Monumen Telur Pecah – Cerita Rakyat Kalimantan Utara
Lelaki Gagah itu bernama Ku Anyi. Ia pemimpin suku Dayak Kayan, dari Puak Ma- Afan. Ia sosok ternama yang sangat dihormati segenap anggota sukunya. Anggota suku yang dipimpinnya berdiam di tepi Sungai Payan. Mereka hidup damai dan tidak kekurangan. Daerah hunian mereka subur. Hutan di sekitar kediaman mereka banyak dihuni hewan-hewan buruan. Aneka ikan melimpah jumlahnya di Sungai Payan.
Ku Anyi hidup berkecukupan. Tetapi, masih ada satu keinginannya yang sangat dirindukannya. Ia ingin memiliki anak. Meski telah tua usianya, tak putus-putusnya ia berdoa, memohon kepada Tuhan agar dikaruniai keturunan.
Pada suatu hari Ku Anyi berburu. Seperti biasanya, anjing kesayangannya diajaknya turut serta. Ku Anyi ternama piawai berburu. Namun, hari itu ia tidak menjumpai seekor pun hewan buruan. Entah mengapa. Padahal, hutan yang dijelajahinya banyak dihuni hewan-hewan buruan. Hingga sore tiba, takjuga seekor hewan buruan pun didapatkannya.
Di tengah keheranannya, mendadak Ku Anyi dikejutkan dengan suara keras gonggongan anjingnya. Itu pertanda anjingnya melihat sesuatu. Bisa jadi, sesuatu itu hewan buruan. Bergegas ia menghampiri, bersiap ia melepaskan senjata berburunya. Ia melihat anjingnya menyalak pada sesuatu yang terdapat pada serumpun bambu petung. Ku Anyi semakin bersiaga dan berhati-hati mendekati rumpun bambu betung itu. Namun, bukan hewan buruan yang ia lihat, melainkan sebilah bambu dan sebutir telur.
“Telur apa ini?” gumam Ku Anyi pada dirinya sendiri. Sejenak ia melihat ke sekelilingnya. Tidak dilihatnya siapa pun juga. “Siapa pula yang meletakkan telur dan bilah bambu di tempat ini?”
Sejenak menunggu, Ku Anyi akhirnya membawa sebilah bambu dan telur itu kembali ke rumahnya.
“Apa yang engkau bawa, suamiku?” tanya istri Ku Anyi ketika melihat Ku Anyi pulang.
Ku Anyi memberikan sebilah bambu dan sebutir telur. Katanya, “Hanya ini yang kudapatkan hari ini. Aku tidak melihat seekor hewan buruan pun di hutan.”
Istri Ku Anyi lalu menyimpan sebilah bambu dan sebutir telur itu di atas para-para dapurnya.
Malam itu hujan turun deras sekali. Kilat dan petir menggelegar berulang-ulang. Angin bertiup sangat kencang hingga rumah Ku Anyi berderak- derak terkena tiupannya.
Ku Anyi dan istrinya tertidur lelap. Mendadak mereka dikejutkan suara tangis bayi. Keduanya serentak terbangun. Keduanya sejenak berpandangan setelah merasa suara tangisan bayi itu berasal dari dapur rumah mereka.
“Suara tangisan bayi itu berasal dari dapur,” kata istri Ku Anyi. “Bayi siapa?”
Ku Anyi mengangkat kedua bahunya.
Ku Anyi dan istrinya bergegas menuju dapur. Terperanjatlah keduanya mendapati dua bayi di dapur mereka!
Bayi lelaki berasal sebilah bambu betung dan bayi perempuan berasal dari sebutir telur. Permohonan Ku Anyi dan istrinya telah dikabulkan Tuhan. Kini, Ku Anyi dan istrinya telah mempunyai anak. Tidak hanya seorang, melainkan sepasang.
Ku Anyi memberi nama Jau Iru untuk bayi lelaki itu. Guntur besar artinya. Adapun untuk bayi perempuan itu, diberinya nama Lamlai Suri.
Ku Anyi merawat dan mengasuh Jau Iru dan Lamlai Suri dengan baik. Keduanya mencurahkan cinta dan kasih sayang mereka untuk dua anak itu. Keduanya juga mengajarkan berbagai keterampilan ketika Jau Iru dan Lamlai Suri semakin besar.
Jau Iru tumbuh menjadi pemuda gagah. Ia seperti mewariSi kegagahan Ku Anyi. Ia pintar dan terampil dalam berburu. Berbagai keterampilan lainnya ia kuasai dengan baik, wajahnya tampan. Sementara Lamlai Suri tumbuh menjadi gadis yang cantik. Berkat didikan ibu angkatnya, ia terampil menguasai berbagai keterampilan wanita. Setelah Jau Iru dan Lamlai Suri dewasa, keduanya dinikahkan Ku Anyi.
Waktu terus berjalan. Ku Anyi semakin tua. Ia merasa sudah waktunya untuk mundur dari jabatannya selaku pemimpin suku. Ia lalu mengangkat Jau Iru sebagai penggantinya. Segenap anggota suku Dayak Kayan menyambut gembira penunjukkan itu. Mereka senang dipimpin Jau Iru yang gagah, berani, lagi piawai dalam berbagai keterampulan itu.
Jau Iru memimpin dengan baik, adil, dan bijaksana. Suku Dayak Kayan menjadi suku besar yang terpandang. Suku yang disegani kawan dan ditakuti lawan. Wilayah kekuasaan suku Dayak Kayan terus meluas. Mereka menjadi suku yang kuat. Warga suku hidup berkecukupan, ekonomi mereka tertata dengan baik.
Anak keturunan Jau Iru kemudian mendirikan kerajaan yang diberi nama Kesultanan Bulungan. Nama kerajaan itu berasal dari kata bulu tengon yang berarti bambu betulan. Asal usul kerajaan itu di kemudian hari diabadikan dalam wujud monumen yang diberi nama Monumen Telur Pecah.
KESABARAN DALAM BERDOA DAN MEMOHON KEPADA TUHAN AKAN MEMBUAHKAN KEBAIKAN DI KEMUDIAN HARI.
sumber: https://dongengceritaanak.com/monumen-telur-pecah-cerita-rakyat-kalimantan-utara/#respond
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...
Ayam goreng adalah salah satu menu favorit keluarga yang tidak pernah membosankan. Namun, jika kamu ingin mencoba variasi yang lebih gurih dan harum, ayam goreng bawang putih renyah adalah pilihan yang tepat. Ciri khasnya terletak pada aroma bawang putih yang kuat serta kriukannya yang renyah saat digigit. Resep ini juga sangat mudah dibuat, cocok untuk menu harian maupun Bahan-Bahan Bahan Ayam Ungkep ½ kg ayam (boleh potong kecil agar lebih cepat matang) 5 siung bawang putih 4 siung bawang merah 1 sdt ketumbar bubuk 1 ruas kunyit (opsional untuk warna) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400 ml Bahan Kriuk Bawang 5–6 siung bawang putih, cincang halus 3 sdm tepung maizena ¼ sdt garam ¼ sdt lada Minyak banyak untuk menggoreng Cara Membuat Ungkep ayam terlebih dahulu Haluskan bawang putih, bawang merah, kunyit, dan ketumbar. Tumis sebentar hingga harum. Masukkan ayam, aduk rata, lalu tuang air. Tambahkan garam dan kaldu bubuk. Un...
Ayam ungkep bumbu kuning adalah salah satu menu rumahan yang paling praktis dibuat. Rasanya gurih, aromanya harum, dan bisa diolah lagi menjadi berbagai hidangan seperti ayam goreng, ayam bakar, hingga pelengkap nasi kuning. Keunggulan lainnya, resep ini termasuk cepat dan cocok untuk kamu yang ingin memasak tanpa ribet namun tetap enak. Berikut resep ayam ungkep bumbu kuning cepat yang bisa kamu coba di rumah. Bahan-Bahan ½ kg ayam, potong sesuai selera 4 siung bawang putih 5 siung bawang merah 1 ruas kunyit 1 ruas jahe 1 ruas lengkuas (geprek) 2 lembar daun salam 2 lembar daun jeruk 1 batang serai (geprek) 1 sdt ketumbar bubuk (opsional) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400–500 ml Minyak sedikit untuk menumis Cara Membuat Haluskan bumbu Blender atau ulek bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, dan ketumbar bubuk (jika dipakai). Semakin halus bumbunya, semakin meresap ke ayam. Tumis bumbu hingga harum Panaskan sedikit m...