Meupet-pet nyet artinya bersembunyi-sembunyian, dengan sasaran akhir dapat kembali ke suatu tempat yang telah ditentukan, dalam bahasa Aceh disebut wo bu (kembali ke kubu/benteng). Nama ini sedikit banyak persamaan dengan nama Benteng-benteng seperti nama yang diberikan untuk permainan ini pada kelompok etnis Aneuk Jame (yang mendiami Pesisir Kabupaten Aceh Selatan sekarang). Benteng-benteng artinya sama dengan kubu-kubu; dalam permainan ini sasaran yang akan dicapai para pemain sama dengan permainan meupet-pet nyet, yaitu yang disebut wo bu (benteng/kubu). Jika dilihat dari segi nama, permainan ini berkaitan erat dengan pengertian siasat atau strategi dalam peperangan. Artinya para pemain terlebih dahulu bersembunyi dan kemudian secara diam-diam tanpa diketahui si penjaga kembali ke benteng/kubu yang telah ditentukan. Sebaliknya bagi si penjaga benteng/kubu juga berusaha agar dapat mengetahui tempat persembunyian dari menebak/menangkap mereka yang bersembunyi itu, maksudnya untuk kembali atau “merebut” benteng/kubu yang dijaganya. Namun dari mana asal dan nama permainan ini belum dapat dipastikan secara kongkrit.
Sejarah
Permainan ini mempunyai hubungan dengan cara pengaturan siasat atau strategi seperti dalam suatu peperangan. Karena itu, bukan tidak mungkin permainan ini diilhami dari suatu peperangan yang pernah dialami rakyat di Daerah Istimewa Aceh. Seperti kita ketahui bahwa di daerah yang sekarang disebut Daerah Istimewa Aceh, baik secara berkelompok maupun secara per seorangan pernah terlibat dalam suatu peperangan dengan pihak Belanda dalam suatu kurun waktu yang dapat dikatakan cukup lama, yaitu sejak tahun 1873 sampai tahun 1942. Karena itu, bukan tidak mungkin pula permainan meupet-pet nyet atau yang disebut pada kelompok etnis Aneuk Jame di Kabupaten Aceh Selatan sekarang, permainan Benteng-benteng diilhami dari peperangan dengan pihak Belanda tersebut.
Waktu Pelaksanaan
Permainan ini dapat dimainkan pada siang hari atau pada malam hari. Jika pada siang hari, terutama dimainkan pada hari-hari libur, yaitu antara pukul 09.00 sampai pukul 11.00 siang; sedangkan jika malam hari dimainkan sesudah anak-anak mengikuti pendidikan agama (mengaji, belajar doa shalat, dan ilmu agama lainnya), berkisar antara pukul 20.00 hingga pukul 22.00 malam; terutama dimainkan pada malam saat bulan purnama sedang terang benderang. Bila pada bulan puasa/Ramadhan, kadang-kadang berlangsung sejak jam 20.00 hingga jam 23.00 malam. Namun pada siang hari pada bulan puasa/Ramadhan permainan ini tidak dimainkan.
Pemain
Meupet-pet nyet dimainkan anak-anak dengan jumlah pemain sekitar 10 orang, khusus anak-anak laki yang berumur sekitar 8 – 13 tahun. Seperti telah disebutkan bahwa pada umumnya para pendukung permainan ini terdiri atas anak-anak petani, pedagang, dan pegawai.
Peralatan atau Perlengkapan Permainan
Satu-satunya alat yang dipakai untuk permainan ini adalah suatu benda besar (dapat berupa peti atau batang kayu yang besar yang sudah dipotong dan sebagainya) untuk dapat dijadikan sebagai benteng atau kubu.
Jalannya Permainan
Setelah anak-anak berkumpul sekitar 10 orang, mereka bersepakat untuk melakukan suatu permainan yang disebut meupet-pet nyet. Sebelum bermain, mereka menentukan suatu benda (berupa peti yang besar atau pokok kayu besar yang sudah ditebang, dan sebagainya) untuk dijadikan sebagai benteng/kubu, yang nantinya akan dijaga oleh salah seorang yang terpilih melalui suatu undian untuk menjaga. Setelah terpilih seorang penjaga benteng atau kubu, selain menjaga benteng atau kubu agar tidak berhasil dijamah atau dipegang oleh para pemain lainnya, juga untuk dapat menerka nama para pemain lainnya secara tepat yang bersembunyi; para pemain lain lari menyebar menjauhi benteng/kubu dan kemudian bersembunyi dalam semak-semak atau parit-parit atau di belakang sesuatu benda yang dianggap dapat menyembunyikannya.
