Konon, pada zaman dahulu kala, di sebuah desa di daerah Kalimantan Selatan, hiduplah seorang nenek tua yang bernama Ning Randa. Ia dipanggil Ning karena umurnya yang sudah tua dan bungkuk. Pekerajaannya sehari-hari lebih banyak duduk ketika masih muda. Saat beranjak remaja, ia mulai dipingit oleh orang tuanya. Selama masa pingitan, ia dibekali oleh orang tuanya dengan berbagai keterampilan untuk mempersiapkan diri sebagaimana halnya perawan yang akan menikah. Ia diajarkan cara menenun dalam berbagai motif dan warna di dalam lingkungan keluarganya. Selain itu, ia juga diajarkan berbagai resep masakan dan cara menanam obat-obatan.
Rangda adalah seorang gadis yang berbakat. Hasil tenunannya sangat berkualitas. Motif dan warnanya indah dan menarik. Maka tidaklah mengherankan jika hasil tenunannya yang dijual oleh pembantunya di pasar menjadi rebutan para pembeli. Banyak peminat yang penasaran ingin mengetahui siapa sebenarnya yang menghasilkan barang tenunan yang sebagus itu. Mereka kemudian ingin melacaknya.
Pada suatu hari, tersebar berita bahwa si penenun itu adalah seorang perawan yang cantik dan mungil yang bernama Rangda, tinggal di ujung kampung. Berita itu pun kemudian menyebar ke banyak orang. Para pemuda berbondong-bondong ke ujung kampung itu melihatnya. Mereka sangat takjub ketika melihat wajah si Rangda. Selain pandai menenun, ternyata wajah Rangda jauh lebih cantik daripada yang diperkirakan orang.
Sejak itu, tersebarlah berita kecantikan Rangda yang alami ke seluruh penjuru desa. Bahkan menembus batas-batas desa, hingga meluas sampai ke pusat kerajaan. Rangda perawan desa bak kembang yang sedang mekar mengundang banyak kumbang datang bertandang. Banyak pemuda lajang yang datang meminang. Namun, tak seorang peminang pun yang diterima oleh orang tua Rangda. Oleh karena kharisma yang dimiliki orang tua Rangda, tak seorang pun peminang yang pinangannya ditolak merasa tersinggung dan dendam terhadap keluarga Rangda.
Sementara itu di dalam istana, Putra Raja yang tampan sakit keras. Sang Raja sebagai orang tuanya merasa sedih bukan kepalang. Kesedihan yang dirasakan oleh sang Raja tidak saja karena penyakit Pangeran Muda yang tidak kunjung sembuh, tetapi juga karena anak kesayangannya itu belum memiliki pendamping hidup. Raja yang sudah uzur itu sangat berharap putranya segera mendapat pendamping hidup sebelum diresmikan menjadi raja. Oleh karena itulah, Raja merasa perlu untuk mencarikan dukun sakti yang dapat mengobati penyakit putranya.
Pada suatu hari, didatangkanlah seorang dukun yang terkenal sangat sakti dalam menyembuhkan berbagai macam penyakit. Setelah segala keperluannya tersedia, dukun itu mulai membacakan mantra dan mengeluarkan seluruh ramuannya untuk diminumkan kepada sang Pangeran. Meskipun telah berusaha dengan segala kemampuannya, dukun itu belum mampu menyembuhkan penyakit sang Pangeran. Setelah mengobati Putra Mahkota, di hadapan sebuah persidangan yang dihadiri oleh Raja dan para punggawa kerajaan, sang Dukun menceritakan tentang apa yang dialami oleh Putra Mahkota.
“Ampun, Baginda Raja! Hamba sudah mengerahkan seluruh kemampuan yang hamba miliki, namun penyakit Putra Mahkota belum bisa disembuhkan. Hamba tidak mengerti tentang penyakit yang diderita Putra Mahkota. Beliau selalu mengigau dalam ketidaksadarannya,” dukun itu bercerita di hadapan Raja dan para pembesar kerajaan.
“Hai, Pak Dukun! Ceritakan apa isi igauan putraku!” seru sang Raja penasaran. “Antara sadar dan tidak, Putra Mahkota selalu tersenyum bagai orang yang sedang jatuh cinta. Sebuah nama selalu disebut-sebutnya,” jelas dukun itu lalu menunduk memberi hormat.
“Teruskan!” seru sang Raja tidak sabar. “Menurut pengetahuan hamba, Putra Mahkota sedang jatuh hati kepada seorang perawan desa. Namun, ilmu hamba belum mampu melacak keberadaan perawaan itu,” jelas dukun itu kepada sang Raja.
“Ah, mana mungkin? Di kota pusat kerajaan ini sangat banyak perawan cantik yang ingin menjadi istrinya,” bantah sang Raja.
“Hampir semua perawan keturunan bangsawan sudah diperkenalkan kepada Putra Mahkota, namun tak seorang pun yang sesuai dengan hati sang Pangeran,” ujar Mangkubumi menambah keterangan sang Raja.
“Mohon ampun, Baginda Raja! Hamba hanyalah seorang dukun yang hanya bisa meramalkan. Hamba mohon maaf bila ramalan hamba meleset dari perkiraan,” kata dukun itu merendah.
“Baiklah, Pak Dukun!” seru sang Raja. “Tadi kamu mengatakan bahwa dalam igauan putraku selalu menyebut-menyebut sebuah nama. Masih ingatkah kamu isi igauan putraku?” tanya sang Raja. “Sebutkan nama itu! Barangkali di antara yang hadir di sini ada yang pernah mendengar atau mengenal gadis itu,” tambah sang Raja.
“Seingat hamba, Putra Mahkota sering menyebut-nyebut nama Rangda,” jawab dukun itu. “Rangda... Rangda... Rangda,” sang Raja menyebut nama itu berulang-ulang. Lalu ia mengejanya dengan pelan, “R-a-n-g-d-a... yah, Rangda...”
“Wahai, para hadirin! Siapa di antara kalian yang pernah mendengar atau mengenal nama itu?” tanya sang Raja kepada seluruh peserta sidang yang hadir. Pertanyaan Raja itu membuat suasana persidangan menjadi hening. Para peserta sidang hanya saling berpandangan.
Di tengah keheningan itu, tiba-tiba Wakil Mangkubumi angkat bicara. “Ampun, Baginda! Setahu hamba, anak dara yang bernama Rangda adalah termasuk warga kerajaan ini. Rumah keluarganya terletak di ujung kampung di balik gunung, tidak mudah untuk sampai ke sana. Keelokan wajah gadis yang bernama Rangda itu tidak perlu disangsikan lagi. Ia juga memiliki banyak keterampilan,” jelas Wakil Mangkubumi.
“Hai, Wakil Mangkubumi! Dari mana kamu tahu semua hal itu?” tanya sang Raja penasaran. “Ampun, Baginda! Renda dan sulaman yang melekat pada jubah Tuanku saat ini adalah hasil keterampilan tangannya. Ke sanalah hamba memesan beberapa tahun lalu ketika hamba dipercaya mengurus pakaian kebesaran Tuanku. Perangkat pakaian permaisuri sebagian juga ditenun oleh gadis itu. Selimut yang saat ini dipakai oleh Putra Mahkota juga salah satu hasil pekerjaan tangannya,” jawab Wakil Mangkubumi dengan jelas.
“Lalu, siapa orang tuanya?” tanya lagi sang Raja. “Orang tua gadis itu hanyalah rakyat biasa yang tinggal di sebuah dusun. Namun, bila kerajaan ini mau membuka riwayat masa lampau, barangkali akan ditemukan kembali keluarga istana yang pernah hilang. Ayah Rangda adalah orang yang pertama kali diangkat oleh Baginda Raja terdahulu sebagai Imam Perang di kerajaan ini. Oleh karena jatuh cinta dengan seorang gadis desa, ia rela melepaskan jabatan tersebut,” jelas Wakil Mangkubumi.
Mendengar penjelasan tersebut, sang Raja semakin penasaran ingin segera meminang gadis itu. “Pengawal, siapkan segala sesuatunya! Besok pagi aku dan Putra Mahkota akan langsung meminang gadis itu,” perintah sang Raja.
“Namun sebelumnya, aku minta Wakil Mangkubumi dan beberapa pengawal berangkat terlebih dahulu. Sampaikan berita peminangan ini kepada Rangda dan suruh ia agar terus merenda untuk baju pengantinnya,” tambah sang Raja. “Baik, Baginda! Permisi!” jawab Wakil Mangkubumi sambil berpamitan dengan memberi hormat kepada sang Raja.
Keesokan paginya, rombongan kerajaan tampak meninggalkan istana menuju kampung Rangda. Putra Mahkota yang mengetahui rencana peminangan tersebut, tampak pulih kesehatannya. Matanya terlihat bersinar. Tubuhnya kembali bugar. Ia sangat ceria dan bersemangat menempuh perjalanan itu walaupun sangat sulit dilalui.
Namun di tengah perjalanan, Putra Mahkota kembali jatuh sakit karena kelelahan. Sakitnya pun bertambah parah. Tampaknya nyawa Putra Mahkota tidak dapat ditolong lagi. Dalam perjalanan itu, akhirnya maut menjemputnya sebelum sampai ke tujuan.
Sementara itu, sejak mendengar kabar akan dipinang oleh Putra Mahkota, Rangda mulai sibuk merenda baju pengantin, menenun sarung, dan menyulam banyak pakaian yang akan dikenakannya kelak. Namun, setelah mendengar berita kematian Putra Mahkota, hati Rangda menjadi sangat sedih bukan kepalang.
Untuk menghibur hatinya yang sedih itu, Rangda terus merenda, menenun dan menyulam sambil menanti kekasih yang sangat ia dambakan sampai tubuhnya bungkuk. Berita kematian Putra Mahkota seakan tidak pernah didengarnya. Ia terus menanti, entah sampai kapan. Walaupun semua harapan itu tidak akan pernah datang, Rangda tetap setia menunggu kekasihnya datang.
Sumber:
http://dongengceritarakyat.blogspot.com/2011/04/ning-rangda.html
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...