Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
cerita rakyat Sulawesi Selatan Bulukumba
Penamaan kecamatan di kabupaten Bulukumba
- 24 Juni 2016

MENYELISIK PENAMAAN KECAMATAN DI KABUPATEN BULUKUMBA (BAGIAN PERTAMA)

 

            Berbicara tentang wilayah Administratif kabupaten Bulukumba seperti saat ini maka kita perlu merunut masa. mulai dari tahun 1511 saat Malaka jatuh di tangan bangsa Portugis. Kedatangan bangsa-bangsa barat ke nusantara pada abad ke-16  mula-mula karena ketertarikan mereka akan rempah-rempah yang berasal dari kepulauan maluku. Hal senada juga di ungkapkan salah satu makalah tentang awal mula penamaan Bulukumba dalam naskah lontara Jayalangkara, dalam naskah lontara tersebut dengan jelas telah tertulis kata Bulukumba.

            Lontara Jayalangkara atau dapat juga disebut makassarsche Chrestomathik adalah sejarah Gowa Tallo. kata Bulukumba tersendiri dalam Lontara Jayalangkara Lengkapnya tertulis "... iaminne  Karaeng Tumapa’risi Kallonna ambetai Garassi, ambetai Katingang, Parigi, Siang, Sidenreng, Lembangang, angngallei sabukatina Bulukumba, Silayara, ambetai Panaikang, Madallo, Cenrana, Karaenna Tu Marusuka,Tu Polombangkengnga, Tu Bonea....." dan sebaris kalimat yang bisa jadikan petunjuk tahun yang mana menyebutkan " .... julutaungngi nibetana garassi, nibetana todong malaka ri paranggia..." yang mana pada kalimat tersebut menyebutkan Malaka jatuh di tangan Portugis (Paranggia).


            Kali ini, kita hanya akan membahas bagaimana proses awal terbentuknya Kecamatan yang saat ini ada di wilayah Administratif Kabupaten Bulukumba pada masa kolonial Belanda. Masuknya bangsa-bangsa Eropa ke Indonesia yang di mulai oleh Portugis dengan merebut Malaka pada tahun 1511 dan disusul oleh Spanyol pada tahun 1521 yang kemudian belakangan Belanda yang berlabuh di Banten pada tahun 1596.


            Singkat cerita, bermula pada tahun 1824 Gubernur Jenderal Hindia Belanda G.A.G.I Van Der Cappellen membentuk sebuah komisi yang ditugaskan untuk meneliti dan membuat laporan mengenai keadaan Sulawesi Selatan dan kemudian berangkat ke Makassar pada bulan Juni 1824 dan mengundang Raja-raja Sulawesi Selatan untuk diajak berunding mengenai pemerintahan Belanda.
            Perjanjian tersebut tersebut dinamakan  "Bungayas Contract te Oejoeng Pandang Verniew" dan kemidian di tanda tangani oleh kedua belah pihak antara Pemerintahan Kolonial Belanda dengan Raja-raja di Sulawesi selatan pada tanggal 9 Agustus 1824 di Makassar meskipun beberapa Raja-raja di Sulawesi selatan tidak hadir. Berdasarkan perjanjian Bungaya yang diperbaharui tersebut, maka Pemerintahan kolonial Belanda memiliki kewenangan  yang luas untuk memulai pemerintahannya di Sulawesi selatan secara mutlak dan bahkan sulawesi secara keseluruhan dengan nama "Celebes en Onder Horigheden" yang berkedudukan di Makassar. Secara keseluruhan daerah Sulawesi selatan kemudian di bagi menjadi tiga jenis kekuasaan  Gubernemen Hindia Belanda.


            Pertama, Daerah Gubernemen yang langsung di bawah kekuasaan pemerintah Hindia Belanda. Kedua, Daerah-daerah Gubernemen yang langsung dikuasai dan diurus oleh Gubernemen Hindia Belanda. Ketiga, Daerah-daerah yang menjadi sekutu Gubernemen yang disebut Bondgenootschappelijke Landen.


            Posisi Bulukumba pada tiga daerah Gubernemen Hindia Belanda tersebut ada pada Daerah pertama ialah dalam Distrik Bonthain dan Bulukumba. beberapa distrik diantaranya ialah Distrik Makassar, Distrik utara (Maros), serta pulau selayar dan pulau sepanjang pantai barat pulau sulawesi. Dalam Regering Reglement (RR) tahun 1854 wilayah Indonesia dibagi secara administratif dalam gewest-gewest yang ditetapkan oleh raja di Nederland, dan pada pembagian terakhir pada tahun 1942 Hindia belanda hanya dibagi menjadi 8 gewest, yaitu lima gewest di jawa dan madura dan tiga gewest di luar jawa dan madura.

 

 

 


            Pada pemerintahan Gewest Sulawesi (Celebes en Onderhorigheden) membuat struktur lembaga-lembaga yang berkedudukan di Minahasa, selanjutnya pada tahun 1860 birokrasi Kolonial semakin tampak kemajuan perkembangannya dengan bertambahnya beberapa jabatan penting di dalam organisasi pemerintahan.Pada tahun 1924, Gewest Celebes En Onderhorigheden dibagi menjadi delapan Afdeling yang kemudian di ubah kembali berdasarkan Standblad 1922 No 216 menjadi tujuh Afdeling dalam Celebes En Onderhorigheden dalam rangka penyesuaian perubahan.


            Ketuju Celebes En Onderhorigheden tersebut adalah, pertama Afdeling Makassar, Afdeling Bontain, Afdeling Bone, Afdeling Pare-pare, Afdeling Mandar, Afdeling Luwu, Afdeling Buton.

Dari ketuju Celebes En Onderhorigheden terakhir tersebut Kabupaten Bulukumba yang saat ini berada dalam Afdeling Bontai.


            Berdasarkan Nota (Gedagteekend Den Haag, 12 Februari 1920) Bulukumba merupakan Daerah Onderafdeling di bawah Afdeling Bontain yang mana terdiri dari enam Distrik, yakni Pertama  Distrik Kajang, Distrik Bira, Distrik Kindang, Distrik Bulukumba Towa, Distrik Gantarang, dan Distrik Ujung Loe.


Bersambung...

 

Bulukumba, 12 Juni 2016

Penulis : Zulengka Tangallilia

 

Sumber :

*Mukhis. P, dkk. 1995. Sejarah Kebudayaan Sulawesi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Sulawesi. Jakarta.

**Muhannis. 2012. Penulusuran Hari Jadi Bulukumba Diantara Lontara dan Naskah Sejarah. Makalah. Sinjai.

***Gravenhage, Martinus Nijhoff. 1933. Adatrectbundels (XXXVI : Borneo, Zuid-Selebes, Ambon Enz.

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Panduan Memahami Asal Usul Gresik:
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Timur

Panduan Memahami Asal Usul Gresik: Dari Jejak Sejarah hingga Etimologi Nama Gresik, yang dijuluki Kota Wali karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Jawa, merupakan salah satu wilayah bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa. Memahami asal usul daerah ini tidak hanya menyangkut pengetahuan kronologis semata, tetapi juga memerlukan analisis terhadap berbagai lapisan sumber—dari prasasti kuno, naskah babad, hingga catatan kolonial. Panduan ini dirancang untuk membantu pembaca menavigasi kompleksitas historiografi Gresik secara sistematis, mulai dari etimologi nama hingga penetapan identitas administratifnya sebagai kabupaten. Sumber Sejarah dari Masa Jawa Kuno Dalam tradisi historiografi Indonesia, Gresik menempati posisi unik karena keberadaan sumber-sumber tertulis dari periode Jawa Kuno. Dua dokumen kuno menjadi landasan utama bagi para sejarawan dan budayawan dalam menelusuri akar historis wilayah ini (Sumber 3). Pertama, Babad Hing Gresik merupakan naskah sejar...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rambu Solo':
Ritual Ritual
Sulawesi Selatan

Rambu Solo': Ketika Kematian Menjadi Perayaan Perjalanan Bagaimana mungkin kematian—yang di banyak budaya menjadi momen duka dan kehancuran—diubah menjadi sebuah pesta yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Bagi Suku Toraja di Sulawesi Selatan, kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan terakhir yang memerlukan persiapan ritualistik yang rumit dan mahal. Inilah inti dari Rambu Solo' , upacara pemakaman dalam ajaran Aluk Todolo yang mengubah penguburan menjadi sebuah spektakul budaya penuh makna. Menunggu di Antara Dua Dunia Paradoks pertama dari Rambu Solo' terletak pada pengertian kematian itu sendiri. Dalam logika Aluk Todolo —kepercayaan leluhur Suku Toraja—seseorang yang baru meninggal secara fisik belum benar-benar "mati" secara spiritual. Mayat akan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah, bukan untuk segera dikubur, melainkan menunggu waktu yang dianggap tepat (Sumber 4). Masa tunggu ini bisa berlangsung berm...

avatar
Kianasarayu