Produk Arsitektur
Produk Arsitektur
Museum Daerah Istimewa Yogyakarta Yogyakarta
Museum Pusat TNI-AD Dharma Wiratama
- 2 Januari 2019
Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama berlokasi di Jl. Jenderal Sudirman No. 75 Yogyakarta. Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama diresmikan oleh Kasad Jenderal TNI Poniman pada tanggal 30 Agustus 1982. Museum ini awalnya merupakan Markas Korem 072/Pamungkas Kodam VII Diponegoro yang diabadikan menjadi gedung Museum Pusat TNI AD, mempunyai riwayat yang cukup panjang sesuai dengan fungsi/pemakaiannya.
 
DSC04688.JPG


Koleksi yang digelar merupakan benda-benda bersejarah yang dipergunakan oleh para pejuang dan lascar-laskar rakyat dalam merebut, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan RI. Jumlah koleksinya 4.289 buah.

Gedung yang dibangun pemerintahan kolonial Belanda tahun 1904 dengan luas sekitar 1.564 m², pada mulanya dipergunakan sebagai rumah dinas pejabat administrasi perkebunan Belanda di Jawa Tengah dan DIY. Pada zaman Jepang tahun 1942, gedung ini disita dan dipergunakan sebagai Markas Tentara Jepang di Yogyakarta (Syudokan).
 
DSC04690.JPG


Setelah Indonesia Merdeka, gedung ini digunakan sebagai Markas Besar TKR (MBT). Di markas ini diselenggarakan Konferensi TKR pada 12 November 1945, yang berhasil memilih Pimpinan Tertinggi Angkatan Perang yaitu Panglima Besar Jenderal Sudirman.

DSC04689.JPG


Di markas ini Panglima TKR mengendalikan komando ke seluruh wilayah tanah air Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan RI dan sebagai tempat Kepala Staf Letjen Urip Sumoharjo menyusun organisasi TKR yang selanjutnya berkembang menjadi TNI.

Gedung ini pernah digunakan sebagai Markas Korem 072/Pamungkas Kodam VII Diponegoro dan saksi sejarah kebiadaban G 30 S/PKI pada tahun 1965, yang melakukan penculikan terhadap Kepala Staf Korem 072/Pamungkas Kodam VII Diponegoro, Letkol Sugiyono dan akhirnya dibunuh secara kejam bersama dengan Danrem 072/Pamungkas Kodam VII Diponegoro, Kolonel Inf. Katamso Dharmokusumo, yang diculik dari rumah dinas oleh oknum Yon L Kentungan Yogyakarta.
 
TATA RUANG DAN KOLEKSI MUSEUM
 
·         RUANG 1 : RUANG PENGANTAR
Terletak di bagian tengah depan gedung utama sebagai ruang pengantar para pengunjung untuk memahami nilai dan arti perjuangan serta pengabdian para pahlawan dan pejuang dalam merebut, mengisi dan mempertahankan kemerdekaan RI melalui aspek kesejarahan koleksi Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama.
Koleksi yang dipamerkan sebagai bukti sejarah perjuangan sesuai dengan tema kronologis historis perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajah, prasasti peresmian Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama dan foto para mantan Kasad.
 
DSC04661.jpg
·         RUANG 2 : RUANG JENDERAL SUDIRMAN
Sebagai ruang kerja Jenderal Sudirman sewaktu menjabat Panglima Besar, yang terpilih dari hasil Konferensi TKR 12 November 1945 dan dilantik sebagai Panglima Besar 18 Desember 1945. Di ruangan ini, Jenderal Sudirman memimpin, memberikan komando dan membina TNI.
 
DSC04666.JPG
·         RUANG 3 : RUANG LETJEN URIP SUMOHARJO
Sebagai ruang kerja Letjen Urip Sumohardjo yang menjabat sebagai Kepala Staf. Di ruangan ini, Letjen Urip Sumohardjo merumuskan organisasi tentara yang memiliki jati diri sebagai tentara rakyat, tentara perjuangan dan tentara nasional.
Koleksi yang dipamerkan yaitu meja kerja, telepon, kursi tamu rotan, foto setengah badan. Suatu keteladanan pejuang sejati, yang menjabat Kepala Staf, ahli organisasi tentara yang berjuang tanpa pamrih dalam mengabdi kepada bangsa dan negara.
 
