Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Asal Usul Sulawesi Selatan Makassar
On the Origin of Pakarena, A Brief Exposition of Tumanurung
- 6 Agustus 2018

Tarian Pakarena merupakan tarian tradisional dari Sulawesi Selatan yang sangat populer. Tarian ini dipentaskan oleh 4 orang penari wanita dengan kostum berupa baju khas Sulawesi, baju bodo, sarung khas Makassar, Mahkota , dan gelang di lengan. Tarian ini pun disertai dengan property utama berupa kipas, dan dipentaskan dalam jangka waktu yang cukup lama (sekitar 2 jam). Setiap tarian memiliki makna masing masing, begitu pula tarian Pakarena. Masyarakat daerah Sulawesi Selatan pun juga mengerti makna filosofis dibalik gerakan tersebut. Tarian Pakarena terdiri dari berbagai macam jenis (sekitar 12 macam dan tidak akan dipaparkan disini karena bukan focus dari artikel ini), dan setiap jenis memiliki makna tersendiri yang unik.

                Gerakan dari tarian pakarena sangat artistik dan sarat makna, halus bahkan sangat sulit dibedakan satu dengan yang lainnya. Posisi duduk, menjadi pertanda awal dan akhir Tarian Pakarena. Gerakan berputar mengikuti arah jarum jam, menunjukkan siklus kehidupan manusia. Sementara gerakan naik turun, tak ubahnya cermin irama kehidupan. Interpretasi masyarakat secara umum terkait dengan gerakan ini memiliki hubungan dengan sebuah mitos yang dinamakan mitos Tumanurung.  Tumanurung terdiri dari dua kata “Tu” dan “Manurung”. Secara bahasa, kata “Tu” berarti orang dan “Manurung” berasal dari “Ma” dan “Turung” yang berarti yang turun (dari atas). Jadi, jika kita ubah ke bahasa kita, kata tersebut memiliki makna “orang yang turun dari langit”. Sekarang kita akan masuk ke focus dari artikel ini.

                Alur cerita dari mitos Tumanurung ini adalah seperti berikut. Pada suatu saat, yaitu masa kerajaan Gantarang, keadaan masyarakat di saat itu bisa dikatakan berada dalam kekacauan. Pada saat itu, masyarakat sedang dilanda kelaparan, karena tanaman merka tidak mau tumbuh, juga ternak banyak yang mati, dan negeri pada kekeringan. Karena keadaan yang demikian, maka sang dewa menurunkan suatu sosok yang tak dikenal namanya. Sosok inilah yang dipanggil masyarakat sebagai Tumanurung. Sosok ini mengajarkan kepada masyarakat, jalan jalan kehidupan yang harus mereka lalui jika mereka ingin sejahtera. Pada akhirnya, masyarakat pun menjalankan ajaran sang Tumanurung dan kehidupan mereka pun menjadi penuh nikmat. Perlu dikatakan juga bahwa ada beberapa versi terkait mitos ini. Salah satunya adalah yang telah terpaparkan. Ada versi dimana sang Tumanurung memohon kepada sang dewa agar masyarakat tersebut diberi kesejahteraan. Ada juga dimana sang Tumanurung menggunakan seluruh kekuatannya untuk mensejahterakan masyarakat tersebut seorang diri.

                Meski demikian, saya mohon jangan membingungkan diri anda dalam hal tersebut. Intinya adalah, saat sosok Tumanurung ini datang, sosok ini berhasil menyejahterakan masyarakat disana.

                Berdasarkan kerabat saya, beberapa orang menginterpretasikan gerakan tersebut sebagai rasa terimakasih yang dipersembahkan oleh masyarakat kepada sang Tumanurung atas jasanya yang mulia. Ada juga yang menginterpretasikan gerakan gerakan itu merupakan sebuah symbol jalan kehidupan yang diajarkan oleh sang Tumanurung.

                Di sisi lain, para sejarahwan menginterpretasikan mitos Tumanurung ini sebagai sebuah solusi. Pada saat itu, keadaan masyarakat adalah kacau. Mereka berkelahi untuk mendapatkan kekuasaan. Maka, agar hal itu berhenti, maka dikeluarkanlah mitos tersebut. Jadi tidak salah jika mitos tersebut dianggap seperti sebuah nubuat, demi kelangsungan hidup masyarakat yang harmonis. Interpretasi lain mengatakan juga bahwa mitos ini dikeluarkan sebagai suatu legitimasi agar pemerintahan sang raja waktu itu yang bernama Tumanurung bisa terus berlangsung, agar masyarakat juga sepakat untuk menjadikan keturunannya raja juga di daerah tersebut, dikarenakan, meski pemerintahaannya kerajaan, musyawarah mufakat juga ada di saat itu namun hanya oleh sekelompok orang tertentu.  Sehingga mitos ini dijadikan untuk meyakinkan masyarakat.

                Berbagai macam interpretasi ini mungkin dapat membuat kepala anda pusing (karena saya sendiri juga), namun coba kita ambil sisi baiknya. Pada zaman tersebut, pada masa peradaban kuno, Mitos adalah cara manusia menjawab kejadian kejadian yang terjadi di sekitar mereka. Wajar saja, kita tidak mengetahui apa apa waktu itu, sehingga kita mengimajinasikan suatu sosok berkekuatan lebih yang mengendalikan kejadian itu. Sebab itulah kita dihadapkan dengan berbagai macam dewa dari masa lalu. Kedengarannya lucu, namun, tentunya salah bagi kita untuk mentertawakan mereka akan hal tersebut karena terkadang pemikiran seperti itulah yang dapat menghasilkan sesuatu yang indah dipandang berupa tidak hanya gerakan tarian namun juga, makanan, seni rupa, dan bahkan arsitektur yang tentunya dapat kita nikmati sebagai salah satu budaya yang tiada duanya di negeri kita, dan bahkan di dunia. Hal itu pantas menerima appresiasi yang besar.

#OSKMITB2018

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker
Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu