Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Sumatera Barat KAB. TANAH DATAR SUMATERA BARAT
Nagari-nagari di Lima Kaum Nan Bungsu
- 24 Februari 2012 - direvisi ke 2 oleh Budaya Indonesia pada 22 Maret 2012

Dalam pelbagai pepatah adat di Minangkabau, sudah menjadi pengetahuan orang banyak bahwa ada dua kelarasan adat yang manyoritas dianut masyarakat hukum adat di Minangkabau, yakni kelarasan adat Koto Peliang dan Bodi Caniago. Di samping itu, kita juga mengenal adanya kelarasan adat Batang Bangkaweh yang tidak menganut adat Koto Peliang maupun Bodi Caniago. Konon kabarnya hanya ada satu nagari yang menganut kelarasan adat Batang Bangkaweh ini, yakni nagari asa di Pariangan, Padang Panjang.NAGARI-NAGARI DI "LIMA KAUM NAN BUNGSU

Dalam banyak pantun dan mamang adat kita diperkenalkan kepada Datuek Ketumanggungan sebagai pencipta kelarasan adat Koto Peliang dan Datuek Perpatih Nan Sabatang sebagai pencetus kelarasan Badi Caniago yang bisa dikatakan sebagai koreksi atas kekurangan-kekurangan daripada kelarasan adat yang diperkenalkan oleh Datuek Ketumanggungan, sampai dengan terjadinya peristiwa penikaman batu di situs Batu Batikam, yang menandai pemisahan dari kedua kelarasan adat tadi. Seiring dengan berjalannya waktu, satu persatu dari nagari yang dibuka dan dibangun oleh masyarakat menundukkan diri pada salah satu kelarasan adat Koto Peliang atau Bodi Caniago sampai kepada pembentukan persekutuan beberapa nagari dalam penentuan kelarasan adat yang dipakai. Penentuan kelarasan adat tersebut ditandai dengan reka bentuk balai-balai adat, bentuk rumah gadang, susunan suku yang menetap di dalam nagari termasuk kedudukan para ninik mamak yang ditabalkan untuk memerintah nagari, walau tidak kita pungkiri jika kedua kelarasan adat itu kemudian saling berinteraksi, membaur dan menggabungkan nilai-nilai yang dianut pada tiap-tiap nagari.

Sebagai junjungan kelarasan adat Badi Caniago, Datuek Perpatih Nan Sabatang mewariskan fungsi dan legitimasi kekuasaannya kepada Datuek Bandaharo Kunieng di Limo Kaum. Hal yang sama juga berlaku kepada Datuek Ketumanggungan yang mewariskan fungsi dan legitimasi kekuasaannya kepada Datuek Bandaharo Putih di Sungai Tarab. Sekarang setelah para pencipta dua kelarasan adat tadi wafat, semestinya kita hanya mengenal Datuek Bandaharo Kunieng sebagai junjungan kelarasan adat Bodi Caniago dan Datuek Bandaharo Putieh sebagai junjungan kelarasan adat Koto Peliang. Khusus untuk Datuek Bandaharo Putieh, kita akan juga mengenal fungsi adatnya sebagai Tuanku Titah atau Panitahan di Sungai Tarab, yang masuk sebagai anggota Basa Ampek Balai di dalam susunan dewan menteri kerajaan Minangkabau di bawah Rajo Alam.

Segala sengketa adat yang berasal dari nagari-nagari yang menganut kelarasan Bodi Caniago pada gilirannya akan bermuara kepada Datuek Bandaharo Kunieng di Limo Kaum, sebelum diserahkan kepada Rajo Adat di Buo jika para pihak tidak puas dengan keputusan Datuek Bandaharo Kunieng. Selanjutnya, hal yang sama juga berlaku untuk nagari-nagari yang memakaikan kelarasan adat Koto Peliang yang akan membawa sengketa adatnya kepada Datuek Bandaharo Putieh di Sungai Tarab, sebelum naik banding kepada Rajo Adat di Buo. Jelas dalam hal ini Rajo Adat di Buo hanyalah lembaga banding atas sengketa adat di Minangkabau di mana kemudian kita ketahui bahwa simbol warna dari kedua datuek bandaharo menjadi warna marawa gadang (bendera kerajaan) Rajo Adat di Buo yang hanya menggunakan warna kuning dan putih sebagai warna marawanya dan dibuat lebih besar dari marawa tiga warna, hitam, kuning dan merah, pada setiap alek resmi kerajaan.

Kedudukan balai-balai adat Datuek Bandaharo Kunieng adalah di Limo Kaum di mana kita mengenal Limo Kaum sebagai persekutuan lima buah nagari yang terdiri dari nagari-nagari Limo Kaum, Cubadak, Baringin, Labuh dan Parambahan. Limo Kaum adalah persekutuan adat nagari yang paling awal mengakui legitimasi kekuasaan Datuek Perpatih Nan Sabatang dan menganut kelarasan adat Bodi Caniago. Itu sebabnya kita mengenal persekuatuan adat 5 nagari di Limo Kaum ini sebagai Limo kaum Nan Tuo, karena dalam perkembangan selanjutnya kita mengetahui adanya persekutuan adat 5 nagari lainnya yang kita sebut Limo Kaum Nan Tangah di Sungayang dan Limo Kaum Nan Bungsu di Lubuk Jantan. Nagari-nagari yang berhimpun dengan Limo Kaum Nan Tangah adalah Sungayang, Tanjung, Minangkabau, Sungai Patai dan Andaleh Baruh Bukik dengan balai-balai adatnya terletak di Sungayang. Sementara itu 5 nagari yang bersekutu dengan Lima Kaum Nan Bungsu adalah Lubuk Jantan, Tepi Selo, Balai Tangah, Tanjung Bonai dan Batu Bulek yang balai-balai adatnya di Lubuk Jantan, yang kemudian dipindahkan ke Balai Tangah pada jaman pemerintahan Nan Dipertuan Hela Perhimpunan Sultan Seri Maharaja Diraja sebagai Raja Adat di Buo, itu sebabnya ada mamang adat yang mengatakan "balai tangah balai perhimpunan".

Sekarang wilayah persekutuan adat 5 nagari Limo Kaum Nan Bungsu saat ini masuk dalam wilayah Kecamatan Lintau Buo Utara. Sebelumnya kita hanya mengenal Kecamatan Lintau Buo saja, yang melingkupi daerah IV Koto di Bawah dan V Koto di Ateh. Pada awalnya kedua daerah ini menganut dua kelarasan adat yang berbeda yakni kelarasan adat Koto Peliang di IV Koto di Bawah dan kelarasan adat Bodi Caniago di V Koto di Ateh. Namun lama kelamaan daerah V Koto di Ateh mulai terpengaruh dengan kelarasan adat Koto Peliang yang melahirkan mamang adat yang berbunyi "IV Koto di Bawah nan Barajo dan V Koto di ateh nan Basutan" dan balai-balai adatnya dipindahkan ke Balai Tangah dengan menobatkan Datuek Simarajo di Rumah Tabieng, Lubuk Jantan sebagai pucuek adat Limo Kaum Nan Bungsu di V Koto di Ateh, yang dibantu oleh 5 datuek bendaharo dari masing-masing nagari, yaitu:

1. Datuek Bandaharo Sati dari Lubuk Jantan,
2. Datuek Bandaharo Ratieh dari Tepi Selo,
3. Datuek Bandaharo Kasu dari Balai Tangah,
4. Datuek Bandaharo Sabaleh dari Batu Bulek dan
5. Datuek Bandaharo Hitam dari Tanjung Bonai.

Dalam sejarah adat nagari Limo Kaum Nan Bungsu atau V Koto di Ateh, kedudukan Datuek Simarajo di Rumah Tabieng, Lubuk Jantan sebagai pucuk adat nagari sedikit bertentangan dengan dasar-dasar kelarasan adat Bodi Caniago di mana menurut kelarasan adat Bodi Caniago, para Datuek dan niniek mamak "duduknyo samo randah, tagaknyo samo tinggi". Apalagi dengan pemberian gelar "Tuanku Mudo Nan Godang" kepada Datuek Simarajo ini sudah merupakan sifat khas dari adat istiadat dalam istana kerajaan yang memang sudah lazim diterima oleh kelarasan adat Koto Peliang. Belum lagi reka bentuk payung adat dan marawa yang ditetapkan sebagai kebesaran adat Datuek Simarajo Tuanku Mudo Nan Godang, sudah menjadikan Datuek Simarajo sama dengan rajo, sehingga lahirlah mamang adat "IV Koto di Bawah nan Barajo, V Koto di Ateh Nan Basutan", dengan artian Datuek Simarajo Tuanku Mudo Nan Godang di Rumah Tabieng, Lubuk Jantan adalah sutan untuk persekutuan adat nagari di Limo Kaum Nan Bungsu.

Dalam kedudukannya sebagai pucuek adat V Koto di Ateh, Datuek Simarajo juga pucuek adat di dalam nagari Lubuk Jantan itu sendiri. Kedudukan Datuek Simarajo sebagai pucuek adat di Limo Kaum Nan Bungsu tidak serta merta membuat daerah V Koto di Ateh lepas dari kendali dan pengawasan Datuek Bandaharo Kunieng di Limo Kaum Nan Tuo. Segala sengketa adat yang akan dibawa banding dalam peradilan adat kelarasan Bodi caniago, tetap harus dibawa oleh Datuek Simarajo ke hadapan Datuek Bandaharo Kunieng sebagai pemegang legitimasi dan kekuasaan tertinggi kelarasan Bodi Caniago. Saat Datuek Simarajo sedang pergi meninggalkan nagari Lubuk Jantan, maka ditunjuklah Datuek Bijayo dari pesukuan Caniago Seberang Lurah sebagai "Tuanku Mudo Nan Ketek", di mana fungsinya sebagai wakil dari Tuanku Mudo Nan Godang dalam urusan adat di dalam nagari Lubuk Jantan dan juga wilayah V Koto di Ateh.

dilaporkan oleh : Bpk. Ricky Syahrul

BACASELENGKAPNYA...

http://lintaubuoutara.tanahdatar.go.id/?p=403

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Negeri antara: Jejak Putro aloh dan Manusia Harimau
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...

avatar
Mahlilazmi_02
Gambar Entri
Genggong
Alat Musik Alat Musik
Bali

Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.

avatar
Yogaxd
Gambar Entri
Dari Rendang Hingga Gudeg: 10 Mahakarya Kuliner Indonesia yang Mengguncang Lidah
Makanan Minuman Makanan Minuman
DKI Jakarta

1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...

avatar
Umikulsum
Gambar Entri
Ayam Ungkep
Makanan Minuman Makanan Minuman
Jawa Barat

Ayam goreng adalah salah satu menu favorit keluarga yang tidak pernah membosankan. Namun, jika kamu ingin mencoba variasi yang lebih gurih dan harum, ayam goreng bawang putih renyah adalah pilihan yang tepat. Ciri khasnya terletak pada aroma bawang putih yang kuat serta kriukannya yang renyah saat digigit. Resep ini juga sangat mudah dibuat, cocok untuk menu harian maupun Bahan-Bahan Bahan Ayam Ungkep ½ kg ayam (boleh potong kecil agar lebih cepat matang) 5 siung bawang putih 4 siung bawang merah 1 sdt ketumbar bubuk 1 ruas kunyit (opsional untuk warna) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400 ml Bahan Kriuk Bawang 5–6 siung bawang putih, cincang halus 3 sdm tepung maizena ¼ sdt garam ¼ sdt lada Minyak banyak untuk menggoreng Cara Membuat Ungkep ayam terlebih dahulu Haluskan bawang putih, bawang merah, kunyit, dan ketumbar. Tumis sebentar hingga harum. Masukkan ayam, aduk rata, lalu tuang air. Tambahkan garam dan kaldu bubuk. Un...

avatar
Apitsupriatna
Gambar Entri
Resep Ayam Ungkep Bumbu Kuning Cepat, Praktis untuk Masakan Harian
Makanan Minuman Makanan Minuman
Jawa Barat

Ayam ungkep bumbu kuning adalah salah satu menu rumahan yang paling praktis dibuat. Rasanya gurih, aromanya harum, dan bisa diolah lagi menjadi berbagai hidangan seperti ayam goreng, ayam bakar, hingga pelengkap nasi kuning. Keunggulan lainnya, resep ini termasuk cepat dan cocok untuk kamu yang ingin memasak tanpa ribet namun tetap enak. Berikut resep ayam ungkep bumbu kuning cepat yang bisa kamu coba di rumah. Bahan-Bahan ½ kg ayam, potong sesuai selera 4 siung bawang putih 5 siung bawang merah 1 ruas kunyit 1 ruas jahe 1 ruas lengkuas (geprek) 2 lembar daun salam 2 lembar daun jeruk 1 batang serai (geprek) 1 sdt ketumbar bubuk (opsional) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400–500 ml Minyak sedikit untuk menumis Cara Membuat Haluskan bumbu Blender atau ulek bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, dan ketumbar bubuk (jika dipakai). Semakin halus bumbunya, semakin meresap ke ayam. Tumis bumbu hingga harum Panaskan sedikit m...

avatar
Apitsupriatna