Bangunan berbentuk limas ini berdiri megah di Desa Gebangharjo, Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri, Jawa Tengah. Di kelilingi bukit kapur pegunungan sewu, sekilas bangunan seperti gunung.
Bagian bawah besar dan kokoh, ke atas makin mengecil. Inilah Museum Kars Indonesia (MKI), yang disebut-sebut museum karst terbesar di Asia Tenggara. Keseluruhan kompleks museum hampir 25 hektar, dengan luas bangunan 300 meter persegi, terdiri dari tiga lantai.
Kala memasuki museum, pengunjung akan “disapa” miniatur stalagtit dan stalagmit di lobi. Setelah mengisi buku tamu, bisa memasuki lantai satu berisi peraga dan berbagai gambar tentang peta karst dunia, pembentukan karst, fenomena karst Indonesia, hingga replika manusia kerdil di Flores. Lantai satu bertema Karst untuk Ilmu Pengetahuan.
Selanjutnya, pengunjung bisa ke lantai dasar berisi beraneka alat budaya, diorama, hingga kerangka manusia prasejarah. Lantai dasar ini bertema karst untuk kehidupan. Lantai dua atau teratas berupa auditorium untuk pemutaran film dan rapat atau presentasi.
Dari balkon lantai dua, pengunjung bisa menikmati keindahan pemandangan perbukitan karst yang mengitari museum. Manfaatnya, mereka bisa membandingkan materi peraga di museum dengan kondisi nyata.
Sebenarnya, penulisan baku untuk karst menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah karst, tetapi museum ini pakai penulisan kars, tanpa huruf ‘t’.
Agung Kurniawan dan informasi keragaman hayati di museum karst. Foto: Nuswantoro/Mongabay-Indonesia
Karst Indonesia
Di lantai satu, pengunjung dapat belajar proses karst terjadi, tipe-tipe karst di Indonesia, dan apa saja yang unik dan khas dari fenomena karst di seluruh Indonesia.
Dari sana disebutkan, karst adalah bentukan topografi batu gamping akibat pelarutan air. Proses pelarutan ini berlangsung ratusan ribu hingga jutaan tahun. Makin lama, pelarutan membentuk lubang lalu menjadi gua, sungai bawah tanah, dan dolina.
Batu gamping sendiri berasal dari biota laut berupa karang. Karena suatu hal, misal, aktivitas gunung api di laut, karang ini menjadi mati. Oleh tekanan dan kondisi alamiah tertentu makin lama tumpukan kerang ini berubah menjadi batu gamping.
Nah, batu gamping yang semula di laut ini akhirnya jadi perbukitan di daratan lewat proses pengangkatan tenaga tektonik.
Beberapa bukti bahwa batuan gamping dulu berada di dasar laut ditampilkan dalam museum, seperti ada fosil Gastropoda (siput laut) ditemukan di batuan kapur Pacitan. Bukti lain temuan Pelecypoda (kerang) di batuan kapur Gombong.
Gambaran karst di Indonesia juga ditampilkan baik lewat gambar, peraga, maupun informasi audio visual yang bisa dinyalakan dengan menekan tombol. Mulai dari karst Ciampea, Ciseeng, Gudawang, Gunung Sewu, Maros-Pangkep, Gombong, Sangkulirang-Tanjung Mangkaliat-Tapin, Wawolesea, Padang, Muna, hingga karst Papua.
Beberapa keterangan menarik antara lain proses karstifikasi Gunung Sewu masih berlangsung sampai sekarang. Pengangkatan daratan di Lembah Sadeng terjadi 1-1,5 cm setiap tahun.
Di Pacitan, terjadi sistem perguaan bawah tanah sepanjang 18 km, yaitu Luweng Jaran, jadi gua bawah tanah terpanjang di Jawa.
Karst Maros-Pangkep (Sulawesi Selatan) bercirikan bukit menjulang tinggi seperti menara. Goa-goa di sana diketahui menjadi tempat tinggal manusia prasejarah. Banyak temuan tulang hewan vertebrata yang menjadi penanda sisa makanan atau hewan buruan. Di dinding gua ditemukan lukisan sederhana berupa gambar hewan dan tangan manusia yang eksotis.
Di Goa Pawon (Bandung, Jawa Barat) masuk karst Rajamandala, sekelompok peneliti menemukan kerangka manusia purba diperkirakan berumur 9.500-5.600 tahun. Ada pula temuan serpihan batu, cangkang diduga peralatan sederhana untuk memukul dan memotong. Replika dari kerangka manusia purba ini juga ditampilkan dalam peraga tiga dimensi.
“Sekitar 5.000 tahun lalu, manusia masih tinggal di goa-goa,” kata Agung Kurniawan, pemandu museum yang menemani saya melihat-lihat isi museum beberapa waktu lalu.
Saya jadi teringat foto kakek-nenek buyut dengan latar belakang rumah mereka di album keluarga. Saya lalu menceritakan itu kepada Agung.
“Rumahnya sangat sederhana. Berdinding bambu, beralas tanah. Kursi yang jadi tempat duduk di beranda hanyalah potongan batang kayu yang ditata sederhana. Kira-kira itu hanya 60 tahun lalu,” kata saya.
Bisa dibayangkan bagaimana gambar kehidupan manusia jika rentang waktu digeser mundur 5.000 -10.000 tahun lalu.
Di Goa Liang Bua (Nusa Tenggara Timur), juga ditemukan kerangka manusia prasejarah. Uniknya, mereka berukuran kerdil, setinggi pinggang orang dewasa modern. Homo Floresiensis ini diperkirakan hidup pada 100.000 -120.000 tahun lalu. Terdapat perdebatan antara para ahli, apakah mereka kerdil karena kelainan atau varian dari manusia modern yang kini punah. Pengunjung bisa melihat dari dekat replika kerangkanya.
Sementara karst Papua, dijelaskan sebagai salah satu karst langka di dunia karena puncak diselimuti salju. Puncak Jaya, salah satu dari lima gunung di dunia yang tertutup salju khatulistiwa.
Pesona keindahan Raja Ampat, yang mendunia juga bentukan karst. Sudah selayaknya karst dijaga karena bernilai sejarah, unik, dan indah.

Goa Tembus, yang bisa didatangi di dekat museum. Foto: Nuswantoro/Mongabay-Indonesia
Hunian manusia purba
Salah satu lokasi yang jadi favorit pengunjung yang sebagian besar adalah pelajar dan orang dewasa untuk swafoto adalah diorama gua karst dengan patung-patung manusia purba. Terletak di dekat pintu masuk menuju lantai dasar. Di sana pengunjung bisa lebih dekat merasakan bagaimana gua karst yang dipakai manusia purba sebagai tempat berlindung.
Tak jauh dari tempat itu terdapat diorama gua dan peraga vertebrata karst berupa dua patung kuda nil.
“Pada 2001 sekelompok peneliti menemukan kerangka kuda nil di Gunung Kidul. Menunjukkan kawasan itu dulu daerah basah,” kata Agung.
“Kuda nil dikenal berasal dari sungai Nil Mesir. Bagaimana binatang itu sampai ke Gunung Kidul?” katanya.
Dalam buku panduan menyebutkan, manusia prasejarah dulu memanfaatkan karst sebagai tempat tinggal. Pada masa megalitikum, manusia prasejarah mendiami karst Gunung Sewu bagian barat, meliputi Munggur, Sokoliman, Gunungbang, Kajar, dan Bleber di Gunungkidul.
Selain diorama goa, di lantai dasar ini pengunjung disuguhi peraga keragaman flora dan fauna di karst. Flora hadir dalam bentuk gambar. Umumnya, berjenis tanaman tahan kering dan kurang tanah, misal, jati, bambu, dan beringin.
Sedang fauna, dalam bentuk gambar dan spesimen diawetkan seperti kupu-kupu, kelelawar, capung, laba-laba, katak, dan ular.
Pengunjung juga bisa belajar tipe-tipe karst di Indonesia, lewat miniatur topografi karst. Maket itu berukuran besar, yang cukup menyita ruang di lantai bawah.
“Ada tiga tipe karst di Indonesia, yaitu karst Gunung Sewu, Gombong, dan Maros. Karst Gunung Sewu berbentuk kerucut, yang di Gombong berbentuk cockpit, sementara yang di Maros berbentuk menara.”
Di salah satu sudut pengunjung juga bisa melihat maket Gunung Sewu, tercatat sebagai Geopark dunia. Ia membentang dari Pacitan, Wonogiri, hingga Gunungkidul. Memiliki banyak gua, dan sungai bawah tanah yang fenomenal.
