Produk Arsitektur
Produk Arsitektur
Museum Banten Banten
Museum Site Kepurbakalaan
- 31 Desember 2018

Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama Serang berada di wilayah Banten Lama, Serang, berjarak hanya beberapa puluh meter dari Masjid Agung Banten, berseberangan dengan reruntuhan Istana Surosowan yang saya kunjungi belakangan. Itu karena kunci gembok pagar masuk ke reruntuhan istana Banten itu disimpan oleh petugas museum ini.
 

 

Tempat yang digunakan oleh Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama berupa bangunan segi empat satu lantai dengan halaman sangat luas. Di halaman depan museum, agak ke sebelah kanan, terdapat cungkup kecil yang di dalamnya dipajang koleksi meriam kuno peninggalan dari jaman kolonial yang dikenal dengan nama Meriam Ki Amuk.

Museum Kepurbakalaan Banten Lama berdiri di atas tanah seluas 10.000 m2, sedangkan luas bangunannya hanya 778 m2. Museum didirikan pada 1984, dan peresmiannya dilakukan pada 15 Juli 1985 oleh Prof. Dr. Haryati Soebadjio, Dirjen Kebudayaan waktu itu. Selain benda arkeologis, museum ini juga menyimpan mata uang lama, peninggalan etnik, serta keramik.

 


sumber : Galery Museum Site Kepurbakalan


Meriam tua berukuran sedang yang diberi nama Ki Amuk itu, diletakkan di atas pondasi bertingkat dua yang terbuat dari bata telanjang yang disusun dengan rapi. Cungkup yang melindungi meriam ini dari terik matahari dan hujan terlihat masih agak baru waktu itu, atau mungkin baru saja dicat ulang.

Dua orang pekerja tampak tengah membersihkan cungkup meriam itu ketika kami datang. Terdapat tulisan berbahasa Arab yang berbunyi “Akibatu’l Khairisalamtu’l Imani”, tahun Jawa Caka 1450, dan lambang matahari di sekeliling moncong meriam. Tampaknya meriam ini sebelumnya berada di Benteng Speelwijk sebelum dipindahkan ke tempat ini.

Di sebelah kanan bangunan museum terdapat sebuah petak berlantai semen berpagar rantai keliling, dimana di atasnya diletakkan batu besar berbentuk datar, dikelilingi umpak dan bekas bangunan dari jaman Kesultanan Banten. Mungkin ini yang disebut sebagai Watu Singayaksa, tempat punggawa kerajaan menyampaikan titah sultan di masa itu.
 

 

Di sisi lainnya, dekat dengan pagar Museum Banten Lama, ada pula Watugilang yang konon dahulu dipergunakan sebagai tempat pentahbisan Sultan Banten. Watugilang merupakan batu andesit berukuran 190 x 121 cm, dengan ketebalan 16,5 cm. Batu ini berasal dari Kerajaan Pajajaran yang ditaklukkan Banten pada 1579 M. Watu Gilang Sriman Wriwacana dipindahkan ke Banten Lama oleh Panembahan Yusuf atas perintah ayahnya, yaitu Maulana Hasanuddin.

Sebuah arca Nandi berukuran cukup besar namun kepalanya sudah rusak tampak dipajang di dalam ruang museum. Tak ada penjelasan dimana dan kapan arca ini ditemukan sebelum disimpan di Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama ini. Keberadaan arca Nandi memberi bukti bahwa pengaruh kebudayaan Hindu juga hidup di wilayah Banten Lama.

Di latar belakang arca terdapat tulisan yang berbunyi "Banten Lama ternyata merupakan situs yang berkelanjutan. Di sini ada pembuktian arkeologi yang menunjukkan telah berlangsungnya peradaban prasejarah, kemudian berlanjut ke jaman klasik (Hindu - Buddha). Namun sekitar abad ke-16 Masehi mulailah kebudayaan Islam memantapkan dirinya di bumi Banten"

Gerabah dan keramik adalah diantara artefak yang dipamerkan di Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama sebagai hasil penggalian arkeologi di tempat bekas kerajaan. Hanya saja sebagian koleksi gerabah dan keramik kuno itu terlihat sudah tidak utuh lagi.

Pada dinding terdapat lukisan yang menggambarkan seorang pengrajin gerabah yang masih memakai cara tradisional dalam membuat dan membentuk sebuah gentong besar, dan seorang lagi tengah membuat keramik sebesar vas bunga. Seni membuat gerabah sudah dikenal oleh masyarakat Banten sejak abad ke-15.

Di sisi lain ada sebuah batu yang berasal dari kubur Belanda, mungkin dulunya ada di sekitar Benteng Speelwijk. Selain torehan berlambang, juga ada tulisan yang berbunyi "Here lyeth the Body of Cap Roger Bennit Commander of the Bombay Marchant deceafed y 3 of January 1677". Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama ini telah mengalami renovasi pada pertengahan tahun 2013 lalu

 

 

sumber : https://www.aroengbinang.com/2018/01/museum-situs-kepurbakalaan-banten-lama-serang.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Panduan Memahami Asal Usul Gresik:
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Timur

Panduan Memahami Asal Usul Gresik: Dari Jejak Sejarah hingga Etimologi Nama Gresik, yang dijuluki Kota Wali karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Jawa, merupakan salah satu wilayah bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa. Memahami asal usul daerah ini tidak hanya menyangkut pengetahuan kronologis semata, tetapi juga memerlukan analisis terhadap berbagai lapisan sumber—dari prasasti kuno, naskah babad, hingga catatan kolonial. Panduan ini dirancang untuk membantu pembaca menavigasi kompleksitas historiografi Gresik secara sistematis, mulai dari etimologi nama hingga penetapan identitas administratifnya sebagai kabupaten. Sumber Sejarah dari Masa Jawa Kuno Dalam tradisi historiografi Indonesia, Gresik menempati posisi unik karena keberadaan sumber-sumber tertulis dari periode Jawa Kuno. Dua dokumen kuno menjadi landasan utama bagi para sejarawan dan budayawan dalam menelusuri akar historis wilayah ini (Sumber 3). Pertama, Babad Hing Gresik merupakan naskah sejar...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rambu Solo':
Ritual Ritual
Sulawesi Selatan

Rambu Solo': Ketika Kematian Menjadi Perayaan Perjalanan Bagaimana mungkin kematian—yang di banyak budaya menjadi momen duka dan kehancuran—diubah menjadi sebuah pesta yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Bagi Suku Toraja di Sulawesi Selatan, kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan terakhir yang memerlukan persiapan ritualistik yang rumit dan mahal. Inilah inti dari Rambu Solo' , upacara pemakaman dalam ajaran Aluk Todolo yang mengubah penguburan menjadi sebuah spektakul budaya penuh makna. Menunggu di Antara Dua Dunia Paradoks pertama dari Rambu Solo' terletak pada pengertian kematian itu sendiri. Dalam logika Aluk Todolo —kepercayaan leluhur Suku Toraja—seseorang yang baru meninggal secara fisik belum benar-benar "mati" secara spiritual. Mayat akan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah, bukan untuk segera dikubur, melainkan menunggu waktu yang dianggap tepat (Sumber 4). Masa tunggu ini bisa berlangsung berm...

avatar
Kianasarayu