Suku Mbojo atau masyarakat Bima merupakan Suku yang pada awalnya menempati gunung-gunung pada masa Ncuhi yang terjadi pada abad 13 Masehi sebelum Kerajaan Bima terbentuk, kehidupan zaman Ncuhi di atas gunung menggunakan pola bertahan hidup dengan berburu dan memakan tumbuhan di hutan untuk melangsungkan kehidupan mereka, kemudian setelah Kerajaan Bima terbentuk tahun 1200 masehi dengan Raja pertama Indra Zamrud sehingga pola kehidupan di atas gunung berangsur-angsur pindah mendiami dataran.
Pola kehidupan bercocok tanam atau bertani mulai di ajarkan oleh saudara Raja Indra Zamrud yaitu Indra Komala yang diceritakan dalam kronik catatan Kerajaan Bima. Indra Komala adalah ahli di bidang pertanian sedangkan kakaknya Raja Indra Zamrud ahli dalam bidang kelautan. Setelah mengenal pola kehidupan bertani dan bercocok tanam berangsur-angsur Suku Mbojo mulai mendiami dataran. Bertani terus dilakukan Suku Mbojo sejak dulu hingga sekarang dan menjadi warisan nenek moyang sehingga pola kehidupan berburu lambat laun sudah jarang orang-orang melakukannya.
Selain bertani di sawah ada kegiatan bercocok tanam yang dilakukan Suku Mbojo dalam sekali setahun yaitu hanya pada saat musim hujan saja yang di sebut ‘Oma Ese Doro’. Oma yang berarti lahan tempat bercocok tanam dan Ese Doro berarti di atas gunung, biasanya Oma juga di sebut sawah tadah hujan yang mengandalkan air hujan untuk menyirami tanaman mereka.
Oma sangat berbeda dengan bertani di sawah dataran yang sangat rata dan di mana setiap pengairannya di atur oleh seorang yang disebut ‘Panggawa’ petugas dari kesultanan untuk memberikan jatah perairan pada setiap petak sawah, tapi beda dengan Oma yang hanya mengandalkan air hujan dan orang yang melakukan Oma tersebut hanya membersihkan semak belukar yang di sebut ‘Note’.
Ketika musim hujan tiba maka hamparan gunung di Bima akan menjadi lahan untuk Oma yang akan di bersihkan untuk menjadi lahan. Setelah Oma di Note (dibersihkan) hasil dari semak belukar itu kemudian di kumpulkan menjadi satu dan di bakar atau di sebut ‘Udu’, setelah Oma sudah bersih dari semak belukar kemudian sebelum memulai menanam ada hal yang perlu sekali dilakukan oleh orang yang punya Oma yaitu menyediakan ‘Oha Dana’ yaitu sajian jamuan makan yang dipimpin oleh seorang Lebe (Imam Masjid) yang bertujuan sebagai Do`a untuk minta keberkahan saat menanam dan hasil yang melimpah pada Yang Maha Kuasa.
Biasa yang di tanam di Oma adalah Padi, Kadelei, dan kacang tanah. Padi yang dihasilkan di Oma sangat beda dengan padi yang dihasilkan di sawah, beras Oma atau di kenal ‘Bongi Oma’ mempunyai ciri yaitu rasanya. Tapi sekarang rata-rata mereka yang Oma kebanyakan menanam jagung sejak harga jagung naik.
Kebanyakan lahan Oma sangat tidak wajar posisinya sebagai tempat bertani dan bercocok tanam, dimana lahan Oma yang terletak di atas gunung pastilah tidak banyak mempunyai lahan yang posisi rata. Posisi yang miring dan terjal menjadi ciri dari ladang Oma dan juga ada yang menggarap Oma di dekat tebing jurang, yang sangat berbahaya, salah langkah bisa-bisa jatuh kebawah tebing tapi itu sangat jarang terjadi karena mereka yang Oma sudah hafal area mereka.
Saat menanam hingga panen waktu Oma yang mereka habiskan yaitu selama musim hujan turun (6 bulan) biasanya selama itupun kampung-kampung sangat sepi yang dimana kebanyakan masyarakatnya Oma, dan kampung akan ramai lagi sehabis musim panen. Untuk memenuhi pembiayaan hidup makan atau untuk pupuk selama Oma biasanya mereka berhutang atau meminjam kepada kerabatnya dan akan di ganti setelah panen atau istilahnya ‘Londo Doro’ artinya turun gunung dimana istilah turun gunung diperuntukkan untuk panen.
Oma juga sangat berpengaruh untuk lingkungan yaitu penggundulan hutan dimana jika curah hujan besar dan sering turun maka akan terjadi banjir, oleh sebab itu tahun 1988 Bupati Bima yang menjabat pada tahun itu yang bernama Umar Harun atau oleh masyarakat Bima biasa menyapanya dengan panggilan khas Suku Mbojo yaitu Ama Emo, mencanangkan istilah pemerintah yang terkenal yaitu ‘Ngaha Aina Ngoho’ untuk memberikan edukasi pada masyarakat untuk lebih memperhatikan efek dari pengrusakan hutan saat mereka Oma. Ngaha Aina Ngoho sendiri mempunyai makna yaitu mencari makan tapi jangan sampai meng-gunduli hutan.
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...