Gratis
Saat ini, siapapun bisa berkunjung museum dan tak kena biaya alias gratis.
“Untuk operasional dan pemeliharaan, museum karst di bawah museum geologi dan Badan Geologi di Bandung,” katanya.
Biaya dipungut oleh pemerintah daerah Wonogiri untuk mereka yang masuk ke kawasan, perorang hari biasa Rp3.100, dan hari Sabtu dan libur nasional Rp4.100.
“Tiket yang mengelola Dinas Pariwisata Wonogiri. Jumat museum tutup. Museum buka mulai pukul 8.30, tutup pukul 15.30,” kata Agung.
Museum buka untuk umum 2010 ini sengaja dibangun di kawasan karst sekaligus jadi keunikan tersendiri. Secara konseptual, museum karst diharapkan jadi wahana pembelajaran, baik indoor maupun outdoor.
“Indoor, pengunjung bisa melihat koleksi museum, outdoor pengunjung bisa melihat langsung beberapa fenomena karst sekitar.”
Goa tersebar seputar museum
Ada tujuh goa besar dan kecil tersebar di seputar museum dan bisa dikunjungi. Untuk sampai ke sana, pengunjung sebaiknya pakai kendaraan baik roda dua maupun empat karena lokasi cukup jauh, naik turun bukit. Goa-goa itu adalah Tembus, Sodong, Potro-Bunder, Sapen, Gilap, Mrica, dan Sonya Ruri.
Museum ini bisa dicapai dari Kota Wonogiri sekitar 40 km, menuju Pasar Pracimantoro lalu belok kanan. Dari arah Gunungkidul sekitar 60 km, melewati jalan aspal mulus dan berkelok. Posisinya di sebelah kanan jalan. Kalau dari arah Pacitan di kiri jalan, jarak tempuh sekitar 50 km.

Bangunan Museum Kars Indonesia. Foto: Nuswantoro/Mongabay Indonesia
sumber :http://www.mongabay.co.id/2017/07/15/museum-karst-di-wonogiri-ini-sandingkan-masa-prasejarah-dengan-kondisi-terkini/
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...
Panduan Memahami Asal Usul Gresik: Dari Jejak Sejarah hingga Etimologi Nama Gresik, yang dijuluki Kota Wali karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Jawa, merupakan salah satu wilayah bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa. Memahami asal usul daerah ini tidak hanya menyangkut pengetahuan kronologis semata, tetapi juga memerlukan analisis terhadap berbagai lapisan sumber—dari prasasti kuno, naskah babad, hingga catatan kolonial. Panduan ini dirancang untuk membantu pembaca menavigasi kompleksitas historiografi Gresik secara sistematis, mulai dari etimologi nama hingga penetapan identitas administratifnya sebagai kabupaten. Sumber Sejarah dari Masa Jawa Kuno Dalam tradisi historiografi Indonesia, Gresik menempati posisi unik karena keberadaan sumber-sumber tertulis dari periode Jawa Kuno. Dua dokumen kuno menjadi landasan utama bagi para sejarawan dan budayawan dalam menelusuri akar historis wilayah ini (Sumber 3). Pertama, Babad Hing Gresik merupakan naskah sejar...
Rambu Solo': Ketika Kematian Menjadi Perayaan Perjalanan Bagaimana mungkin kematian—yang di banyak budaya menjadi momen duka dan kehancuran—diubah menjadi sebuah pesta yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Bagi Suku Toraja di Sulawesi Selatan, kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan terakhir yang memerlukan persiapan ritualistik yang rumit dan mahal. Inilah inti dari Rambu Solo' , upacara pemakaman dalam ajaran Aluk Todolo yang mengubah penguburan menjadi sebuah spektakul budaya penuh makna. Menunggu di Antara Dua Dunia Paradoks pertama dari Rambu Solo' terletak pada pengertian kematian itu sendiri. Dalam logika Aluk Todolo —kepercayaan leluhur Suku Toraja—seseorang yang baru meninggal secara fisik belum benar-benar "mati" secara spiritual. Mayat akan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah, bukan untuk segera dikubur, melainkan menunggu waktu yang dianggap tepat (Sumber 4). Masa tunggu ini bisa berlangsung berm...