Pa’piong tak lepas dari setiap acara adat yang digelar orang Toraja, baik acara pesta pernikahan hingga acara adat lainnya termasuk acara Rambu solo’. Pa’piong merupakan makanan yang dimasak menggunakan bambu memiliki khas sendiri karena memiliki berbagai bumbu masakan dengan rempah-rempah yang lengkap.
Untuk itu KabarToraja.com merangkum berbagai resep masak Pa’piong yang dikutip dari berbagai sumber, kali ini resep Pa’piong mengambil bahan daging dari kerbau. Meski pad umumnya bahan daging yang menjadi masakan orang Toraja yakni daging Babi. Namun tidak hanya itu bahan daging kerbau tak kalah nikmatnya jika menjadi bahan masak untuk Pa’piong.
Selain Daging, kerap masyarakat Toraja menjadikan Ikan Mas atau “Bale karappe” orang Toraja menyebutnya sebagai bahan pokok dari masakan Pa’piong tersebut, dan isi lainnya yakni sayuran dan bumbu menyatu didalam bambu pilhan untuk masakan Pa’piong.
Berikut cara masak Pa’piong, pertama-tama iris bahan baku seperti daging kerbau atau ikan mas. Lalu siapkan sayuran dan bumbu. Pada umumnya, warga Toraja menggunakan sayuran bulunangko atau daun mayana. Selain itu mereka juga biasa menggunakan burak atau batang pohon pisang yang masih muda.
Sementara itu siapkan pula bumbu-bumbu lainnya seperti, cabai, bawang merah, bawang putih, garam, potongan jahe, dan batang serai. Selanjutnya, bahan baku berupa daging kerbau atau ikan mas yang sudah di potong-potong dicampur dengan sayuran dan bumbu tersebut didalam bambu berdiameter 8—10 centimeter atau panjang bambu 30 hingga 40 centimeter.
Setelah semuanya menyatu dalam bambu pa’piong, ujung bambu bagian atas, ditutupi dengan daun batang pisang dan siap untuk dimasak. Hal tersebut dilakukan agar isi dalam bambu tersebut tidak keluar dan lebih meresap keseluruh isi didalamnya.
Uniknya cara masak Pa’piong karena dimasak dengan cara dibakar. Bambu Pa’piong diletakkan di atas perapian yang tengahnya terbentang batang kayu untuk menyandarkan bambu. Saat proses pembakaran, bambu harus sering-sering di bolak balik agar makanan di dalamnya merata masaknya dan tidak ada bagian yang mentah atau gosong.
Lama dari proses memasak pa’piong membutuhkan waktu hingga 1 hingga 2 jam lamanya. Hal tersebut juga bisa dilihat saat permukaan bambu menghitam dan menandakan pa’piong sudah masak, kemudian diangkat dari perapian dan siap untuk disantap.
Hingga saat ini masyarakat Toraja masih mempertahankan tradisi jika Pa’piong tak lepas dari adat Toraja. Bahkan tidak heran jika setiap pesta adat, Rambu Tuka’, Mangrara Banua, Rambu Solok dan acara adat lainnya Pa’piong menjadi makanan khas masyakarat Toraja.
Berikut resep masakan Pa’piong,
Bahan:
– Potong kecil daging, ikan mas potong dua (daging kerbau, ikan mas)
– Sayur Bulunangko, (atau Daun Mayan, ambil daunnya)
– Daun kemangi
– Cabai rawit (Lada Katokkon), iris tipis
– Bawang merah, iris tipis
– Bawang putih, cincang halus
– Daun jeruk
– Jeruk nipis
– Garam
– Gula (secukupnya)
– Jahe, iris tipis
– Batang pisang paling muda (burak).
Pembungkus:
1 lembar daun pisang
1 batang bambu ukuran sedang, bersihkan
Cara membuat:
Lumuri potongan daging atau ikan mas dengan air jeruk nipis, diamkan 15 menit, bilas, sisihkan.
Iris-iris batang pisang kira-kira setebal 1/2 cm, remas-remas atau ulek kasar.
Campur potongan daging/ikan mas, bumbu halus dan batang pisang juga sayuran bulunangko.
Tambahkan daun jeruk, cabai rawit utuh, aduk rata.
Beri air, tutup lalu panaskan hingga ayam matang dan air menyusut.
Beri garam, aduk rata.
Sebelum diangkat, masukkan daun kemangi, masak sebentar hingga kemangi sedikit layu
Letakkan bahan yang telah tercampur di atas daun pisang.
Bungkus dengan cara digulung hingga menyerupai lontong.
Masukkan ke dalam bambu. Panggang dalam oven panas bersuhu 240 C (60 menit)
Angkat, keluarkan dari bambu. Sajikan panas disertai nasi.
Source: https://www.kabartoraja.com/ini-resep-masakan-papiong-khas-toraja/
<!DOCTYPE html> Restore in Progress Hacked By Raxor404 The breach wasn’t impressive. Your protection was.
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
<!DOCTYPE html> Restore in Progress Hacked By Raxor404 The breach wasn’t impressive. Your protection was.
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la`` <pre><code><pre><code><pre><code><pre><code><pre><code><pre><code><p></code></pre></code></pre></li> </ol> </code></pre></li> </ol> <p> <p> <p> </p></li> </ol> Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao"...