Kamu gemar mengunjungi museum? Atau gemar mempelajari budaya daerah-darah di Indonesia? Apa kamu pernah berkunjung ke Banten? Buat kamu penggemar museum atau yang gemar belajar budaya, saat berkunjung ke Provinsi Banten jangan lupa untuk mengunjungi Museum Negeri ya.
Bangunan Museum
Museum Negeri Provinsi Banten berada di Kota Serang, Banten. Kota Serang tak jauh letaknya dari Ibukota Jakarta, cukup ditempuh selama 2 hingga 3 jam saja. Jadi kalau ingin mencari tempat wisata baru, museum ini bisa dijadikan pilihan.
Letak museum ini tepat di tengah kota, berdekatan dengan alun-alun Kota Serang. Bangunan yang berada di Jalan Brigjen KH Samun ini memiliki gaya arsitektur dutch colonial villa.
Ketika kamu memasuki kawasan museum kamu pastinya akan merasakan suasana masa kolonial, karena bangunan ini memang peninggalan dari zaman Belanda. Pada zaman dulu bangunan ini difungsikan sebagai kantor residen Banten. Setelah Banten berubah menjadi provinsi, bangunan ini diambil alih untuk menjadi Pendopo Gubernur Banten.
Pada 29 Oktober 2015, Gubernur Rano Karno meresmikan Ex-Pendopo Gubernur ini menjadi Museum Negeri Provinsi Banten. Sebelumnya, Museum Negeri berada di Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Banten yang berada di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B). Gedung ini dipilih karena letaknya yang strategis karena berada di pusat kota dan bangunannya sendiri yang memiliki nilai sejarah. Bangunan ini adalah salah satu cagar budaya di Banten.
Ada apa saja di Museum Negeri Provinsi Banten?
![]()
Koleksi di Museum Negeri Provinsi Banten. (CNN Indonesia/Fitri Chaeroni)
|
Di dekat meja registrasi kamu akan melihat sebuah patung badak bercula satu yang khas dari provinsi Banten dan juga sebuah replika prasasti Munjul. Lalu di sebelah kiri dari pintu masuk kamu akan melihat atraksi hologram yang menjelaskan tentang sejarah provinsi Banten. Iya hologram! Moderen sekali. Museum ini memang memanfaatkan teknologi untuk memberikan informasi pada pengunjungnya.
Menurut salah satu staff museum, Dian Rodiani, Museum Negeri Provinsi Banten ini disusun dan didesain berbeda dengan museum negeri di provinsi lain. Museum kebanyakan memiliki tatanan story line. Di mana tiap koleksi museum diurutkan dan disusun berdasar kurun waktunya. Sedangkan museum negeri di Banten ini mengacu pada post-modern dan memanfaatkan teknologi digital, di mana ketika kita masuk pertama kali ke dalam museum kita akan menemukan sejarah tentang masyarakat Banten yang dikemas dengan atraksi hologram yang sangat moderen. Rangan ini dinamakan dengan ruang ‘Siapa Orang Banten’.
Penggunaan teknologi ini diharapkan membuat pengunjung tak mudah bosan dan mendapat suasana berbeda dari museum kebanyakan. Tak perlu repot membaca keterangan atau label yang tertera pada pajangan. Pengunjung cukup melihat dan mendengarkan, untuk dapat menyerap informasi yang disajikan.
Di ruang aula depan kita akan mendapati berbagai koleksi museum, mulai dari keramik peninggalan zaman dulu, keris pusaka, berbagai arca, dan yang paling mencuri perhatian adalah sebuah fosil badak bercula satu yang ditempatkan dalam etalase kaca.
Selain itu juga ada satu set alat menyelam yang digunakan untuk mengeksplorasi laut di Banten. Setelah itu di aula berikutnya kita masih dapat melihat berbagai koleksi museum dari zaman dulu. Dan di aula ini biasanya digunakan untuk kegiatan menonton film yang berkaitan dengan sejarah Banten.
Museum ini masih terus berkembang dan akan membuat berbagai fasilitas baru. Seperti saat ini tengah digodok untuk membuat ruang ‘Religi’ yang akan menceritakan kisah penyebaran agama di Banten. Dan pastinya akan dikemas dengan memanfaatkan teknologi digital. Selain itu nanti juga akan dibuat Debus Corner dan berbagai fasilitas lain yang akan memberikan berbagai informasi tentang kesenian dan kebudayaan Banten
Selain itu museum negeri juga memliki beberapa program yang bisa kita ikuti lho. Seperti Lawatan Budaya, Workshop Kebudayaan, Lomba Mendesain Logo Museum, dan Weekend at The Museum.
Siapa Pengunjung Museum?
Siapa saja boleh berkunjung ke museum ini, dan pastinya gratis! Kamu tak akan diminta untuk membayar tiket masuk. Kamu bisa berkunjung setiap hari. Museum buka mulai dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore, tiap harinya.
Jumlah pengunjung museum dari tahun ke tahun terus meningkat. Tahun 2015 saja jumlah pengunjungnya mencapai 8.700 dan 2016 sampai saat ini sudah tercatat 11.700 orang berkunjung ke museum ini.
Selain berkunjung secara individu, kita juga bisa mendaftar sebagai rombongan. Saat ini sudah banyak sekolah yang berkunjung ke museum ini. Jadi ayo coba ajak guru di sekolah kamu untuk berkunjung ke Museum Negeri Banten.
Sumber : https://student.cnnindonesia.com/edukasi/20160914161819-445-158266/belajar-kebantenan-di-museum-negeri-provinsi-banten
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...