DSC04663.JPG
·         RUANG 4 : RUANG PALAGAN
Di ruang ini dipamerkan koleksi senjata, alat perlengkapan, pakaian pejuang, seragam tentara PETA dan TKR serta lukisan 8 palagan besar yang menentukan dalam merebut, mengisi dan mempertahankan Kemerdekaan RI dari tentara Belanda, Sekutu dan Jepang. 8 palagan tersebut, yaitu Palagan Medan (Perjuangan Medan Area), Palagan Palembang (Pertempuran 5 hari 5 malam), Palagan Bandung (Bandung Lautan Api), Palagan Semarang (Pertempuran 5 hari), Palagan Ambarawa, Palagan Surabaya, Palagan Bali (Puputan Margarana) dan Palagan Makassar.
 
DSC04669.JPG
·         RUANG 5 : SENJATA MODAL PERJUANGAN
Koleksi berupa senjata tradisional (keris, trisula, tombak, klewang, panah, bambu runcing, meriam kecepek), senapan dan pistol yang dirampas dari tentara Jepang dan Belanda serta granat gombyok yang digunakan para pejuang untuk merebut, mengisi dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari penjajah.
 
DSC04675.JPG
·         RUANG 6 : RUANG DAPUR UMUM
Menggambarkan dapur tradisional rumah rakyat yang terbuat dari bambu dan atap rumbia, yang berperan dalam perjuangan dengan mendukung keperluan logistik dapur umum di setiap sector pertempuran. Koleksi: kukusan, dandang, kekep, bakul, tenggok, tungku api, kayu bakar dan kendil air.
 
·         RUANG 7 : RUANG ALHUB DAN ALKES
Koleksi yang digelar berupa alhub (telepon Belanda, baterai radio, radio pemancar TRT, pesawat induk TRT, pesawat penerima R. 107, pemancar BC-191-N, pesawat SCR 284/BC 694, pemancar dan penerima HF 156, pemancar dan penerima WS-19) dan Alkes berupa alat operasi yang digunakan untuk merawat prajurit yang sakit dan tertembak saat terjadi pertempuran.
 
·         RUANG 8, 9, 10 : RUANG PERANG KEMERDEKAAN
Di ruangan ini digambarkan dharma bakti Angkatan Darat dalam mempertahankan kemerdekaan RI dari Agresi Militer Belanda I pada tanggal 21 Juli 1947 dan Agresi Militer Belanda II tanggal 19 Desember 1948.
 
·         RUANG 11 : RUANG PANJI-PANJI
Ruang Panji-panji memiliki koleksi, seperti Panji-panji Kesatuan TNI AD, Pataka Kotama/Balakpus, Dhuaja Resimen, Brig, Korem, Grup, Sempana Kodiklatad dan Rindam, Tunggul Batalyon serta Pathola Depo Pendidikan.
 
DSC04677.JPG
·         RUANG 12 : RUANG GAMAD
Di ruang ini dipamerkan berbagai bentuk dan tipe seragam Angkatan Darat meliputi PDH, PDU dan PDL beserta atributnya sejak tahun 1950 sampai dengan 1980.
 
·         RUANG 13 : RUANG TANDA JASA
Di ruang ini dipamerkan Tanda Jasa /Penghargaan berupa Bintang Jasa dan Satya Lencana sebagai pengakuan dan penghargaan atas jasa para prajurit yang telah berjuang, mengabdi kepada bangsa dan negara sehingga dapat memberikan dukungan moril dan kebanggaan kepada yang bersangkutan, keluarga dan generasi penerus.
 
·         RUANG 14, 15, 16 : RUANG PERISTIWA
Di ruang ini digambarkan peristiwa pemberontakan PKI, DI/TII Kartosuwiryo di Jawa Barat, DI/TII Sulawesi Selatan, kebiadaban gerakan separatis dan Operasi Militer yang digelar TNI dalam rangka memulihkan keamanan, mempertahankan keutuhan wilayah dan menjaga kedaulatan NKRI.
 
