Otak-otak Bandeng adalah olahan khas dari Gresik, Jawa Timur. Otak-otak Bandeng ini mempunyai rasa cukup unik dan gurih yang berbeda dengan otak-otak yang bisa kita jumpai di Palembang ataupun Jakarta. Bila kebanyakan otak-otak dimasak dengan cara dibungkus daun pisang, otak-otak ini berbentuk ikan bandeng dengan daging bandeng yang telah dihaluskan dan dibumbui. Cara membuat Otak-otak Bandeng khas Gresik tidaklah sulit. Hanya saja, saat membakar otak-otak ini sedikit membutuhkan suatu ketrampilan tersendiri karena bila otak-otak dibakar terlalu matang ataupun masih sedikit mentah akan mengurangi citarasa otak-otak yang sangat lezat ini. Biar tidak semakin penasaran, berikut resep Otak-otak Bandeng khas Gresik.
Resep Otak-Otak Bandeng
Bahan-bahan: 1 ekor ikan bandeng (700gr) 6sdm kelapa parut, disangrai dan digerus halus 100cc santan kental dari 3/4 butir kelapa 2 butir telur ayam, dikocok Daun pisang untuk pembungkus
Bumbu yang Dihaluskan: 2sdt ketumbar 6 butir bawang merah 2 siung bawang putih 4 butir kemiri 1cm lengkuas 2sdt gula pasir Garam secukupnya
Cara Membuat: 1. Buang sisik dan insang ikan, keluarkan isi perut dari kepalanya dengan mematahkan sekat insangnya terlebih dahulu. Cuci bersih dan keringkan dengan lap kering/kertas tissue. 2. Dengan hati-hati pukul-pukullah ikan dengan gagang pisau atau sepotong kayu sehingga daging terlepas dari kulit. 3. Keluarkan duri tengah ikan. Caranya: tekuk tulang ekor ke arah kepala sehingga patah (dapat dirasakan). Kemudian tariklah durinya perlahan-lahan dari kepala. 4. Keluarkan daging dari lubang itu juga dengan menekan-nekan bagian luar ikan dengan sendok ke arah kepala. Supaya lebih bersih, koreklah bagian dalamnya dengan sendok. 5. Balik kulit ikan dengan mendorong bagian ekornya ke arah kepala, kemudian bersihkan. Setelah itu balik kembali seperti semula. 6. Sangrailah daging ikan sebentar, kemudian bersihkan daging dari duri-durinya. Campurkan daging ikan dengan kelapa halus, santan, telur kocok dan bumbu yang sudah dihaluskan. Aduk sampai rata. 7. Masukkan adonan ikan ke dalam kulit ikan sampai terisi penuh melalui lubang kepala. Kemudian rapatkan kembali. Bungkus dengan daun pisang lalu kukus sampai matang selama 15-20 menit. Panggang sewaktu akan dihidangkan.
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara