Beragam hasil bumi ada di sini. Dari keladi, petatas (ubi jalar), kombili (kentang hitam), pisang sampai sagu. Pesta tanaman produksi lokal ini berisi persaingan menampilkan hasil panen antar kampung maupun kelompok. Lalu, akan terlihat mana yang memiliki biji atau buah paling kecil dan terbesar. Nilai yang diambil dari ‘persaingan’ ini, kalau umbian atau hasil panen lebih kecil berarti kalah. Yang kalah harus berjanji berusaha keras agar lebih besar lagi. Pesta tahunan ini disebut dikenal dengan ndambu.
Ratusan tahun lalu, ndambu diadakan guna mencairkan perselisihan, antar kampung dan marga maupun antardistrik di pulau ini ratusan tahun silam. Kata ndambu, berarti bersaing sehat.
Ritual ini diadakan di pulau terapung, Kimaam, tepatnya di ujung Papua, berbatasan dengan Papua New Guinea, dan Laut Arafura. Ke Pulau Kimaam, perlu sehari semalam melalui jalur laut dari Merauke. Bisa juga jalur udara, satu-satunya pakai pesawat Susi Air. Ada empat distrik di Kimaam, yaitu, Kimaam, Tabonji, Waan dan Ilwayab.
Pulau Kimaam, terpisah dengan daratan Merauke, terletak di sebelah selatan Papua. Ia ditemukan warga Belanda, Frederik Hendrik. Orang setempat menyebut penduduk, Suku Marind Sub Suku Khima-khima. Selat Mariana, nama pemberian Hendrik. Setelah Indonesia masuk, nama itu menjadi Pulau Yos Sudarso, angkatan laut yang gugur di laut Arafura.
Ndambu, merupakan salah satu ritual turun temurun di sini. Yanuarius Petrus Yamaka, pria 75 tahun, Ketua Lembaga Masyarakat Kimaam (Lemaskim), mengatakan, daratan pulau ini selalu menggelar ndambu. Ndambu ada, katanya, sejak leluhur orang Kimaam.
Mereka menampilkan hasil bumi seperti umbi-umbi, keladi, petatas, kombili, pisang serta sagu. Ndambu juga diadakan kala kerabat, orang-orang penting dari keluarga batih meninggal. Ndambu untuk memperingati arwah mereka.
Yamaka mengatakan, ndambu, adalah pesta panen terbesar pulau ini dengan kegiatan terpusat di Lapangan Makura. Pulau ini, katanya, terbagi dalam Kimaam Tengah, Kimaam Utara dan Kimaam Selatan.
Pesta ndambu, masing-masing wilayah, hampir sama. Intinya, nilai ritual ini harus bekerja keras, jangan malas. Menanam bukan hanya untuk festival tetapi memenuhi keperluan keluarga.
Menarik lagi, tetua adat mempunyai kalender musim berdasarkan hitungan bintang, bulan, matahari. Ia diberi nama ada 12 bulan juga. Ada bulan, di mana orangtua bisa menceritakan untuk generasi berikut, bahwa bulan ini harus kerja dan jangan malas, bercocok tanam, siapkan bedeng, juga rumah bocor diperbaiki.
Ada juga, musim air pasang, kala tumbuhan sulit hidup.Namun, luar biasa, petatas terbesar masih tersimpan dalam tanah.
Romanus Mbraka, Bupati Kabupaten Merauke mengatakan, tiga tahun pesta ini berlangsung baik tetapi belum ditemukan pola yang baik. Dia berharap, ke depan, ndambu bisa dikenal tak hanya di Papua, juga nasional dan internasional.
Dia mengusulkan, ndambu antarkeluarga juga, misal, satu keluarga berapa orang, bertanding sudah berapa yang mendapat pekerjaan, TK, SD, SMA, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi. “Makna Ndambu berarti persaingan. “Supaya generasi orang Kimaam jangan meninggalkan Pesta Ndambu,” katanya.
Urbanus Kaize, Ketua Panitia Festival Ndambu 2015, mengatakan, peserta Ndambu dari empat distrik sekitar 8.200 orang. Berbagai lomba diadakan, seperti lomba dayung satu kaki, dayung beregu, panahan tradisional, anyam rambut tradisional, gulat manjipai atau gulat bob. Lalu, tangkap kepiting, pangkur sagu, pahat perahu dan mengukir piring dan senduk. Gawe yang menghabiskan APBD 2015 sekitar Rp3,5 miliar ini sangat menarik. “Memang pesta ini terkendala transportasi baik udara dan laut,” katanya. Padahal, mereka ingin perayaan ini bisa dikenal di dalam maupun luar negeri.
Srimas N, Staf Asisten Departemen Pengembangan Segmen Pasar Personal Kementerian Pariwisata senang saat tiba di Kimaam. “Luar biasa, orang dayung satu kaki, dan petatas terbesar baru pertama kali saya lihat. Orang Kimaam ramah dan tentram.”
Ndambu, katanya, bukan hanya prestasi hasil pertanian tetapi perdamaian, sampai penyelesaian konflik. Menarik jika Ndambu dipoles lagi, promosi digalakkan. “Jangan hanya dimiliki sendiri. Alangkah baiknya banyak promosi. Daya tarik wisata lebih dikembangkan.”