·         RUANG 17 : RUANG ALAT PERALATAN
Di ruang ini dipamerkan benda-benda bersejarah yang dipergunakan pada gelar operasi satuan Angkatan Darat dalam menanggulangi gangguan keamanan dari pihak-pihak yang merongrong NKRI sejak tahun 1950 hingga sekarang, yaitu: senjata, alat optic, alat perhubungan dan mesin elektronik.
 
·         RUANG 18 : RUANG PIAGAM KEUTUHAN AD DAN KONTINGEN GARUDA
Di ruang ini digambarkan situasi tahun 1950-an, peristiwa rakyat demonstrasi sebagai usaha menyatukan konflik internal Angkatan Darat yang dirintis oleh Kolonel Bambang Sugeng dan berhasil dilaksanakan upacara di Istana Yogyakarta yang dipimpin Presiden Soekarno dengan ditandatanganinya Piagam Keutuhan.
Koleksi yang dipamerkan: Piagam Keutuhan, penyangga pbor penerangan pada peristiwa penandatanganan Piagam Keutuhan TNI AD, benda-benda koleksi dan foto Kontingen Garuda di Kongo, Afrika dan Kamboja.
 
·         RUANG 19 : RUANG PAHLAWAN REVOLUSI
Di ruang ini digambarkan kebiadaban peristiwa pemberontakan G 30 S/PKI yang menculik dan menyiksa para pimpinan Angkatan Darat. Sembilan Perwira Angkatan Darat yang diangkat sebagai Pahlawan Revolusi yaitu: Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani, Letjen TNI Anumerta R. Suprapto, Letjen TNI Anumerta M.T. Haryono, Letjen TNI Anumerta Suwondo Parman, Mayjen TNI Anumerta Donald Ignatius Panjaitan, Mayjen TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo, Brigjen TNI Katamso Dharmokusumo, Kolonel Inf Anumerta Sugiyono, Kapten Czi Anumerta Piere Tendean.
Koleksi yang dipamerkan berupa perlengkapan militer dan pribadi Pahlawan Revolusi, foto Pahlawan Revolusi dan riwayat hidup singkat.
 
·         RUANG 20 : RUANG PENUMPASAN G 30 S/PKI
Koleksi yang dipamerkan, antara lain: benda-benda bukti sejarah alat propaganda G 30 S/PKI yaitu senjata api, senjata tradisional, bendera PKI, buku-buku doktrin PKI dan alat transportasi sepeda; Operasi Militer penumpasan PGRS/Paraku di Kalimantan; mobil sedan Holden Special yang pernah digunakan Panglima Mandala Mayjen TNI Soeharto dalam Operasi Militer Pembebasan Irian Barat tahun 1963 serta seragam darah mengalir komandan RPKAD Kolonel Inf Sarwo Edhi Wibowo.
 
OUTDOOR DISPLAY
                Di Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama, benda koleksi yang dipamerkan bukan hanya di dalam gedung namun ada pula yang berada di luar gedung, tertata pada lokasi masing-masing:
·         Di halaman depan Gedung Museum dipamerkan seperti Tank Stuart MK I dan Tank Stuart MK III yang dipakai dalam operasi penumpasan pemberontakan AUI, MMC dan G 30 S/PKI di Jawa Tengah, Meriam Bofors, Meriam Gunung caliber 75 mm yang dipergunakan TNI pada Palagan Ambarawa tahun 1945 dan Meriam Gunung caliber 37 mm penyerahan dari Mayor Jenderal Meijer, Panglima Tentara Belanda di Jawa Tengah kepada Panglima Divisi III/Diponegoro, Kolonel Gatot Subroto.
·         Di taman sebelah kanan gedung induk museum terdapat Meriam AT, SMS Browning dan 2 buah bom.
·         Di taman sebelah kanan gedung belakang (R.11 – 18) terdapat Ruang Bawah Tanah yang dibangun bersamaan waktu dengan berdirinya gedung museum ini. Ruang ini oleh pendiri diperuntukkan sebagai tempat persembunyian bagi yang menempati. Di samping itu, terdapat pula Tank Stuart MK I. *** [130312]
 
Sumber:

_______________ , 2008, Buku Panduan Museum Pusat TNI AD “Dharma Wiratama”, Jakarta: Dinas Sejarah Angkatan Dara

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker
Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu