistem pertahanan militer di Daha dalam waktu delapan tahun membawa kesengsaraan yang luar biasa bagi kaum tani di sepanjang aliran Sungai Brantas yang subur. Dinasti Girindrawardhana memberlakukan sistem kerja paksa, yang dikenal sebagai kerja gaga, secara militeristik demi mendirikan kompleks istana bata merah yang megah serta jaringan perbentengan baru. Di sisi lain, ribuan petani dipaksa meletakkan bajak dan cangkul mereka untuk mengangkut batu kapur dari perbukitan selatan, menebang pohon jati di belantara, serta mencetak jutaan bata merah untuk dinding pertahanan. Kesengsaraan ini kian mencekik...
SENJAKALA MAJAPAHIT I (1478 M) > Senjakala Majapahit bukanlah sebuah cerita tentang kelanjutan kemaharajaan yang tenang di bawah asuhan para resi yang bijaksana. Sebaliknya, ia merupakan sebuah panggung sejarah yang rapuh, berdarah, dan diperebutkan oleh kelompok-kelompok politik yang haus akan pengakuan kekuasaan. Demi melunasi dendam masa lalu, menegakkan kehormatan keluarga, dan mengejar ego dinasti, faksi-faksi pemberontak ini tanpa sadar telah memeras keringat rakyat, merampas hak atas tanah perdikan, dan mengirim ribuan rakyat jelata (kawula) Jawa ke lubang kematian yang sia-sia. I. Senjakala Pertama Majapahit Trowulan (1478 M) A. Pemberontakan Ranawijaya (Keling-Daha) Brawijaya IV saat bertakhta sebagai Maharaja Majapahit bergelar Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Singhawikramawardhana terpaksa mundur ke basis pertahanan keluarganya di Kediri. Setelah terusir dari Trowulan oleh kudeta Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) pada tahun 1468 M, Brawijaya IV menyelamat...
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...