Domin Ulukyanan, Wakil Ketua Panitia Festival Ndambu mengatakan, di Pulau Kimaam, terdapat delapan bahasa asli ditambah bahasa Indonesia. Orang Indonesia, katanya, harus belajar pada orang Kimaam dalam menyelesaikan persoalan. Sejak belum ada NKRI, ndambu sudah ada. Ada penghargaan tanpa pandang suku, budaya, dengan agama.
Ndambu, hari pertama 20 Agustus itu, menampilkan gulat tradisonal (gulat bob atau manjipai). Dua orang hadir di lapangan terbuka, kemenangan ditandai dengan melepaskan daun sagu yang dipegang empat orang dengan pelepah sagu.
Bagian lain, ada meletakkan umbi keladi besar dan kombili terpanjang. Ada kombili 2,29 meter asal Kampung Kalilam melawan kelompok lain Distrik Kimaam.
Ceritanya, salah satu keluarga di kampung meninggalkan warga lain yang mencari ikan di Kali Ndambu. Entah mengapa, warga kampung sebagian pulang tanpa pemberitahuan.
Kelompok pencari ikanpun men-ndambu keluarga yang pulang dengan menampilkan kombili terpanjang. Kelompk yang di-ndambu kalah dalam pertandingan. “Silakan kalian tanam, tetapi kali ini, saya yang jago-jago merawat kebun serta menanam maka lebih panjang dan besar,” kata Donatus Nduarima Kabu, di hadapan pengunjung ndambu.
Kapur putih dihamburkan di atas kombili. Peserta tampak saling mengejek, dan mancaci. Akhirnya, kesepakatan dua kubu saling berdamai dengan berangkulan, ditutup makan pinang bersama.
Esoknya, ndambu berlanjut persaingan 15 umbi petatas milik Distrik Waan. Petatas diarak menggunakan tandu karena sangat berat. Ada kuning, ungu, dan putih. Tinggi sebatas lutut orang dewasa. Setelah juri dua pihak mengukur diameter maing-masing umbi, petatas terbesar 1,52 meter menang. Umbi dipertontonkan kepada khalayak ramai.
Penonton berdecak kagum saat melihat petatas terbesar ini. “Cara mencabut dan menggotong bagaimana. Pasti berat ratusan kilogram,” kata Firman Hotasoit, wartawan Media HarianPapua Selatan Pos.
Dari Distrik Waan juga membawa tiga karung gabah, pertanda kesuksesan menanam walaupun setiap tahun daerah mereka terkenal dengan bencana air pasang karena letak lebih rendah dari laut. Daerah ini juga terkenal bedeng yang disebut Wambad. Ukuran tergantung pembuat. Setiap bedeng bisa sebesar lapangan bola yang ditanami tumbuhan jangka panjang seperti sagu, sukun, kelapa. Sebagian lagi bedeng untuk pondok dan buat tanaman seperti petatas, kombili, sayuran, labu dan lain-lain. Mereka menanam dengan pupuk alam, membersihkan kebun, merawat hingga panen.
Sumber: Mongabay.co.id
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...
Panduan Memahami Asal Usul Gresik: Dari Jejak Sejarah hingga Etimologi Nama Gresik, yang dijuluki Kota Wali karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Jawa, merupakan salah satu wilayah bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa. Memahami asal usul daerah ini tidak hanya menyangkut pengetahuan kronologis semata, tetapi juga memerlukan analisis terhadap berbagai lapisan sumber—dari prasasti kuno, naskah babad, hingga catatan kolonial. Panduan ini dirancang untuk membantu pembaca menavigasi kompleksitas historiografi Gresik secara sistematis, mulai dari etimologi nama hingga penetapan identitas administratifnya sebagai kabupaten. Sumber Sejarah dari Masa Jawa Kuno Dalam tradisi historiografi Indonesia, Gresik menempati posisi unik karena keberadaan sumber-sumber tertulis dari periode Jawa Kuno. Dua dokumen kuno menjadi landasan utama bagi para sejarawan dan budayawan dalam menelusuri akar historis wilayah ini (Sumber 3). Pertama, Babad Hing Gresik merupakan naskah sejar...
Rambu Solo': Ketika Kematian Menjadi Perayaan Perjalanan Bagaimana mungkin kematian—yang di banyak budaya menjadi momen duka dan kehancuran—diubah menjadi sebuah pesta yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Bagi Suku Toraja di Sulawesi Selatan, kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan terakhir yang memerlukan persiapan ritualistik yang rumit dan mahal. Inilah inti dari Rambu Solo' , upacara pemakaman dalam ajaran Aluk Todolo yang mengubah penguburan menjadi sebuah spektakul budaya penuh makna. Menunggu di Antara Dua Dunia Paradoks pertama dari Rambu Solo' terletak pada pengertian kematian itu sendiri. Dalam logika Aluk Todolo —kepercayaan leluhur Suku Toraja—seseorang yang baru meninggal secara fisik belum benar-benar "mati" secara spiritual. Mayat akan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah, bukan untuk segera dikubur, melainkan menunggu waktu yang dianggap tepat (Sumber 4). Masa tunggu ini bisa berlangsung berm...