Paiya lo hungo lo poli merupakan salah satu kesenian tradisional gorontalo. Kesenian tradisional yang tergolong seni vokal. Kata paiya lo hungo lo poli berasal dari tiga buah kata dalam bahasa gorontalo yaitu kata paiya yang berarti melempar, Hungo berarti buah atau bunga dan poli yaitu nama sejenis bunga yang tumbuh di gorontalo yang daunnya kasar dan biasa dijadikan bahan lulur gadis remaja gorontalo. Sedangkan kata lo dalam kalimat tersebut merupakan awalan kata dalam bahasa gorontalo yang artinya saling. Sehingga jika diartikan maka paiya lo hungo lo poli yaitu saling melempar bunga poli.
Observasi yang dilaksanakan di desa wonggahu kecamatan paguyaman kabupaten boalemo menunjukan bahwa keberadaan seni musik tradisional paiya lo hungo lo poli semakin tidak diperhatikan lagi terutama sebagai media hiburan pada masyarakat. Padahal kesenian tradisional ini, merupakan salah satu kesenian tradisional daerah gorontalo yang keberadaannya perlu diperhatikan oleh masyarakat.
Hal ini terjadi karena pengaruh masuknya ragam seni musik modern dari manca negara yang banyak mempengaruhi kehidupan masyarakat terutama pergaulan bagi generasi muda. Hasil pengamatan peneliti dari enam dusun di desa wonggahu yaitu dusun sorfite, dusun bontuladidi timur, bonduladidi barat, dusun sombari, dusun tohupo, dan dusun datahu. Seni musik tradisional paiya lo hungo lo poli hanya terdapat dua dusun yaitu dusun sorfite dan dusun datahu. Itupun dimainakan oleh sebagian besar masyarakat yang ada dipedalaman dan hanya dilakukan pada acara - acara peringatan hari besar nasional dan hari besar agama. Sebagian masih dilaksanakan pada acara keluarga sekedar menghibur diri.
Keberadaan seni musik tradisional paiya lo hungo lo poli sudah jarang disuguhkan dalam acara - acara dalam kegiatan masyarakat. Masyarakat lebih menyukai penampilan keyboard pada acara - acara hajatan sehingga hal ini berdampak pada seni musik tradisional seperti paiya lo hungo lo poli semakin terpinggirkan alasan ini memotivasi peneliti untuk mengangkat permasalahan keberadaan paiya lo hungo lo poli dalam penelitian ini.
Paiya lo hungo lo poli merupakan tiga buah kata dari bahasa gorontalo yaitu Paiya yang berarti melempar dan hungo yang berarti bunga dan poli yang artinya nama jenis bunga kayu yang berbentuk bulat kecil - kecil. Sedangkan kata lo merupakan kata imbuhan dalam bahsa gorontalo yang artinya saling atau dengan berdasarkan uraian ini disimpulkan bahwa paiya lo hungo lo poli yang diartikan saling melempar bunga poli (hamida mantunlangi, 65 Tahun).
Sebagai salah satu jenis musik tradisional gorontalo paiya lo hungo lo poli diartikan sebagai musik dengan saling melempar kata - kata pantun yang dunyanyikan sehingga jenis musik ini tergolong musik vokal. Nyanyian musik tradisional paiya lo hungo lo poli tanpa diiringi oleh musik apapun walaupun pada perkembanganya sebagian telah diiringi oleh gambusi dan maruwasi.
Bentuk penyajian musik tradisional paiya lo hungo lo poli yaitu dilakukan oleh sepasang remaja laki - laki dan perempuan duduk berhadapan diatas pentas dan kemudian saling melempar pantun dalam bentuk nyanyian. Remaja pria biasanya mengenakan sarung dan peci sedengkan remaja perempuan mengenakan busana terusan tidak berjilbab. Keutamaan dari nyanyian pantun yaitu terletak pada isi dan temanya dan jawaban - jawaban antara penyanyi sehingga syair musik tradisional paiya lo hungo lo poli tidak tertulis secara spontan tetapi spontan menciptakan sendiri oleh penyanyi dalam musik tradisional paiya lo hungo lo poli.
Jenis - jenis tema syair musik tradisional paiya lo hungo lo poli sangat beragam yang disesuaikan dengan jenis kegiatan kapan paiya lo hungo lo poli dilaksanakan. Menurut salah seorang pemerhati seni (Sondo Lihu, 58 tahun) berdasarkan jenis kegiatan maka syair paiya lo hungo lo poli dapat dibedakan :
1. Paiya lo hungo lo poli Ponikawa
Contoh :
polipu mai malita tipuwa dila dadata
wanu ohila monika po odatawa harata
Artinya :
Marilah memetik rica, petik jangan banyak
Kalau sudah ingin menikah, kumpulkan banyak harta
2. Paiya lo hungo lo poli Biati dan tuna
Contoh :
Waupa mai olia, olia huluhululo
Podungohu loloiya salamati to tumulo
Artinya :
Tangkaplah elang, badan bulat
Dengarlah nasehat, agar selamat dalam hidup
3. Paiya lo hungo lo poli Religi
Contoh :
Pohama mai labiya, wohiya deli takiya
Popuasa po tabiya salamati to dunia
4. Paiya lo hungo lo poli Hiburan
Contoh :
Ti nene punoiyo, malulndulundu to hiyo
Sambe gaga tutubio, maodelo landingio
Artinya :
Si nenek punoiyo, ada diatas lidi
Sungguh indah pantatnya, tetapi iya sangat malas
Paiya lo hungo lo poli yang ada di desa wonggahu kecamatan paguyaman kabupaten boalemo dilaksanakan oleh masyarakat pada acara - acara maupun hiburan. Jika dilaksanakan pada acara hajatan dilakukan oleh pasangan laki - laki dewasa dan wanita dewasa. Tempat pelaksanaan adalah diteras rumah tempat hajatan. Tetapi, jika dilaksanakan untuk hiburan masyarakat biasanya dilakukan diatas panggung.
Pakaian yang dikenakan oleh pelaku Paiya lo hungo lo poli laki - laki mengenakan kemeja tangan panjang dan sarung sedangkan wanita mengenakan stelan busana muslim. Kedua penyanyi Paiya lo hungo lo poli duduk bersila diatas tikar kemudian menyanyikan Paiya lo hungo lo poli sambil berbalasan. Syair - syair Paiya lo hungo lo poli dibuat oleh penyanyi tanpa menggunakan naskah.
Pada dasarnya merupakan bagian dari musik vokal, karena seni dilakukan dalam bentuk menyanyikan syair pantun. Paiya lo hungo lo poli dilakukan oleh dua orang. Biasanya terdiri dari seorang wanita dan seorang laki - laki remaja maupun dewasa.
Tentang penyajian Paiya lo hungo lo poli salah seorang pakar seni di desa wonggahu kecamatan paguayaman kabupaten boalemo (Pakiki mani, 67 Tahun) menjelaskan bahwa penyajian Paiya lo hungo lo poli pada dasarnya dilakukan secara sederhana yaitu hanya bentuk nyanyian syair pantun secara berbalasan tetapi pada perkembangannya Paiya lo hungo lo poli mulai diiringi dengan musik gambus dan kemudian berkembang lagi mnenjadi iringan taari dana - dan tradisional. Ini merupakan perkembangan kesenian tradisional sehingga sekarang ini bentuk penyajian Paiya lo hungo lo poli sudah beragam (Hasil wawancara, 18 November 2013).
Syair Paiya lo hungo lo poli terdiri atas beberapa jenis syair ini disesuaikan dengan jenis hajatan maupun kegiatan yang akan dilaksanakan salah seorang pelantun Paiya lo hungo lo poli di desa wonggahu kecamatan paguyaman kabupaten boalemo menjelaskan bahwa jenis syair Paiya lo hungo lo poli sangat banyak, tetapi penggunaannya disesuaikan dengan jenis kegiatan maupun hajatan yang akan dilaksanakan seperti syair untuk pesta perkawinan (Ponikawa), untuk pembeatan dan sunatan (Biati) untuk kegiatan keagamaan maupun syair untuk hiburan. Namun dalam kegiatan tersebut Paiya lo hungo lo poli tetap dilakukan secara berpasangan baik menggunakan alat musik gambus maupun tanpa gambus (Hasil wawancara, 18 November 2013).
Keberadaan Paiya lo hungo lo polii di desa wonggahu kecamatan paguyaman kabupaten boalemo terdiri atas keberadaan bentuk Paiya lo hungo lo poli keberadaan pelaku seni Paiya lo hungo lo poli. Keberadaan peminat seni Paiya lo hungo lo poli dan keberadaan dukungan pemerintah setempat. Bentuk asli Paiya lo hungo lo poli merupakan nyanyian syair pantun secara berbalasan. Disamping itu terdapat bentuk syair Paiya lo hungo lo poli terdiri atas beberapa jenis yaitu untuk pesta perkawinan (Ponikawa). Untuk pembeatan dan sunatan (Biati) untuk kegiatan syair atau hiburan.
Keberadaan pelaku seni Paiya lo hungo lo poli di desa wonggahu kecamatan paguyaman kabupaten boalemo sebanyak sepuluh orang yang tersebar di beberapa dusun. Beberapa pelaku yang turun temurun dari orang tuanya yang diakibatkan karena tidak ada generasi muda yang ingin berlatih kesenian tradisional. Ge nerasi muda lebih suka bermain musik modern atau menyanyikan lagu yang populer.
Peminat seni Paiya lo hungo lo poli dapat dilihat dari antusias masyarakat dalam kegiatan penampilan Paiya lo hungo lo poli masyarakat yang menonton Paiya lo hungo lo poli terdiri dari beberapa kalangan ada kalangan manula, dewasa, remaja, anak - anak. Banyaknya pengujung pada setiap kegiatan Paiya lo hungo lo poli meruapakan indikasi bahwa peminat kesenian tradisional masih cukup banyak.
Pemerintah setempat dalam hal ini kepala desa wonggahu kecamatan paguyaman secara meteri kami memang belum memberikan dukungan secara materi terhadap perkembangan Paiya lo hungo lo poli namun dari segi motivasi kelak ada dukungan pada kegiatan Paiya lo hungo lo poli yang dilaksanakan di desa baik pada acara hajatan maupun pesta hiburan rakyat. Kepala desa selalu memberikan arahan kepada pelaku seni maupun pengunjung bahwa kesenian tradisional sebagai kekayaan daerah yang perlu dikembangkan.
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...