Selanjutnya si penjaga setelah ada tanda dengan suara yang dikeluarkan oleh salah seorang pemain yang sedang bersembunyi, ia mulai bergerak mencari mereka yang sedang bersembunyi dengan hati-hati menjauhi benteng/kubu yang sedang dijaganya; sedangkan mereka yang sedang bersembunyi, secara diam-diam harus dapat merebut benteng/kubu dengan cara memegangnya sebelum si penjaga menyebut namanya atau menjamahnya. Bagi yang berhasil sampai ke benteng/kubu dengan selamat, meneriaklah kata-kata wo bu (kembali ke benteng). Kemudian para pemain yang lain setelah mendengar kata-kata tersebut ke luar dari tempat persembunyiannya dan semuanya kembali ke benteng/kubu. Sesudah itu permainan dilanjutkan lagi seperti semula dengan si penjaga pertama dianggap kalah. Dan untuk ini ia masih harus bertugas sebagai penjaga benteng/kubu. Selanjutnya bila si penjaga benteng/kubu dapat menerka salah seorang pemain yang sedang bersembunyi dengan menyebut namanya atau memegangnya, maka ia, yang diterka itu akan menjadi atau mengganti sebagai penerka dalam lanjutan permainan, tetapi bila salah seorang pemain yang sedang bersembunyi berhasil merebut benteng/kubu (memegangnya), maka si penerka atau si penjaga akan tetap atau tidak diganti.
Referensi:
Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno Candi Miri merupakan salah satu situs candi Hindu yang menjadi bagian dari warisan arsitektur religius Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penyebaran pusat-pusat keagamaan yang strategis pada periode klasik Jawa. Sebagai candi Hindu, Candi Miri mencerminkan adaptasi tradisi arsitektur India yang dikembangkan dengan karakteristik lokal Jawa Kuno, berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Sejarah & Latar Belakang Candi Miri didentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Sumber 4). Letaknya berada di wilayah administratif Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah peradaban Jawa klasik. Terdapat variasi dalam pencatatan lokasi spesifik candi ini. Beberapa sumber merujuk lokasi Candi Miri di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo (Sumber 1, Sumber 2, Sumber...
Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak Di tengah kekayaan kuliner Indonesia yang tak terhingga, Babi Panggang Karo (sering disingkat BPK) muncul sebagai sebuah mahakarya rasa yang menghadirkan jejak budaya dan tradisi dari tanah Sumatera Utara. Lebih dari sekadar hidangan, BPK adalah manifestasi dari identitas masyarakat Karo, sebuah sajian yang kaya akan aroma, rempah, dan cerita. Mengapa BPK begitu istimewa, dan bagaimana ia menjadi simbol kebanggaan kuliner bagi suku Karo? Mari kita telusuri keunikan dan daya pikatnya. ## Andaliman: Jantung Rasa BPK Rahasia di balik kelezatan BPK terletak pada penggunaan rempah-rempah khas, dan yang paling menonjol adalah andaliman. Dikenal juga sebagai "merica Batak" atau "sichuan pepper"-nya Indonesia, andaliman memberikan sensasi rasa yang unik dan tak tertandingi: pedas, sedikit asam, dan yang paling khas adalah efek kebas atau "getar" di lidah (Sumber 2). Rasa yang identik dan aroma yang kuat dari andal...
Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis batik khas Papua yang dikenal dengan corak unik dan makna mendalam. Berbeda dengan batik dari daerah lain di Indonesia, batik Papua, termasuk Kamoro, memiliki ciri khas motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya suku asli di sana (Sumber 1, Sumber 3). Batik ini secara spesifik menampilkan corak khas Timika, yang terinspirasi dari suku Kamoro dan keindahan alam sekitarnya (Sumber 1). Batik Kamoro tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga merupakan representasi semangat dan keberanian penduduk asli Papua (Sumber 2). Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya merefleksikan kehidupan masyarakat adat, menjadikannya salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan. ## Motif dan Makna Batik Kamoro Motif utama batik Kamoro sangat khas dan mudah dikenali. Corak yang sering ditemukan pada batik ini meliputi: ### Simbol Patung Salah satu motif yang paling menonjol pada batik Kamoro adal...
Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...