Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Jawa Barat Sunda
Pamali
- 13 Agustus 2018
Siapa sih yang tidak tahu masyarakat Sunda? Suku Sunda mempunyai banyak sekali kearifan lokal yang unik. Ada satu kepercayaan yang disebut "pamali". Pamali adalah bahasa Sunda yang artinya kurang lebih adalah "suatu hal atau tindakan yang tidak boleh dilanggar". Jika dilanggar, maka akan ada hal buruk yang terjadi. Ada banyak sekali pamali yang dikenal oleh masyarakat Sunda. Menurut Fifi Febriyani Rachmawaty, seorang Sunda asli yang saat ini tinggal di Bandung dan merupakan ibuku sendiri, ada beberapa pamali paling umum dikenal oleh masyarakat, yaitu: 1. Ulah cicing di lawang panto (jangan duduk di ambang pintu) Jika seorang perempuan duduk di ambang pintu, maka ia tidak akan dapat jodoh. Memang ini terdengar tidak masuk akal, tapi ada penjelasan asal mula pamali yang satu ini. Pada zaman dahulu, perempuan yang duduk di ambang pintu adalah perempuan yang tidak baik, sehingga tidak akan ada pria yang mau melamarnya. Duduk di ambang pintu juga akan menghalangi orang-orang yang hendak keluar masuk. 2. Ulah neuteukan kuku peuting-peuting (jangan memotong kuku pada malam hari) Katanya, jika kita memotong kuku pada malam hari, kita akan sakit. Asal mula pamali ini karena zaman dahulu belum ada gunting kuku sehingga orang-orang memotong kuku menggunakan pisau dan dulu juga belum ada lampu. Sehingga memotong kuku pada malam hari tentu berbahaya karena akan melukai jari kita akibat kurang penerangan. Nah, itu tadi adalah dua contoh pamali yang paling umum. Masih banyak pamali-pamali lainnya. Pamali memang terdengar seperti mitos karena kurang masuk di akal, tapi sebagian besar pamali memang diciptakan oleh orangtua-orangtua zaman dahulu agar anak-anak mereka tetap aman dan tetap menjaga sikap. Pamali sebenarnya tidak hanya ada di daerah Sunda saja. Setiap daerah di Indonesia memiliki pamali masing-masing yang khas dan unik. Kalau di daerah asalmu, ada pamali yang seperti apa? #OSKMITB2018

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker