Permainan Tradisional
Permainan Tradisional
Permainan Tradisional anak anak Sulawesi Selatan Desa Patanyamang Kecamatan Camba Kabupaten Maros
Padati atau Pedati
- 3 Maret 2015
Di Desa Patanyamang terdapat dua suku yaitu suku Bugis dan suku Makassar (dentong), karena terdapat dua suku maka permainan ini penamaannya ada dua yaitu appadati atau mappadati. Appadati adalah memainkan padati, sedangkan padati itu adalah alat permainannya. Permainan padati termasuk permainan rekreatif yaitu dilakukan untuk mengisi waktu senggang saja. Kebanyakan anak yang memainkan permainan ini adalah anak laki-laki. Padati sendiri terbuat dari bahan dasar bambu dan kayu yang dibuat menyerupai sepeda. Permainan ini menitikberatkan pada kemampuan anak untuk berlari dan mendorong padati secepat mungkin. Anak-anak akan merasa lebih senang jika semakin jauh dia mendorong padati meninggalkan teman-temannya ketika berlari. Permainan ini tidak mempunyai tahap-tahap tertentu saat dimainkan. Bermain padati tergantung dari keinginan yang ingin bermain, apakah ingin berlomba dengan teman-teman ataukah hanya untuk bermain sendiri saja. Padati biasanya diberi kaleng-kaleng yang diikat karet, sehingga pada saat dijalankan maka padati itu akan berbunyi. Permainan Padati adalah melakukan permainan yang menggunakan padati untuk dimainkan oleh si pembuatnya. Potensi sumber daya alam di Desa Patanyamang sangat banyak, seperti bambu dan kayu sangat banyak ditemukan karena daerah pegunungan yang dikelilingi dangan hutan. Jadi bahan pembuatan padati sangat mudah ditemukan dan praktis. Permainan ini rupanya agak berbeda dengan permainan yang ada di daerah lain, yaitu padati di Desa Patanyamang digunakan untuk bermain sekaligus untuk bekerja,berbeda dengan daerah lain yang hanya digunakan untuk bermain. Hal ini dikarenakan daerah Desa Patanyamang saat itu belum mengenal pipa selang, sehingga untuk mengambil air disumur haruslah dengan memikul air. Biasanya air dipikul untuk dibawah kerumah sebanyak 4 sampai 6 maja/bila ( buah yang digunakan sebagai wadah air) sehingga sangat menyulitkan anak-anak. Jadi orang tua pada saat itu membuatkan anak-anak permainan yang menyerupai sepeda yaitu padati untuk digunakan mengangkut air supaya agak terasa lebih ringan, sehingga dengan demikian memudahkan anak-anak untuk mengangkut air kerumah. Selain itu anak-anak yang membawa air pikulan juga bisa bermain dengan senang, bahkan anak-anak yang memakai padati bisa membawa maja/bila sampai 10 hingga 15 maja/bila. Daerah Desa Patanyamang adalah daerah pegunungan yang jalannya berupa jalan tanah, selain itu sumber air warga cukup jauh dan hanya ada satu sumber air kecil yang bisa menampung satu RT, dan ada juga satu sumur air yang besar untuk satu dusun jika air habis di sumber air kecil. Jadi anak-anak di Desa Patanyamang sudah diajarkan untuk bekerja sejak kecil, sebab didaerah Patanyamang pekerjaan sangat banyak dan butuh fisik dan tenaga yang cukup. Permainan padati sesungguhnya mengajarkan anak-anak untuk bekerja membantu orang tua. Anak-anak dididik sejak dini untuk mau membantu orang tua dirumah. Padati diciptakan untuk memberi semangat anak-anak agar mau lebih giat membantu orang tua mengambil air, sebab jika anak-anak disuruh mengambil air untuk dipikul ke rumah akan membuat anak merasa terbebani. Anak-anak tidak boleh langsung diberikan pekerjaan berat, sementara ia masih dalam proses tahap pembelajaran dan butuh permainan. Permainan padati mengandung nilai budaya, yakni mengajarkan kepada anak-anak untuk rajin membantu orang tua bekerja, mereka diajarkan untuk tidak menjadi pemalas.

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker