Didalam kepercayaan Dayak utamanya Dayak Meratus, juga dikenal istilah-istilah Nabi & Malaikat – mungkin ini akibat pengaruh ajaran Islam yang masuk ke Kalimantan Selatan. Namun berbeda dengan ajaran Islam – nabi-nabi didalam Islam, menurut ajaran Kaharingan diantara nabi-nabi ini tidak ada nabi yang paling utama, namun nabi-nabi ini memiliki tugas khusus dalam memelihara alam semesta.
Dalam kisah penciptaan alam semesta dimana SUWARA (Tuhan) mencipatkan dua manusia pertama yaitu Datu Adam dengan Datu Tihawa.
Lebih lengkapnya silahkan baca artikel berikut:
MITE PENCIPTAAN ALAM SEMESTA DAYAK BUKIT
Kemudian Datu Adam & Datu Tihawa memiliki 40 orang keturunan yang disebut sebagai NABI. Nabi-nabi ini selalu dituturkan didalam ritual balian, diantaranya Nabi Bambang Mangkurat, Nabi Bambang Mangkiling, Nabi Maraga, Nabi Bambang Sinau, Nabi Iberahim, Nabi Melir, Nabi Halias, Nabi Yakup, Nabi Jabarut, Nabi Tilanjang, Nabi Timbulus, Nabi Malancar, Nabi Marantam, Nabi Matimbar Batu, Nabi Suriapati, Nabi Saindar Gangsa, Nabi Baginda Ali, Nabi Sulaiman, Nabi Maringsai, Nabi Tumara, Nabi Yugot, Nabi Nuh, Nabi Hidir, Nabi Yusup, Nabi Riyu, Nabi Karun, Nabi Jalambah, Nabi Surakit, Nabi Bungkun, Nabi Daud, Nabi Barumbai, Nabi Ugot, Nabi Wingson, Nabi Malirat dan Nabi Muhamad.
Nabi-nabi ini tidaklain adalah para SENGIANG atau roh penolong manusia. Tidak ada keistimewaan diantara nabi-nabi ini atau tidak ada istilah “Nabi yang utama”. Nabi-nabi ini memiliki tugas khsusus sebagai pemelihara benda/hal tertentu dan menjaga alam semesta. Misalnya Nabi Ibrahim mengatur dan menjaga api, Nabi Halias menguasai tumbuh-tumbuhan yang buahnya dapat dimakan, Nabi Baginda Ali menjaga awan dan mengatur hujan, Nabi Yakup menjaga batu-batuan dan gunung, Nabi Tilanjang menjaga buluh, Nabi Timbulus menjaga tanaman bambu, Nabi Malancar & Nabi Jabarut menjaga akar-akaran baik yang kecil maupun yang besar, Nabi Marantam menjaga pasir, Nabi Matimbar Batu menghalau penyakit, Nabi Yakub menjaga batu-batuan dan perbukitan, Nabi Suriapati menjaga gunung-gunung yang tinggi, Nabi Sulaiman & Nabi Karun menjaga segala macam harta, dan Nabi Muhamad bertugas menjaga ladang dan tanaman padi.
Nabi-nabi ini semua diyakini sebagai laki-laki dan tidak mempunyai isteri dan keturunan. Sebagai keturunan Datu Adam & Dati Tihawa, mereka dipercaya tidak mati namun menggaib atau moksa, dan menjalankan tugas sesuai yang diberikan oleh Datu Adam. Dari keturuna Datu Adam ini ada juga yang menjadi BALIAN setelah berguru dengan BALIAN ASAL MULA yaitu Datu Adam sendiri. Empat nabi yang berhasil menjadi balian adalah Bambang Sinau, Bambang Mangkurat, Bambang Maraga, dan Bambang Mangkiling.
Namun demikian, selain ke-40 anak Datu Adam tadi terdapat juga satu anak Datu Adam dan Dati Tihawa yang tidak berupa manusia, tidak juga hewan – Ia bernama ANGGAU. Anggau ini bertugas membebani manusia dengan cobaan-cobaan, penyakit, huru-hara, pertikaian antara keluarga dan babuhan, hama penyakit, dan mengacaukan musim.
Selain Nabi tadi, didalam kepercayaan Dayak Meratus juga dikenal Malaikat. Jika membaca artikel diatas tentang penciptaan alam semesta, kita ketahui bahwa SUWARA (Tuhan) memiliki seroang pesuru yang bernama JABARAIL. Jabarail adalah teman Suwara, setelah Suwara mencipatkan Datu Adam, maka Jabarail lah yang menemani Datu Adam – merek berjalan menjelajahi bumi dan langit, yang berjalan didepan adalah Jabarail dan Datu Adam selalu mengiringi.
Setelah Datu Tihawa tercipta maka Datu Adam hanya selalu berkawan dengan Datu Tihawa saja sedangkan Jabarail tidak ditemaninya lagi. Kemudian Jabarail menghadap Suwara meminta kawan. Maka firman Suawara “Tengoklah ke sebelah kirimu” maka Jabarail menengok kekiri munculah Iskail. Kamudian Suwara berfirman lagi “Tengoklah ke sebelah kananmu” maka Jabarail menengok kekakanan munculah Suparil. Kamudian Suwara berfirman lagi “Tengoklah kebelakangmu” maka Jabarail menengok kebelakang munculah Mikail. Maka titah Suwara selanjutnya “Oleh karena kamu yang membuat raga Datu Adam, maka kamu sekalian pulalah yang harus menemaninya dan juga anak cucunya”.
Keempat Malaikat ini disebut SAHABAT AMPAT – karena merekalah yang menjadi sahabat manusia. Mereka itu adalah Jabarail yang selalu berada didepan manusia untuk mengatur dan memilihara nafas manusia, Mikail yang selalu dibelakang manusia bertugas mengawasi dan menghalangi sesuatu yang membahayakan dan tidak memberi manfaat kehidupan, Surapil selalu berada di sebelah kanan yang bertiga mendorong dan memelihara perbuatan-perbuatan yang baik, dan Iskail yang selalu berada disebelah kiri manusia untuk mencegah manusia berbuat hal-hal yang tidak baik yang disebabkan bujukan Anggau. Diyakini pula bahwa para malaikat ini bisa pergi kemana mereka sukai. Apabila sewaktu-waktu satu diantara malaikat ini lengah; maka manusia tadi dapat terserang penyakit secara tiba-tiba, terjatuh selagi berjalan, mencuri, berkelahi dengan anggota keluarga dan orang lain.
Walau ada pengaruh islam dalam hal nama tokoh sengiang tetapi ia tetap bercorak kaharingan dan tetap didalam theologis kaharingan, nama-nama tokoh nabi tadi sebagian berasal dari pengaruh islam dan sebagian merupakan toko-tokoh lokal pra-hindu di sekitaran Barito seperti Bambang Mangkurat atau disebut Lambung Mangkurat. Nama lain dari Sahabat Ampat tadi adalah CAMARIYAH, URIYAH, TABANIYAH, TAMBUNIYAH.
Sumber: https://folksofdayak.wordpress.com/2015/09/22/konsep-nabi-malaikat-dalam-ajaran-kaharingan-dayak-meratus/
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...