Pengobatan dan Kesehatan
Pengobatan dan Kesehatan
Pengobatan Aceh Banda Aceh
Meurajah
- 27 November 2018

Kajian perobatan medis di Aceh telah mencapai fase keselarasan, pada saat tema-tema keagamaan dan kebudayaan mendapat “lahan utama” di dunia intelektual dan para peneliti (researchers), baik dalam tatanan pemerintahan (kesultanan) maupun masyarakat bawah (grassroots). Pada hakikatnya, ranah kajian medical ataupun perobatan secara tradisional dan modern telah mendapat tempat yang sama dengan kajian keagamaan, seperti ilmu tasawuf, tauhid dan syariat yang selama ini dan sebelumnya mendapat sorotan utama.

Informasi tersebut dapat ditelusuri dari banyaknya karya tulis di bidang kedokteran yang dihasilkan oleh para intelektual atau tokoh-tokoh agama di Aceh pada beberapa abad yang silam. Karya tulis tangan (manuskrip) atau naskah klasik merupakan sumber primer dan bukti kejayaan yang digapai oleh Aceh dalam bidang-bidang tersebut, seperti pencetus munculnya sistem tulisan aksara Arab-Jawi di dunia Melayu-Nusantara, atau lahirnya sistem/kaidah syair dari Hamzah Fansuri, dan lain sebagainya.

Artikel ini melihat konteks rajah dari sudut pandang filologisnya. Mengapresiasi semangat leluhur dengan hanya menyimpan warisan yang telah mereka wariskan kepada kita tidaklah cukup. Demikian manuskrip-manuskirp rajah yang dipandang sebagai salah satu pengobatan alternatif tidak hanya sebatas bacaan dan dinikmati kandungan isi, akan tetapi lebih bermakna untuk dieskplorasi lebih mendalam, secara medis dan filosofisnya melalui multidisipliner ilmu. Termasuk masyarakat memeliharanya sedemikian rupa dan mewarisi fisik manuskripnya, dan hanya sedikit yang mewarisi ilmunya.

Rajah secara umum diartikulasi sejenis pengobatan jampi-jampi dalam dunia kedokteran klasik. Namun rajah dan meurajah berbeda makna, fungsi dan metodenya di Aceh secara khusus dengan definisi umum. Secara umum, rajah dimaknai menandakan sesuatu (tato), atau implantasi pigmen mikro, yang memberikan simbol-simbol tertentu yang dapat dilihat dengan kasat mata. Maka praktik rajah dapat ditemui di hampir semua tempat dengan fungsi sesuai adat dan kultur setempat. Termasuk di Aceh, praktik rajah pun sangat beragam sesuai dengan demografi dan etnografi masyarakat.

Latar budaya yang telah berakar di masyarakat Aceh, -demikian juga di wilayah Nusantara lainnya-, tidak terlepas dari animisme pra-Islamisasi, pemujaan terhadap media benda terlihat dari tradisi upacara adat yang lebih banyak bersifat mistis. Bacaan-bacaan dalam upacara tersebut dituangkan dalam bentuk sastra baik bersifat sajak (mantera atau tangkey) ataupun prosa (doa) oleh seorang yang dihormati dikenal ‘pawang’, meuilmee dan teungku. Meurajah di Aceh selalu terkait dengan mantera, ajimat (jimat) dan doa, yang digunakan dalam dua sisi, untuk kebaikan dan keburukan (kejahatan).

Catatan dalam manuskrip Aceh juga dapat diperoleh kedua sisi penggunaan meurajah, seperti dua sisi mata uang, satu doa atau mantera digunakan untuk beragam tujuan dan fungsi, hanya media (alat) yang digunakan beragam. Hurgronje merekam beberapa jejak tentang pengobatan di Aceh, baik secara insidental ataupun secara langsung, yang banyak didasarkan pada tahayul dan dengan “hocus-pocus”.[1]1

 

Dalam prakteknya, rajah tidak seperti umumnya didefinisikan oleh rajah-rajah secara umum di luar Aceh. Sepertinya ada tranformasi tradisi meurajah di Aceh, dari apa yang disebut oleh Hurgronje yang melatarbelakangi tahayul dan dipercayai dengan ilmu-ilmu gaib kepada arah islamis dan humanis. Unsur-unsur rajah tersebut digunakan dalam tata laksana “ilmu hitam” seperti sihe (sihir), peukeunong (guna-guna), peugawe (sejenis ulat sangkadu), peugaseh (pelet), dan sebagainya. Namun juga rajah digunakan pada simbol-simbol dengan tujuan kebaikan, seperti ajimat, doa, pengobatan, tangkey (penangkal), yang biasanya disisipi unsur-unsur ajaran Islam, terutama doa-doa dari Alquran dan simbol-simbol yang digunakan dari huruf hijaiyyah.

Hadirnya Islam di Aceh tidak mengubah tradisi dan budaya tersebut secara langsung, namun proses Islamisasi terintegrasi ke dalam tradisi lokal tanpa menghilangkan kontaminasi tradisi kebudayaan lokal secara total, inilah yang membuat tradisi lokal tetap bersemi dan memiliki karakteristik tersendiri, seperti puisi mantra terhadap anak-anak sakit perut dalam Panton Aneuk Miet yang menyisipkan surah Al-Fatihah di dalam mantranya:[2]

 

Hong dat-dat, na umu na ubat

Lhee boh klaih pliek u, lhee boh mu pisang klat

On pineng thoe, on pineung mirah

Al-fatihah kutawa bisa

 

Artinya:

Hong dat-dat, ada umur ada obat

Tiga ikatan (tumpukan) ‘pliek u’, tiga tandan pisang muda (rujak)

Daun pinang kering, daun pinang merah

Al-Fatihah kutawar sembuh.

Pengetahuan perobatan tradisional di Aceh tidak bebas dari pengaruh asing, ramuan-ramuan yang digunakan oleh seorang tabib (dokter) sejumlah produk asli pribumi di Aceh, akan tetapi tidak sedikit juga ramuan tradisional India, Arab, dan Cina. Beberapa manuskrip seperti Kitab Tajul Muluk yang sebagian memuat pengobatan tradisional di Aceh dipenuhi bahan-bahan lokal, yang sebagiannya melalui proses rajah.

Tradisi peudong rumoeh (membangun rumah), semai bibit padi di sawah (khanduri neulöng), membulir (padé mumée) dan panen padi (khanduri blang), peusijuek (tepung tawari), atau acara lainnya seperti tradisi perkawinan, kelahiran anak, dan atau kematian serta sebagainya tidak terlepas dari penggunaan ritual meurajah dan mantera dengan bacaan-bacaan khusus yang sebagian dikutip dari ayat-ayat Alquran.

Demikian kitab ar-Rahmah fil Tibb wal Hikmah karangan Tgk Chik Abbas bin Muhammad Kuta Karang yang hidup pada periode Sultan ‘Alaiddin Ibrahim Mansur Syah (1857-1870) merupakan tokoh penting dalam transformasi ilmu pengobatan dari Jazirah Timur Tengah ke Aceh. Karyanya tersebut yang mengkolaborasi metode dan bahan dari luar negeri dengan pemanfaatan alam dan kearifan masyarakat Aceh, yang kemudian sebagian besar dikutip dalam Kitab Tajul Muluk dan menjadi pedoman para tabib-tabib di kemudian hari.

Di Aceh, mediasi yang digunakan dalam rajah sebagai pengobatan tradisional dan alternatif -termasuk di era post modern- cukup beragam. Sebagian besarnya menggunakan air, jimat, dan teks naskah oleh hampir semua lapisan masyarakat, laki-laki dan perempuan, termasuk tokoh-tokoh (ulama dan pemimpin perang) Aceh periode kolonial, sebagaimana banyaknya ajimat yang dirajah ditemukan di tubuh para syuhada oleh serdadu Belanda.

Terkadang sang meuilmee akan membaca doa-doa rajah pada media tersebut, sebagiannya harus melalui proses tertentu dengan ketentuan pantangannya yang khas pula. Sebagian besar manuskrip mujarabat koleksi Aceh di Museum Aceh, Museum Ali Hasjmy, dan para kolektor manuskrip menunjukkan metode dan media pengobatan rajah di Aceh yang sangat beragam serta diwarnai dengan kearifan masyarakat (manusia) terhadap penyakit dan Sang Khalik.

Karenanya, tradisi rajah masih tetap eksis di Aceh hingga saat ini karena dianggap sebagai bagian dari pengobatan alternatif untuk kategori penyakit tertentu. Walaupun tehnik dan media yang digunakan mengalami fluktuatif sebab disesuaikan dengan zaman. Namun demikian, semua merujuk kepada manuskrip-manuskrip karya intelektual tempo dulu, hanya saja belum dieksplorasi telaah lebih mendalam terhadap karya-karya tersebut.

[1] Snouck Hurgronje, Aceh di Mata Kolonialis II, Jakarta: Yayasan Soko Guru, 1985, h. 50

[2] Abdullah ‘Arif, Panton Aneuk Miet, Kutaraja: Pustaka Aceh Raya, 1985

Oleh: HermansyahFilolog Aceh, Melayu-Nusantara, peneliti dan pengkaji Manuskrip dan naskah-naskah berbahasa Aceh, Jawi dan Arab.

 

Sumber: http://www.jkma-aceh.org/tradisi-meurajah-dalam-pengobatan-manuskrip-aceh/

#SBJ

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Bekam Bali
Permainan Tradisional Permainan Tradisional
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Bekam Bali
Pengobatan dan Kesehatan Pengobatan dan Kesehatan
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Negeri antara: Jejak Putro aloh dan Manusia Harimau
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...

avatar
Mahlilazmi_02
Gambar Entri
Genggong
Alat Musik Alat Musik
Bali

Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.

avatar
Yogaxd
Gambar Entri
Dari Rendang Hingga Gudeg: 10 Mahakarya Kuliner Indonesia yang Mengguncang Lidah
Makanan Minuman Makanan Minuman
DKI Jakarta

1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...

avatar
Umikulsum