Produk Arsitektur
Produk Arsitektur
Museum Jawa Tengah Surakarta
Museum Dullah
- 2 Januari 2019

Gembok rantai besi memberangus pintu gerbang sebuah bangunan rumah di Jalan Cipto Mangunkusumo No. 15 Solo. Senyap terasa seolah tiada tanda-tanda kehidupan di gedung yang terlihat lebih tua dari usia yang sebenarnya. Di balik pagar, pintu kayu berukir juga tertutup rapat-rapat. Demikian pula dengan jendelanya, tak terlihat ada yang dibuka.

Kelebaman hujan melengketkan dedaunan yang jatuh dari rimbunnya Pohon Tanjung dan Pohon Nagasari. Sebuah sapu lidi disandarkan terbalik di salah satu pohon di halaman gedung yang teramat sepi itu. Sebuah guci di atas kolam bundar tampak  berwarna kehitaman dari kejauhan.

dullah-5_smallAroma tua dan usang juga menguar dari relief dan pahatan di pagar tembok yang sudah mengusam. Hanya papan nama yang tertancap di depan pintu gerbang yang terlihat agak mengkilap, ditulis dengan huruf kapital warna merah menyala yang menandai rumah tersebut adalah Museum Dullah, milik pelukis yang terkenal di masa revolusi.

“Kami memang tidak membuka museum ini untuk masyarakat umum, tetapi museum ini tidak tutup,” kata Hendro, seorang lelaki yang mengaku ditugasi pemilik Museum Dullah untuk menjaganya, ketika ditanya kenapa museum tersebut tampak tak dihuni.

Menempati lahan sekitar 2000 meter persegi, rumah tinggal, studio dan sekaligus museum yang didirikan pada tahun 1981 itu sudah belasan tahun tak pernah dibuka. Tepatnya setelah Dullah meninggal dunia pada 1 Januari 1996. Hendro menyebut faktor keamanan yang membuat museum itu tak lagi dibuka seperti ketika diresmikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hasan, 1 Agustus 1988.

“Kalau disebut tutup total sebenarnya juga tidak. Kami masih buka, tetapi dengan pengunjung yang terseleksi. Kami menerapkan sistem booking terlebih dahulu. Siapa yang akan masuk kami seleksi dulu, dilihat-lihat dulu apa kepentingannya. Kalau hanya mau nonton, apalagi tanya-tanya harga tidak kami perkenankan,” kata Hendro.

Sebagai orang yang ditugasi menjaga dan merawat museum itu, Hendro tak mau kecolongan. Berulang kali dia menyebut keamanan yang membuat museum itu selalu tertutup pintunya. Saking khawatirnya terhadap keamanan koleksi, semua pintu di gedung itu dikunci dengan delapan buah kunci. Tak cukup hanya itu, setiap pintu juga diberi palang besi.

“Kami tak memiliki CCTV tetapi setiap dua jam sekali ada patroli dari kepolisian yang kami minta untuk turut menjaganya. Di malam hari juga ada anggota (kepolisian) yang berjaga di depan,” kata Hendro yang mengaku sebagai  murid Dullah.

Antara konflik keluarga dan alasan keamanan

Dullah mangkat di usianya yang ke-77 menyusul istrinya, Fatimah Dullah yang meninggal setahun sebelumnya. Dullah, pelukis istana semasa pemerintahan Soekarno, tak memiliki putra. Dullah mengangkat Sawarno, yang kini disebut-sebut merupakan pengusaha kaya berdomisili di Surabaya sebagai anak angkatnya. Sawarno menugasi Hendro bersama Miranto menjaga museum. “Saya yang memelihara koleksi, Mas Miranto yang merawat gedung, menjaga kebersihan dan sebagainya,” katanya.

dullah-7_smallMuseum ini ditutup untuk umum konon dikarenakan terjadi  konflik keluarga. Saudara Dullah, konon ingin mendapatkan bagian dari warisan Dullah yang tak beranak pinak. Padahal, secara hukum formal, Sawarno, yang merupakan anak angkat Dullah yang memiliki hak ahli waris. Namun Hendro tak mau membicarakan ini, dia hanya berdalih faktor keamanan-lah satu-satunya alasan yang membuat museum ini belum dibuka seperti ketika Dullah masih hidup. “Dulu pernah ada lukisan yang hilang. Lukisan karya Raden Saleh, tetapi sudah bisa balik,” ujarnya. Namun lukisan itu hilang ketika Dullah masih ada.

Jika Miranto tinggal di bagian belakang museum, Hendro mengaku banyak bepergian dari satu kota ke kota lain. Menurut dia, meski tidak pernah dibuka, semua koleksi Museum Dullah yang berjumlah tidak kurang dari 900 buah semua dalam kondisi terawat. “Nggak apa-apa museum diisukan sudah kosong dan sebagainya. Malah ada yang menanyakan kalau gedung ini mau dijual. Kami malah senang diisukan seperti itu,” kata Hendro.

Meski mengaku tidak tutup, namun Hendro tidak bisa menunjukkan bukti masih adanya pengunjung. Dia mengaku tidak pernah mencatat pihak-pihak yang mengunjungi museum. Dia hanya menyebut mereka yang datang dengan selalu menghubunginya terlebih dahulu itu berasal dari balai lelang atau museum lain. “Ada yang dari Singapura, mahasiswa seni rupa juga sering. Mereka biasanya ingin memastikan seperti apa sebenarnya karya-karya Pak Dullah karena banyak yang ragu karya Dullah yang di luar sekarang ini,” ujarnya.

Hendro mengaku tidak pernah menarik biaya dari mereka yang sudah “terseleksi” untuk dapat masuk ke museum. Sementara kebutuhan operasional sehari-hari, semuanya dicukupi oleh pemilik museum. Menurut Hendro, dalam sebulan dirinya menghabiskan biaya hingga Rp 12 juta. Biaya tersebut sebagian besar digunakan untuk biaya keamanan dan pembayaran listrik. “Nggak mungkin dari tiket pengunjung bakal diperoleh dana seperti itu. Padahal risikonya tidak kecil, kalau sampai ada yang hilang bagaimana,” kata Hendro.

Menurut Hendro, dari 900 lukisan tersebut, 700 di antaranya adalah karya Dullah. Sisanya koleksi Dullah, termasuk karya murid-murid Dullah. Seluruh koleksi yang terpajang dulunya dipilih sendiri oleh Dullah. Semuanya digantungkan di dinding. “Tidak menempel ke dinding, tetapi diberi jarak sehingga ada sirkulasi udara sehingga lukisan awet. Itu Pak Dullah yang mengajari,” ujarnya.

Karena sudah lama tak dibuka untuk umum, museum ini tidak lagi memiliki brosur ataupun katalog. Menurut Hendro, dirinya tengah mempersiapkan pembuatan buku katalog sebagai panduan pengunjung jika nantinya museum tersebut buka. Kapan? “Belum tahu, tetapi pasti akan dibuka,” kata dia lagi.

Desain ruangan yang cerdas dan efisien

Bagi mereka yang berhasil diperbolehkan masuk, akan melihat sebuah patung Dullah berbahan logam begitu pintu di ruang utama dibuka. Sarasvati sendiri berhasil masuk ke dalam museum melalui pintu samping setelah mengajak Dirjen Kebudayaan Kacung Marijan. “Jika tadi Anda ndak bawa pak Dirjen, nggak boleh masuk. Anda termasuk yang kewahyon (beruntung) karena bisa masuk dan melihat-lihat lukisan di dalam,” kata Miranto pada Sarasvati. Sementara Hendro langsung melarang Miranto untuk menyalakan lampu. “Jangan nyalakan lampu ya, listriknya tak kuat,” kata Hendro ketika kami masuk ke dalam.

Tanpa satu pun lampu gantung dinyalakan, sesungguhnya ruangan itu sudah teramat terang. Dullah mendesain museumnya yang teramat luas itu dengan cerdas. Di bagian tengah, atap seluruh ruang dibuat transparan dan menghasilkan pencahayaan yang sempurna. Sinar matahari tidak langsung menghujam tetapi menyebar ke samping.

dullah-8_smallMiranto menyebut, pencahayaan dari sinar matahari itu tertahan oleh genting kaca berlapis tiga yang di sela-sela kaca diberi lapisan kertas khusus. Di setiap ruangan besar, terdapat taman dengan atap terbuka yang disebut Miranto sebagai cara untuk mendapatkan sirkulasi udara yang cukup. Hasilnya, tanpa AC, memang ruangan itu terasa sejuk.

Sebagai museum yang sudah belasan tahun tak terjamah oleh pengunjung, museum ini terlihat masih dirawat. Keadaan di dalam museum terlihat kontras dengan keadaan di luar yang terlihat kusam. Dinding-dinding di dalam museum putih bersih, lantai granit masih berkilat, dan plafonnya masih bersih. Hanya diberi waktu 30 menit untuk melihat lukisan yang begitu banyaknya, sepintas terlihat bahwa koleksi yang dipajang masih tampak terjaga. Sayang sekali jika sebuah warisan sejarah ini tak bisa dinikmati khalayak umum dengan mudah.

 

sumber : https://sarasvati.co.id/gallery-museum/09/museum-dullah-terapkan-sistem-seleksi-bagi-pengunjung/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno Candi Miri merupakan salah satu situs candi Hindu yang menjadi bagian dari warisan arsitektur religius Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penyebaran pusat-pusat keagamaan yang strategis pada periode klasik Jawa. Sebagai candi Hindu, Candi Miri mencerminkan adaptasi tradisi arsitektur India yang dikembangkan dengan karakteristik lokal Jawa Kuno, berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Sejarah & Latar Belakang Candi Miri didentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Sumber 4). Letaknya berada di wilayah administratif Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah peradaban Jawa klasik. Terdapat variasi dalam pencatatan lokasi spesifik candi ini. Beberapa sumber merujuk lokasi Candi Miri di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo (Sumber 1, Sumber 2, Sumber...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak Di tengah kekayaan kuliner Indonesia yang tak terhingga, Babi Panggang Karo (sering disingkat BPK) muncul sebagai sebuah mahakarya rasa yang menghadirkan jejak budaya dan tradisi dari tanah Sumatera Utara. Lebih dari sekadar hidangan, BPK adalah manifestasi dari identitas masyarakat Karo, sebuah sajian yang kaya akan aroma, rempah, dan cerita. Mengapa BPK begitu istimewa, dan bagaimana ia menjadi simbol kebanggaan kuliner bagi suku Karo? Mari kita telusuri keunikan dan daya pikatnya. ## Andaliman: Jantung Rasa BPK Rahasia di balik kelezatan BPK terletak pada penggunaan rempah-rempah khas, dan yang paling menonjol adalah andaliman. Dikenal juga sebagai "merica Batak" atau "sichuan pepper"-nya Indonesia, andaliman memberikan sensasi rasa yang unik dan tak tertandingi: pedas, sedikit asam, dan yang paling khas adalah efek kebas atau "getar" di lidah (Sumber 2). Rasa yang identik dan aroma yang kuat dari andal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis
Motif Kain Motif Kain
Papua

Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis batik khas Papua yang dikenal dengan corak unik dan makna mendalam. Berbeda dengan batik dari daerah lain di Indonesia, batik Papua, termasuk Kamoro, memiliki ciri khas motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya suku asli di sana (Sumber 1, Sumber 3). Batik ini secara spesifik menampilkan corak khas Timika, yang terinspirasi dari suku Kamoro dan keindahan alam sekitarnya (Sumber 1). Batik Kamoro tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga merupakan representasi semangat dan keberanian penduduk asli Papua (Sumber 2). Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya merefleksikan kehidupan masyarakat adat, menjadikannya salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan. ## Motif dan Makna Batik Kamoro Motif utama batik Kamoro sangat khas dan mudah dikenali. Corak yang sering ditemukan pada batik ini meliputi: ### Simbol Patung Salah satu motif yang paling menonjol pada batik Kamoro adal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Dendam Rajo sang Manusia Harimau Putih
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...

avatar
Mahlil Azmi
Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...

avatar
Kianasarayu