Permainan Tradisional
Permainan Tradisional
Permainan Tradisional Sulawesi Tenggara Kendari
Pasosso
- 30 November 2018
 

Kenangan masa kanak kanak, sering kali membuat kita terasa ingin mengulang kembali saat saat indah penuh keceriaan bermain bersama teman teman waktu kecil dulu, dunia anak anak dunia penuh ekspresi, persahabatan dan hanya keceriaan tanpabatas batas golongan atau kelas strata sosial. Begitulah kami dulu anak anak dari kota kecil di Kendari yang menikmati dunia kanak kanak kami dengan permainan permainan “tradisional”, maklum permainan yang berbau teknologi seperti game on line atau Play Station sekarang ini di jaman kami dulu itu belum ada, kalaupun ada jenis jenis permainan yang “berteknologi” namun itu hanya terbatas pada teman teman anak orang mampu saja namun secara umum kami semua dan termasuk anak orang mampu lebih menikmati permainan tradisional seperti main enggo lari atau enggo sembunyi, main asin (gobak sodor), main cele (main benteng), main tar tar pakai sodokoro (senjata bambu dengan peluru bunga jambu air atau kertas yang dibasahi) main dende, main cukke (bahasa jawa Bhentik), main kelereng serta layangan dan lain sebagainya.

Namun ada satu permainan kami yang sangat seru dan sangat membekas dalam kenangan yakni permainan pasosso’ atau dalam bahasa indonesianya prusutan atau berseluncur, namun pasosso’ yang kami mainkan ini berseluncurnya di atas rumput alang-alang atau ilalang. Permainan pasosso’ ini merupakan permainan anak-anak di Daerah kami di Sulawesi Tenggara yang di wilayahnya yang berbukit-bukit banyak ditumbuhi oleh rumpun ilalang Saking senangnya kami bermain pasosso’ ini sampai-sampai ada diantara kami yang bolos sekolah, karena kami main pasosso’ ini siang hari maka teman yang kebetulan sekolah siang akan membolos sekolah, yang kemudian asyik bermain hingga magrib tiba bahkan kadang sampai gelap baru kami berhenti bermain.

Bermain pasosso’ ini kami lakukan di sebuah bukit kecil di belakang kompleks perumahan tempat kami tinggal, bukit setinggi 30 – 40 meter dengan kemiringan 45º yang ditumbuhi ilalang, pada musim musim tertentu ketika rumput ilalang ini cukup lebat, maka kami anak anak kompleks beramai-ramai mulai membuat landasan seluncur dengan cara merebahkan rumpun rumpun ilalang searah dari puncak bukit menuju bawah bukit, ini kami lakukan dengan kompak dan penuh canda dan tawa merebahkan ilalang yang setinggi dada kami, rasa gatal akibat goresan ilalang tidak kami pedulikan yang penting landasan seluncur dapat segera selesai kami buat, setelah rumput ilalang telah rata kami rebahkan, selanjutnya kami menyisir landasan seluncur untuk mencari dan membersihkan landasan dari kayu kayu atau ranting-ranting serta batuan yang dapat membahayakan saat kami meluncur, membuat landasan ini biasanya memerlukan waktu dua hari sampai landasan seluncur siap untuk kami pakai berseluncur.

Oh iya alas seluncur yang kami pakai secara tradisional biasanya adalah pelepah daun kelapa atau pinang, namun karena di kompleks kami jarang atau sulit mendapatkanya maka kami harus mencari akal dan memutar otak untuk mencari ide-ide atau inovasi bahan alas apa yang bisa kami gunakan, yang pastinya bahan alas itu harus dapat meluncur dengan cepat, kuat atau tahan lama, nyaman dan mudah dikendalikan, dan umumnya kami mengantinya dengan kantong bekas semen atau jerigen air bekas ukuran 20 liter yang kami belah dua. Untuk mendapatkan bahan bahan itu biasanya kami bergerilya ke proyek proyek bangunan untuk mencari kantong bekas semen demikian pula jerigen bekas yang sudah rusak kami cari di tetangga, pokoknya semua bahan yang kami pakai adalah bahan bekas yangtak perlu dibeli. Alas seluncur ini kami pakai dengan cara duduk diatasnya dan berpegang pada ujung depan alas seluncur sebagai pengendali.

Asyiknya bermain pasosso’ atau berseluncur di atas ilalang ini, memberi sensasi keseruan serta ketegangan dimana kecepatan meluncur dari ketinggian dan lintasan luncur sepanjang kira-kira 50 – 60 meter, dengan medan yang bergelombang, belum lagi di sebelah kiri lintasan ada jumpingan setinggi hampir satu meter, yang dengan sedikit nyali apabila kita jumping akan mendarat dengan sedikit keras dan berguling-guling yang walaupun terasa sakit bahkan sampai terkilir atau lecet tidak membuat kami kapok, kami hanya tertawa-tawa sambil dengan terpincang-pincang menahan sakit terus berlari membawa alas seluncur kembali naik ke bukit untuk terus meluncur lagi, kami kadang berlomba siapa yang paling laju berseluncurnya, karena landasan seluncur tidak begitu lebar maka kami berseluncur biasanya bergiliran untuk menghindari saling tabrak. Namun kadang dalam bermain seluncur ini ada juga kawan yang iseng dengan mengikat atau menyimpul ilalang sehingga jika ada teman yang tidak melihat simpul itu dan melewatinya pastilah akan terguling dari seluncurannya dan akan menjadi bahan tertawaan teman-teman yang lain. Bermain seluncur atau pasosso’ ini selain menguras tenaga karena harus naik turun bukit, juga membutuhkan keberanian serta kelincahan dalam mengendalikan seluncuran, juga semangat dan tolong menolong jika ada teman yang terjatuh, begitulah dengan bermain seluncuran ini kami anak anak Kompleks Perumahan Tumbuh, baik yang dari kalangan biasa maupun anak-anak orang yang berada selalu dalam kekompakan dan persahabatan yang kental diantara kami, yang kenangannya masih membekas sampai sekarang ini lebih dari 30 puluh tahun lalu.

Main seluncuran ini biasanya hanya berlangsung selama 2 atau 3 minggu saja karena rumput ilalang yang jadi landasan seluncur akan mengering dan mati, maka kami akan kembali mencari permainan lainnya dan menunggu tahun berikutnya sampai ilalangnya cukup tinggi dan lebat, namun sekarang seiring dengan perkembangan kota lokasi tempat kami dulu bermain pasosso’ ini sudah lama hilang, begitu juga dengan jenis jenis permainan tradisional lainnya yang sering kami mainkan dulu, dan generasi generasi setelah kami hanya dapat mengetahuinya lewat cerita-cerita kami. Padahal ragam permainan tradisional yang sering kami mainkan dulu begitu dalam mengandung arti dan pesan filosofis bagi anak anak.

Ketika saya membaca Kompasiana mengadakan kompetisi blog eksplorasi permainan tradisional bersama kemenparekraf melalui Indonesia Travel ingatan seru saya langsung kembali pada keseruan dan keceriaan masa lalu saat bermain pasosso’. Walaupun bermain pasosso’ di atas ilalang ini saat sekarang sudah sangat jarang namun saya berharap agar permainan ini bisa sekali sekali dimasyarakatkan melalui rangkaian permainan outbond, di daerah kami di sekitar Kendari dan juga di Indonesia masih bisa kita temui bukit-bukit landai dengan padang ilalang di atasnya, saya yakin ini akan sangat menarik dan menantang dengan mendesain lintasan luncur sesuai keinginan. Kalau di Eropa sana mereka berseluncur di atas salju maka kami di Kendari dan Sulawesi Tenggara berseluncur di atas ilalang.



Melestarikan ragam budaya nusantara termasuk permainan permainan tradisional anak anak nusantara yang merupakan kearifan lokal masyarakat kita merupakan wujud rasa cinta tanah air, wujud nasionalisme kita, dan tidak itu saja semoga segala kekayaan budaya tradisional kita dapat terus lestari dan diperkenalkan ke dunia internasional sebagai bagian dari industri pariwisata kita melalui Indonesia Travel dan Kemenparekraf.

Sumber: https://www.kompasiana.com/chsabara/552e14036ea8347a348b4574/berseluncur-di-atas-ilalang-pasosso-permainan-masa-kecilku-di-kendari

#SBJ

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno Candi Miri merupakan salah satu situs candi Hindu yang menjadi bagian dari warisan arsitektur religius Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penyebaran pusat-pusat keagamaan yang strategis pada periode klasik Jawa. Sebagai candi Hindu, Candi Miri mencerminkan adaptasi tradisi arsitektur India yang dikembangkan dengan karakteristik lokal Jawa Kuno, berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Sejarah & Latar Belakang Candi Miri didentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Sumber 4). Letaknya berada di wilayah administratif Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah peradaban Jawa klasik. Terdapat variasi dalam pencatatan lokasi spesifik candi ini. Beberapa sumber merujuk lokasi Candi Miri di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo (Sumber 1, Sumber 2, Sumber...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak Di tengah kekayaan kuliner Indonesia yang tak terhingga, Babi Panggang Karo (sering disingkat BPK) muncul sebagai sebuah mahakarya rasa yang menghadirkan jejak budaya dan tradisi dari tanah Sumatera Utara. Lebih dari sekadar hidangan, BPK adalah manifestasi dari identitas masyarakat Karo, sebuah sajian yang kaya akan aroma, rempah, dan cerita. Mengapa BPK begitu istimewa, dan bagaimana ia menjadi simbol kebanggaan kuliner bagi suku Karo? Mari kita telusuri keunikan dan daya pikatnya. ## Andaliman: Jantung Rasa BPK Rahasia di balik kelezatan BPK terletak pada penggunaan rempah-rempah khas, dan yang paling menonjol adalah andaliman. Dikenal juga sebagai "merica Batak" atau "sichuan pepper"-nya Indonesia, andaliman memberikan sensasi rasa yang unik dan tak tertandingi: pedas, sedikit asam, dan yang paling khas adalah efek kebas atau "getar" di lidah (Sumber 2). Rasa yang identik dan aroma yang kuat dari andal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis
Motif Kain Motif Kain
Papua

Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis batik khas Papua yang dikenal dengan corak unik dan makna mendalam. Berbeda dengan batik dari daerah lain di Indonesia, batik Papua, termasuk Kamoro, memiliki ciri khas motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya suku asli di sana (Sumber 1, Sumber 3). Batik ini secara spesifik menampilkan corak khas Timika, yang terinspirasi dari suku Kamoro dan keindahan alam sekitarnya (Sumber 1). Batik Kamoro tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga merupakan representasi semangat dan keberanian penduduk asli Papua (Sumber 2). Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya merefleksikan kehidupan masyarakat adat, menjadikannya salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan. ## Motif dan Makna Batik Kamoro Motif utama batik Kamoro sangat khas dan mudah dikenali. Corak yang sering ditemukan pada batik ini meliputi: ### Simbol Patung Salah satu motif yang paling menonjol pada batik Kamoro adal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Dendam Rajo sang Manusia Harimau Putih
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...

avatar
Mahlil Azmi
Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...

avatar
Kianasarayu