Lamaran merupakan pertemuan resmi antara kedua pihak keluarga untuk membicarakan hari pernikahan. Dalam adat Jawa, apabila pihak wanita sudah menyatakan persetujuan atas lamaran yang diajukan pihak pria, maka disepakatilah simbol pengikat dan tanda kasih sayang yang disebut paningset.
Semula, prosesi seserahan dilaksanakan secara terpisah dari prosesi paningset. Hanya saja demi alasan efesiensi waktu seserahan kerap dibarengi dengan penyerahan paningset. Inilah sebabnya terjadi salah kaprah peberdaan seserahan dan paningset.
Dalam hal ini paningset diserahkan dari pihak mempelai pria kepada mempelai pria berupa sejumlah barang atau uang yang telah disepakati sebagai tanda kasih sayang dan ikatan kekeluargaan. Benda-benda seserahan sendiri lazimnya berupa benda-benda favorit calon mempelai wanita sepeti kosmetik dan keperluan pesta pernikahan seperti berupa pisang sanggan,makanan, buah-buahan, dan lainya. Selain itu, jumlah benda seserahan juga dipilih agar berjumlah ganjil.
Untuk seserahan, jumlah dan bentuk barang yang diberikan sangat bervariasi tergantung keinginan mempelai wanita serta kesepakatan antara kedua belah pihak keluarga calon pengantin. Tak ada ketentuan barang apa saja yang harus dihadiahkan. Namun seiring perkembangan zaman, seserahan juga dilengkapi perhiasan dan sejumlah uang. Bahkan, dikemas secara menarik dan ekskluusif.
Sedangkan dalam tradisi kultur Jawa, terdapat tiga jenis paningset yang diberikan yaitu; paningset utama, paningset abon-abon, dan pangiring paningset atau panigset pangiring.
Paningset utama ; berupa perlengkapan pakaian wanita yang terdiri dari setagen, kain batik, sindur yaitu selendang panjang berwarna merah dan puth, serta semekan (penutup payudara). Sesuai perkembangan zaman, barang-barang yang diserahkan sebagai peningset dan sekaligus juga untuk srah-srahan semakin bervariasi dan lengkap, antara lain juga berupa perhiasan, perlengkapan pakaian, tas, sepatu, aksesori, kosmetik, dan lain sebagainya.
Paningset abon-abon ; sebagai simbol pengikat antara keduabelah keluarga calon pengantin. Terdiri dari jeruk gulung atau jeruk bali, tebu wulung atau tebu hitam, nasi golong (nasi yang dibentuk menjadi bulatan dan setiap bulatan dibungkus daun pisang), pisang mas, dan seperangkat perlengkapan makan sirih.
Pangiring paningset ; biasanya sebagai pelengkap atau pengiring yang berisi hasil bumi. Bermakna untuk membantu meringankan anggaran tuan rumah penyelenggara hajatan. Dewasa ini disertakan pula aneka macam kue untuk mempereat hubungan kedua belah pihak.
Srah-srahan bisa dilaksanakan dengan waktu flexibel, tergantung persetujuan dari kedua pihak. Pada umumnya acara ini dilakukan malam hari jelang Ha pernikahan. Paningset diserahkan oleh pihak calon mempelai pria kepada pihak calon mempelai wanita paling lambat lima hari sebelum hajat perkawinan diselenggarakan. Dengan pertimbangan praktis
Seusai upacara seserahan, pihak keluarga mempelai wanita diwakili oleh ibu mempelai wanita menyerahkan angsal-angsul sebagai balasan atau oleh-oleh kepada pihak keluarga mempelai pria untuk dibawa pulang. Selain aneka makanan dan buah-buahan, orangtua calon mempelai wanita (yang diwakili oleh ayah) akan memberi calon pengantin pria seperangkat pakaian pengantin pria untuk dikenakan pada upacara panggih (pertemuan kedua mempelai).
Seserahan dibawa oleh para pemuda dan pemudi yang membawa keranjang, baki, bokor, dan sebagainya. Rombongan dipimping oleh seorang yang telah ditunjuk oleh pihak orangtua calon mempelai pria, didampingi oleh dua orang sesepuh.
Calon mempelai pria diapit oleh dua orangtua diikuti oleh saudara kanduung, ipar, dan para famili terdekat yang ikut serta. Sebaiknya jumlah rombongan pihak pria saat upacara srah-srahan tidak terlalu banyak, dibatasi hanya keluarga inti saja.
Sumber: http://mahligai-indonesia.com/pernikahan-nusantara/mengenal-kebaya-sulam-dan-maknanya-5797
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...