
Rumah di Jalan Mangga 21, tempat WR Soepratman wafat (Foto: Michelle Alda Gunawan)
Wage Rudolf Soepratman dilahirkan di Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, Purworejo dan wafat di Jalan Mangga 21 Surabaya. Rumah wafat pencipta lagu Indonesia raya itu kini telah menjadi museum sekaligus menjadi bangunan cagar budaya di Surabaya.
"Jadi dulu rumah ini adalah rumah kakak pertama WR Soepratman, Roekiyem Soepratijah. Pada tahun 1937 WR Soepratman pindah dari Pemalang ke Surabaya dan tinggal di sini. Ia juga meninggal disini pada tanggal 17 Agustus 1938," papar penjaga museum rumah wafat WR Soepratman Ahmad Saifuna Arif (27) kepada detikcom, Minggu (29/10/2017).
Pada saat WR Soepratman tinggal, rumah wafat itu dihuni oleh 4 orang, yaitu WR Soepratman dan keluarga Roekiyem.
"Dulu ada 4 orang disini yaitu Roekiyem, WR Soepratman, anak dari Roekiyem yang bernama Dedi Ferdinand, dan suami Bu Roekiyem yang bernama W.M Van Eldik," ujar Arif.
Rumah kecil dengan luas 5x10 meter itu memiliki dua kamar. Kamar di sebelah kanan merupakan kamar keluarga Roekiyem dan kamar di sebelah kiri adalah kamar WR Soepratman. Pada kamar WR Soepratman terdapat kasur miliknya yang dibawa langsung dari Purworejo.
"Sebelah sini (kanan) kamar Roekiyem dan ini (kiri) adalah kamar WR Soepratman saat tinggal di sini. Ini adalah kasur milik WR Soepratman dari Purworejo. Baru datang dua minggu yang lalu itu," kata Arif sambil menunjukkan sekaligus menjelaskan seisi ruangan.
Sebagai penjaga rumah wafat WR Soepratman selama satu tahun, Arif mengaku mengagumi sosok WR Soepratman. Kecintaan WR Soepratman terhadap Indonesia adalah salah satu alasan yang dapat dipelajari Arif dari WR Soepratman.
"Banyak yang bisa dipelajari dari Pak WR Soepratman, salah satunya adalah cintanya terhadap Indonesia, dia nggak memikirkan diri sendiri, dia lebih memikirkan bangsa Indonesia," ujarnya.
Kata-kata terakhir WR Soepratman sebelum ia meninggal kepada saudara iparnya mengenang di hati Arif. Saat mengucapkan kata-kata terakhir WR Soepratman, terlihat mata Arif berkaca-kaca. Ia mengaku ketika mengucapkan kata terakhir pahlawan nasional itu, ia seringkali menangis haru.
"Dia ngomong sama Pak Oerip Kasan Senari, saudara iparnya seperti ini 'mas nasibku sudah begini, inilah yang disukai oleh pemerintah Hindia Belanda biarkan saya meninggal, saya ikhlas, saya toh sudah beramal, berjuang, dengan caraku, dengan biolaku. Saya yakin Indonesia pasti merdeka'. Itu adalah kata-kata terakhir beliau yang bisa saya kenang," ujar Arif berkaca-kaca.
Di Hari Sumpah Pemuda ini, pengunjung rumah wafat WR Soepratman lebih banyak dari biasanya. Biasanya memang ada segelintir orang yang berkunjung namun tidak sebanyak ketika perayaan hari nasional seperti Hari Sumpah Pemuda, Hari Pahlawan, dan lain-lain.
sumber : https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-3704483/melihat-rumah-wafat-wr-soepratman-di-surabaya
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara