Berbicara masalah kuliner Aceh, pasti Anda akan membayang mie Aceh. Ya, mie Aceh memang sangat terkenal sampai tersohor ke penjuru dunia. Namun, kuliner mie tidak hanya mie Aceh saja. Di Kabupaten Pidie, ada mie yang sangat terkenal kelezatannya, namanya Mie Caluek. Bagi masyarakat Aceh, khususnya di Kabupaten Pidie, Mie Caluek menjadi menu favorit.
Nama yang sangat unik, namun soal rasa pasti tak kalah dengan Mie Aceh. Jika Anda melihat penampakannya, dipastikan Anda akan teringat satu makanan khas Eropa yaitu Spaghetti. Banyak yang bilang Mie Caluk ini sebagai spaghettinya Aceh, ini mungkin karena ukuran mienya yang terbilang cukup besar seperti spaghetti. Harganya yang sangat murah, dan rasanya yang enak menjadikan Mie Caluk ini menjadi makanan kesukaan banyak kalangan.
Dikatakan Mie Caluk dikarenakan cara penjual meletakkan mie ke piring pelanggan. Yaitu dengan cara mengambil mie tersebut dengan menggunakan sendok dan supaya mienya tidak jatuh, penjual menjepitnya lagi dengan jari jempolnya. “Caluk” artinya mengambil makanan dengan tangan yang langsung menyentuh makanan. Tidak sulit mencari penjual Mie Caluk, umumnya pedagang Mie Caluk ini berjualan di pinggir jalan di pasar atau di tempat-tempat ramai. Selain berjualan dengan gerobak, ada juga yang berjualan di atas mobil pick up, di atas meja di depan toko-toko, dan juga ada yang memiliki kios kecil.
Mie Caluk ini sangat unik, dan berbeda dengan mie Aceh cara membuatnya. Cara mengolahnya sederhana, mie dimasak dengan cara digoreng bersama bumbu. Bumbunya pun mengunakan rempah-rempah alami seperti bawang merah, bawang putih dan cabe. Untuk kuahnya biasanya dimasak terpisah dengan tumisan bawang gorang, cabe, tomat dan bunga kol. Disamping itu ada pula bumbu kacang, saus merah sebagai tambahan ketika disajikan. Dengan bumbu rempah yang khas, campuran saus kacang pecal, dan kuah tentu menjadi pelengkap yang sempurna plus dengan kerupuk berwarna merah dan putih.
Anda yang melewati jalan Medan-Banda Aceh, biasanya akan mampir di Grong-grong, kabupaten Pidie. Di Grong Grong lah tempat terkenalnya Mie Caluk, disana banyak sekali penjual Mie Caluk yang berjejer di pinggir jalan. Biasanya penjual belum membungkus Mie Caluk. Ketika ada yang pesan Mie Caluk, baru kemudian Mie Caluk dibungkus. Biasanya Mie Caluk dibungkus dengan daun pisang. Untuk menikmati Mie Caluk Anda cukup mengeluarkan uang 5000 – 7000 rupiah saja, untuk sepiring atau sebungkus Mie Caluk. Biasanya penjual juga akan membungkus sesuai permintaan pembeli tak ada patokan khusus.
Mie Caluk sendiri juga banyak disajikan dengan campuran sayur lainnya, kebiasaannya Mie Caluk ini selalu banyak ditemui ketika bulan puasa. Mie Caluk ini juga ada di Kota Banda Aceh. Selain di bulan Ramadhan, di hari-hari biasa masih bisa Anda jumpai penjual Mie Caluk ini bila di Kota Banda Aceh. Jadi bila tidak sempat ke Kabupaten Pidie, Anda bisa mencicipi kelezatan spaghetti khas Aceh ini di Kota Banda Aceh.
Alamat dan Kontak Penjual:
Atjeh Rayeuk
Jln. Ciranjang No. 38 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
0878 8484 8892
Sumber :
https://ksmtour.com/wisata-kuliner/kuliner-aceh/mie-caluk-uniknya-spaghetti-ala-aceh.html
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...