Tari tradisional Pajjaga bone balla tidak diketahui siapa penciptanya dan hanya diketahui dari kisahnya dari mulut ke mulut. Menurut sejumlah orangorang tua pada masyarakat Bugis Luwu, tarian Pajaga bone balla diperkirakan ada sebelum Islam masuk di Kerajaan Luwu, di mana tarian ini selalu ditampilkan baik secara ritual maupun pada seremonial. Namun dalam perkembangannya, setelah agama Islam masuk di Kerajaan Luwu sekitar pada tahun 1604, Pajaga bone balla berubah fungsinya menjadi tari hiburan bagi raja-raja, bahkan menjadi tari penghormatan kepada tamu-tamu raja yang datang. Pajaga bone balla sering pula dipertunjukan pada malam hari, di saat pengawal sedang menjaga keselamatan raja, sehingga tari itu diberi nama tari Pajaga, yang artinya pengawal. Akan tetapi, tarian ini biasa juga disebut tari Istana, karena dimainkan di istana oleh anak anak bangsawan istana. Tarian ini gerakannya sangat beraturan halus dan lembut. Gerakannya digambarkan seperti putaran gasing, semakin kelihatan tidak goyang maka gerakannya dianggap semakin sempurna. Tarian ini oleh anak-anak bangsawan istana dijadikan sebagai sarana meditasi, menyempurnakan mental spiritual menuju ke tingkat kedewasaannya yang sempurna.
Sumber : Buku penetapan WBTB 2018
Egrang: Warisan, Keseimbangan, dan Semangat Anak Indonesia Identitas dan Asal-Usul Egrang adalah permainan tradisional Indonesia yang menggunakan dua bilah bambu sebagai alat pijakan untuk berjalan di atasnya. Permainan ini masih dikenal sebagai warisan budaya di berbagai daerah, sekaligus menguji keseimbangan, ketangkasan, dan konsentrasi pemainnya [S1][S3]. Di Jawa Barat, egrang secara spesifik diidentifikasi sebagai permainan anak-anak dengan sepasang bambu sebagai pijakan [S2]. Asal-usul egrang dihubungkan dengan masa kolonial berdasarkan catatan yang menyebut permainan ini tercatat dalam buku Javanese Kinder Spellen pada zaman Belanda [S1]. Namun, sumber tersebut tidak menguraikan kronologi sebelum masa kolonial atau memberikan informasi tentang prosesi ritual awalnya, sehingga narasi asal-muasal pra-kemerdekaan masih bersifat umum. Sentra aktivitas egrang terekam dengan jelas di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Di ruang publik Jalan Jendral Sudirman, Kelurahan Nagrika...
Gudeg Yogya: Warisan Keraton, Cita Rasa Abadi Identitas Kuliner Gudeg diidentifikasi sebagai hidangan khas Yogyakarta yang terbuat dari nangka muda yang dimasak dengan santan dan rempah-rempah [S1]. Hidangan ini berfungsi sebagai simbol warisan budaya yang dilestarikan dari generasi ke generasi, sekaligus menegaskan posisinya sebagai identitas kuliner daerah yang menjadi daya tarik budaya [S1][S5]. Keberadaannya merepresentasikan kekayaan kuliner regional yang memiliki jejak sejarah panjang dalam tradisi masyarakat Yogyakarta [S1]. Data sejarah menunjukkan bahwa gudeg pertama kali muncul pada abad ke-15 pada masa Kerajaan Mataram Islam [S2]. Sejalan dengan itu, tercatat bahwa sejarah kuliner ini berawal dari era Mataram Islam di Alas Mentaok [S3]. Pada masa awal kemunculannya, gudeg dikonsumsi oleh para prajurit dan rakyat biasa, yang mengindikasikan bahwa hidangan ini telah menjadi bagian dari pola konsumsi lintas kelas sosial sejak masa pembentukannya [S2]. Sayangnya, belum...
Kerokan: Sekadar Mitos Masuk Angin atau Lebih dari Itu? Identitas dan Asal-Usul Kerokan adalah praktik pengobatan tradisional dalam kategori pengobatan dan kesehatan yang dilakukan dengan menggosokkan benda tumpul—umumnya koin atau sendok—pada permukaan kulit yang telah diolesi minyak atau balsam [S1][S5]. Medium yang digunakan mencakup minyak kayu putih atau balsem, sementara indikasi utama praktik ini adalah keluhan masuk angin, pegal-pegal, dan rasa tidak enak badan [S1][S5]. Terdapat kesamaan kuat antarsumber dalam mendeskripsikan alat serta prosedur, meskipun [S1] lebih spesifik menyebut minyak kayu putih, sementara [S5] menggunakan istilah lebih umum berupa minyak atau balsam. Di Indonesia, kerokan menempati posisi sebagai metode pengobatan populer yang kerap dipertanyakan keamanan dan manfaat medisnya [S2][S3]. Sumber [S2] mencatat bahwa praktik ini menjadi subjek pertanyaan publik mengenai risiko dan efektivitasnya, meskipun tetap dipilih masyarakat untuk mengatasi keluh...
Saman: Lebih dari Sekadar Gerakan, Filosofi Gayo Abad ke-13 Identitas dan Asal-Usul Tari Saman merupakan warisan budaya tak benda dari Suku Gayo, Aceh, yang telah diakui oleh UNESCO dan secara spesifik dibawakan oleh laki-laki muda sebagai bagian dari permainan tradisi [S1]. Berdasarkan estimasi sejarah, seni pertunjukan ini diperkirakan sudah eksis sejak abad ke-13, meskipun catatan rinci mengenai tokoh pendiri atau peristiwa pembentukannya tidak diungkapkan dalam sumber yang tersedia [S2]. Identitas ini menempatkan Tari Saman sebagai produk kultural dengan akar etnis yang jelas, namun dengan penanggalan awal yang masih bersifat perkiraan. Secara fungsional, tarian ini pada mulanya dilakukan untuk mengisi waktu luang, sebagaimana dikutip dari laman Kemdikbud dalam referensi yang merangkum aspek historisnya [S1]. Berbeda dengan anggapan bahwa popularitasnya instan, sumber lain menegaskan bahwa Tari Saman memiliki sejarah panjang sebelum akhirnya mendunia dan dipentaskan dalam ac...
Egrang: Lebih dari Sekadar Mainan, Warisan Budaya yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Egrang merupakan permainan tradisional yang menuntut keseimbangan tubuh dengan menggunakan sepasang tongkat panjang yang dilengkapi pijakan kaki [S3]. Di berbagai daerah, permainan ini dikenal dengan nama berbeda, seperti engrang , tengkak , atau jangkungan [S5]. Secara umum, egrang dikategorikan sebagai permainan ketangkasan anak-anak, meskipun orang dewasa pun kerap memainkannya dalam konteks perayaan tertentu [S1]. Identitasnya melekat sebagai sarana hiburan sekaligus bagian dari sejarah kreativitas masyarakat Nusantara [S1][S5]. Upaya melacak daerah asal egrang secara pasti menghadapi tantangan karena permainan serupa tersebar luas di berbagai wilayah Indonesia. Sumber-sumber tidak menunjuk pada satu titik asal yang eksklusif, melainkan menggambarkannya sebagai fenomena budaya yang tumbuh di banyak komunitas agraris [S1][S5]. Salah satu pusat kehidupan egrang yang masih tercatat ak...