Banyuwangi, kota yang berada di ujung pulau jawa yang menyimpan beribu khasanah seni dan budaya. Salah satunya, yakni jaran kecak paju gandrung. Perpaduan penari gandrung yang melakukan paju atau menari dengan kuda. Tidak mau punah karena pergeseran zaman, Paguyuban Jaran Kencak Paju Gandrung (JKPG) terus melakukan upaya pelestarian. Dengan cara melakukan arisan bagi pemilik kuda kecak.
Tidak hanya itu, JKPG juga selalu menampilkan kuda dan penari gandrung. Tak ayal, hal itu selalu menarik perhatian masyarakat.
Demi melestarikan tradisi asli Banyuwangi, Rugito mbahe Jaran Kencak mendirikan paguyuban bernama Jaran Kencak Paju Gandrung mulai tahun 1996. Tak ayal, hingga kini anggota paguyuban tersebut mencapai 23 orang. Setiap dua minggu sekali, mereka menggelar arisan sekaligus tontonan.
Suasana siang kemarin terasa sangat panas. Sengatan matahari, nampaknya tidak menyurutkan semangat warga Pakis untuk berbondong – bondong menyaksikan arisan sekaligus tontonan yang diselenggarakan oleh Paguyuban Jaran Kencak Paju Gandrung (JKPG).
Suara sound yang apa adanya itu, membuat puluhan warga mendatangi asal suara tersebut. Setibanya di lokasi, masyarakat sekitar langsung mencari tempat yang teduh. Mereka memilih menonton dari jarak jauh. Ada yang dipinggir sungai kecil, dan ada juga yang nonton di bawah pohon yang rindang. Namun, ada juga yang menonton di dekat kuda – kuda tersebut.
Rugito membawa kudanya. Selain itu, Yayan dan anggota lainnya sudah bersiap di kandang. Mereka menghias kudanya secantik mungkin. Pakaian yang digunakan kuda pun sangat bagus dan terbuat dari bludru dengan manik – manik yang berwarna warni.
Sedangkan, dua penari gandrung Tina, dan Sulastri sudah bersiap menunggu giliran paju. Sebelumnya, untuk menghibur penonton sambil menunggu kuda kencaknya bersiap Sulastri paju dengan para pemilik kuda.
Sesekali, penampilan Sulastri mendapatkan aplaus dari penonton. Gayanya yang luwes dan lincah membuat si pemaju selalu ingin menguntit pinggulnya.
Usai paju, Sulastri langsung istirahat sambil minum air putih yang berada di mejanya. Sedangkan, Tina masih duduk termenung menunggu giliran tampil.
Selang beberapa menit, jaran kencak yang berukuran besar dengan hiasan dan suara kemerincing di kakinya muncul di balik kerumunan penonton. Tiba – tiba dua ekor jaran kencak langsung meloncat – loncat begitu mendengar gending gandrung. Dikemudikan dengan pemiliknya, kuda tersebut melakukan paju dengan gandrung Tina. Sesekali, Tina melempar selendangnya ke arah kuda tersebut.
Usai dua kuda yang melakukan paju, lalu giliran kuda berikutnya yang melakukan paju dengan gandrung Sulastri. Tanpa ada rasa takut, Sulastri dan Tina menari bersama dengan kuda tersebut. ’’Sudah terbiasa ya, jadi tidak ada rasa takut,’’ kata Sulastri yang sudah 10 tahun menjadi penari paju dengan kuda tersebut.
Meski harus berhadapan dengan kuda, namun Sulastri harus bisa melihat gerak gerik kaki kuda yang menjadi teman duetnya itu. ’’Saya pernah sekali kena injak, rasanya sakit sekali,’’ katanya.
Namun, kebiasaan yang membuat Sulastri tetap ngelakoni profesinya itu. ’’Ini semua saya lakukan demi melestarikan tradisi Banyuwangi yang sudah hampir punah,’’ katanya.
Sementara gandrung Tina, yang lebih junior dari Sulastri juga tak kalah berani. Dia lebih lincah ketika berhadapan dengan kuda kencak. ’’Senang dan ikhlas, itu yang membuat saya menjalani profesi saya sebagai penari jaran kencak paju gandrung,’’ katanya.
Sebagai penutup acara tersebut, seluruh kuda memasuki arena pementasan. Acara pamungkas yakni seblang – seblang. Seluruh kuda memasuki arena pementasan, mengikuti alunan suara musik kuda – kuda tersebut berkeliling pementasan.
Rugito mengatakan membentuk paguyuban JKPG ini, sebagai langkah untuk melestarikan tradisi yang ada di Banyuwangi. Selama ini, khitanan selalu nanggap jaran kencak. Seiring perkembangan jaman, saat ini banyak warga khitanan yang melakukan tanggapan dangdut sehingga jaran kencak mulai tergusur. Dengan adanya, arisan ini JKPG ingin melestarikan dan mempertemukan para pemilik supaya tidak ikut punah.
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...
Ayam goreng adalah salah satu menu favorit keluarga yang tidak pernah membosankan. Namun, jika kamu ingin mencoba variasi yang lebih gurih dan harum, ayam goreng bawang putih renyah adalah pilihan yang tepat. Ciri khasnya terletak pada aroma bawang putih yang kuat serta kriukannya yang renyah saat digigit. Resep ini juga sangat mudah dibuat, cocok untuk menu harian maupun Bahan-Bahan Bahan Ayam Ungkep ½ kg ayam (boleh potong kecil agar lebih cepat matang) 5 siung bawang putih 4 siung bawang merah 1 sdt ketumbar bubuk 1 ruas kunyit (opsional untuk warna) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400 ml Bahan Kriuk Bawang 5–6 siung bawang putih, cincang halus 3 sdm tepung maizena ¼ sdt garam ¼ sdt lada Minyak banyak untuk menggoreng Cara Membuat Ungkep ayam terlebih dahulu Haluskan bawang putih, bawang merah, kunyit, dan ketumbar. Tumis sebentar hingga harum. Masukkan ayam, aduk rata, lalu tuang air. Tambahkan garam dan kaldu bubuk. Un...
Ayam ungkep bumbu kuning adalah salah satu menu rumahan yang paling praktis dibuat. Rasanya gurih, aromanya harum, dan bisa diolah lagi menjadi berbagai hidangan seperti ayam goreng, ayam bakar, hingga pelengkap nasi kuning. Keunggulan lainnya, resep ini termasuk cepat dan cocok untuk kamu yang ingin memasak tanpa ribet namun tetap enak. Berikut resep ayam ungkep bumbu kuning cepat yang bisa kamu coba di rumah. Bahan-Bahan ½ kg ayam, potong sesuai selera 4 siung bawang putih 5 siung bawang merah 1 ruas kunyit 1 ruas jahe 1 ruas lengkuas (geprek) 2 lembar daun salam 2 lembar daun jeruk 1 batang serai (geprek) 1 sdt ketumbar bubuk (opsional) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400–500 ml Minyak sedikit untuk menumis Cara Membuat Haluskan bumbu Blender atau ulek bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, dan ketumbar bubuk (jika dipakai). Semakin halus bumbunya, semakin meresap ke ayam. Tumis bumbu hingga harum Panaskan sedikit m...