Makanan Minuman
Makanan Minuman
Makanan Khas Sulawesi Selatan Toraja
Pa'piong
- 28 Maret 2017

Pa'piong adalah salah satu olahan dari Tana Toraja. Masakan ini cara pembuatannya cukup unik karena menggunakan bambu. Bahan utama makanan ini sebenarnya menggunakan daging babi, tapi bisa juga digantikan dengan daging ayam. Pa'piong ini mempunyai ceritanya tersendiri. Konon dahulu, ketika leluhur suku Toraja, Pong Gaunti Kembong, sedang terbang, dia melihat seorang wanita yang sangat menawan di daratan. Dia ingin menangkapnya. Sayangnya tatkala akan ditangkap, sang perempuan itu masuk ke dalam batu. Sang perempuan itu minta syarat Pa'Piong Sanglampa (satu ruas bambu dipiong). Pong Gaunti Kembong memenuhi syarat itu dengan membuat Pa' Piong Sanglampa. Akhirnya sang perempuan di batu tadi keluar dan dikawini Pong Gaunti Kembong. Dari perkawinan ini, kemudian lahir Puang Mattua. Puang Mattua ini menjadi leluhur yang disakralkan masyarakat Toraja. Dia bersemayam di sebelah utara Toraja (itulah kenapa Tongkonan selalu menghadap ke Utara). Inilah sedikit cerita mengenai asal-usul Pa'piong. Pa'piong dulunya disajikan pada acara-acara penting atau upacara-upacara adat. Namun sekarang, Pa' piong telah disajikan secara awam oleh masyarakat Toraja. Pa'piong kini telah menjadi masakan kebanggaan orang Toraja. Bila ingin mencoba sendiri rasa Pa'piong, silahkan cek resep di bawah ini.

Bahan-bahan:

  1. 500 g dada ayam, rebus, suwir
  2. 100 g kelapa tua, parut
  3. 100 g nangka muda, potong dadu
  4. 6 buah cabai rawit, iris tipis
  5. 2 butir bawang merah, iris tipis
  6. 1 siung bawang putih, cincang halus
  7. 1 sdm garam
  8. ½ sdm gula
  9. 2 cm jahe, iris tipis

 

Pembungkus:

  1. 1 lembar daun pisang
  2. 1 batang bambu ukuran sedang, bersihkan

 

Cara Membuat:

1. Campur semua bahan hingga rata.

2. Letakkan bahan yang telah tercampur di atas daun pisang. Bungkus dengan cara digulung hingga menyerupai lontong.

3. Masukkan ke dalam bambu. Panggang dalam oven panas bersuhu 240° C hingga matang (±120 menit).

4. Angkat. Keluarkan dari bambu. Sajikan panas disertai nasi.

 

Rumah Makan yang menyediakan Pa'piong:

  1. Rumah makan di Kota Makale, Kabupaten Tana Toraja
  2. Rumah makan di dan Kota Rantepao
  3. Warung-warung di desa-desa wilayah Toraja
  4. Warung Makan Pong Buri’, Jalan Emi Saelan Nomor 1 Rantepao, Toraja, +62 821-9452-8179
  5. Kafe Aras, Kota Rantepao, Jl. Andi Mappanyuki no. 64, Rantepao 91831, Indonesia, +62 853-4256-9641
  6. Rumah Makan Toraja, di Jalan Bundaran PU TDM V, Kelurahan Oebufu Kupang
  7. RM (Toraja) Solata, Jl. Summagung I Blok H5 No.8, RT.1/RW.2, East Kelapa Gading, Kelapa Gading, North Jakarta City, Jakarta 14240, 0813-1444-4295

 

Sumber:

1. http://www.iqbalkautsar.com/2013/02/papiong-kuliner-teristimewa-toraja.html?m=1

2. http://www.femina.co.id/article/pa-piong-burak-manu-

3. https://www.gayatravel.com.my/transcendental-journey-from-makassar-to-toraja/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Call center pinjamflexi
Seni Pertunjukan Seni Pertunjukan
DKI Jakarta

Hubungi call center resmi Pinjam Flexi (0857) 58337054 atau CS Pinjam Flexi (0831)69265049 dan melalui email cs@pinjamflexi.id. layanan customer service Pinjam Flexi dapat dihubungi Senin-Minggu pukul 08:00-23:00 WIB.

avatar
Pinjamflexi08
Gambar Entri
HUDON TANO (PERIUK TANAH)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
BENDA MAGIS MASYARAKAT BATAK
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker