Meu creek adalah suatu permainan yang sering dimainkan anak-anak, terutama anak perempuan. Perkataan meu creek terdiri atas dua kata, yaitu meu dan creek. Meu singkatan dari kata meuen yang berarti permainan, sedangkan creek berasal dari bunyi yang ditimbulkan pada waktu memainkan permainan ini. Meu creek berarti permainan yang pada saat melakukan permainan ini menimbulkan bunyi creek-creek sewaktu lidi-lidi yang dipergunakan dilambung ke atas.
Permainan meu creek ialah sejenis permainan yang mempergunakan lidi-lidi dari daun kelapa atau lidi-lidi yang dibuat khusus dari kulit bambu yang diraut kecil-kecil. Mereka yang sering melakukan permainan ini pada dasarnya telah menyediakan lidi yang tahan lama. yaitu yang dibuat dari bambu, sedangkan mereka yang melakukan permainan ini sebentar saja, mereka akan mempergunakan lidi yang mudah diperoleh yaitu dari lidi daun kelapa. Dari bunyi yang ditimbulkan oleh lidi-lidi inilah dasarnya dari pemberian nama untuk permainani ini.
Sejarah
Lahirnya permainan ini merupakan manifestasi dari kehidupan masyarakat pedesaan terutama di dalam mengisi waktu yang terluang bagi anak-anak mereka. Masyarakat terutama para pemikir yang terdapat di dalam setiap kelompok masyarakat selalu kreatif dalam menciptakan pelbagai kebutuhan masyarakat termasuk di dalamnya aspek seni sebagai salah satu dari kebutuhan warga masyarakat. Demikian pula halnya dengan pencintaan bermacam-macam jenis permainan dari tingkat anak-anak sampai kepada permainan orang dewasa yang sekarang telah menjadi milik bersama dan merupakan karya yang anonim. Jelasnya permainan-permainan itu telah diciptakan dan telah uiterima menjadi miükmasyarakat.
Dari berbagai jenis permainan yang diciptakan itu, terdapat pelbagai bentuk atau pelbagai sifat, ada yang bersifat sarana sosialisasi, games of strategi, rekreatif (unsur hiburan), dan lain-lain. Untuk jenis permainan ini dapat digolongkan ke dalam jenis permainan yang bersifat memberikan hiburan kepada anak-anak atau para pemain itu sendiri. Di samping itu, permainan meu creek ini terdapat unsur latihan kecerdasan yang mewajibkan mereka untuk menghitung lidi-lidiyang dipergunakan sebagai alat dalam permainan.
Seperti telah dijelaskan di dalam latar belakang sosial budaya para pemainnya bahwa perkembangan permainan ini mengikuti perkembangan sejarah masyarakat pendukungnya. Pada awal dari terciptanya permainan ini masih berkembang pada lingkungan masyarakat yang sangat terbatas, dan taraf selanjutnya semakin meluas sesuai dengan perkembangan sosial politik masyarakat itu sendiri.
Dalam perkembangan terakhir, permainan ini telah berkembang menjadi permainan rakyat secara keseluruhan dan telah menjadi milik semua lapisan masyarakat. Demikianlah secara singkat dalam hubungan dengan latar belakang sejarah dari perkembangan permainan ini yang tidak bisa dipisahkan dari perkembangan masyarakat pendukungnya.
Waktu Pelaksanaan
Sebagaimana halnya dengan jenis permainan lain, permainan ini tidak mempergunakan waktu yang khusus, tetapi tidak berarti musiman atau mempunyai waktu tertentu atau dengan kata lain tidak berhubungan dengan sesuatu upacara tertentu. Waktu tersebut sangat bergantung kepada waktu berkumpulnya anak-anak.
Biasanya waktu yang banyak dipergunakan untuk melakukan permainan ini adalah pada waktu senggang. Bagi anak-anak yang belum bersekolah, bermain pada pagi hari dan sore hari. Bila pada masa yang lalu mereka belajar agama secara bersama-sama di rumah tempat pengajian, mereka sebelum mengaji atau sesudahnya, melakukan permainan ini. Jadi, tegasnya waktu yang dipergunakan tidak ada suatu keharusan atau tidak terikat dengan upacara-upacara tertentu, demikian pula dengan musim-musim tertentu. Dengan demikian permainan ini dapat dilakukan kapan dan di mana saja.
Pemain
Berbicara masalah peserta atau pelaku dari permainan ini seperti telah diutarakan di atas, dimainkan oleh anak-anak terutama anak perempuan. Sesuai dengan sifat permainan ini yang lebih mengarah kepada unsur rekreatif daripada unsur kecerdasan, tentu saja banyak digemari anak-anak. Walaupun telah dikatakan permainan dimainkan anak-anak perempuan tidak berarti bahwa permainan ini tertutup bagi anak laki-laki. Anak laki-laki dapat pula diikutsertakan dalam permainan ini, tetapi sesuai dengan kodratnya mereka jarang yang mau memainkan permainan meu creek.
Permainan meu creek biasanya dimainkan anak-anak yang berusia kira-kira 6-13 tahun. Pengelompokan usia ini tetap ada apabila para pemain yang telah berkumpul agak banyak. Hal ini mengikuti pengelompokan usia, misalnya 6-10 dan 10-13 tahun, masing-masing membentuk kelompok tersendiri. Seandainya pemain hanya beberapa orang, pengelompokan tidak dilaksanakan. Pengelompokan ini dilakukan semata-mata untuk mencari kawan bermain yang seimbang agar permainan dapat berlangsung dengan baik. Jika di dalam permainan terdapat anak laki-laki, pada umumnya anak laki-laki tersebut yang terlibat di dalamnya berkisar pada usia di bawah 10 tahun karena anak pada usia tersebut masih bergaul bersama-sama dengan anak-anak perempuan.
Peralatan atau Perlengkapan Permainan
Peralatan atau perlengkapan permainan meu creek sangat sederhana, yaitu lidi. Lidi-lidi ini dapat diperoleh dari daun kelapa yang telah kering atau dapat pula dibuat dari bambu yang diraut sampai kecil. Lidi-lidi ini mempunyai ukuran panjang antara 10—15 cm, ukuran yang mudah digenggam oleh anak-anak.
Lidi-lidi ini harus dicari sendiri oleh setiap pemain yang jumlahnya tidak tentu. Ada yang menyediakan 10, 15 dan 20 bergantung kepada perjanjian dalam bermain. Di samping itu, diperlukan batubatu kecil yang mudah disembunyikan di dalam telapak tangan, jumlahnya pun tidak tentu. Hal ini sangat bergantung pada perjanjian yang dibuat sebelum melakukan permainan. Batu-batu kecil ini dipakai oleh pemenang dan harus diterka oleh pemain yang kalah berapa biji yang disembunyikan di dalam telapak tangan. Hal ini akan dijelaskan dalam jalannya permainan. Peralatan lainnya tidak ada, sedangkan lapangan tempat bermain tidak diperlukan karena permainan ini dapat dilakukan di bawah kolong rumah, di bawah pohon kayu yang rindang yang terlindungi sinar matahari di waktu siang dengan kata lain dapat dimainkan di mana saja.
Jalan Permainan
Pada bagian ini kita ingin mencoba menjelaskan tentang cara-cara melakukan permainan ini, agar semua orang yang berminat dapat melakukannya. Apabila peralatan yang diperlukan telah tersedia, permainan dapat dimainkan di mana saja. Adapun peralatan yang diperlukan untuk permainan ini, seperti yang telah dijelaskan di atas, yaitu lidi-lidi yang dibuat dari lidi daun kelapa dari kulit bambu, dan dapat pula dari kulit pelepah rumbia. Biasanya para pemain yang gemar melakukan permainan ini telah menyediakan perlengkapan ini sebelumnya dan perlengkapan yang dapat dipergunakan untuk beberapa kali.
Setelah pemain berkumpul, sedikitnya dua orang anak, barulah permainan dimulai. Mula-mula diadakan perjanjian tentang berapa skor atau nilai (poin) yang akan dimainkan untuk sekali permainan (satu set). Hal ini perlu dimufakati terlebih dahulu karena tidak ada suatu ketentuan yang khusus. Dalam permainan ini hanya ditentukan cara-cara bermain, sedangkan yang lain dapat dimusyawarahkan sebelum bermain.
Cara melakukan permainan adalah sebagai berikut: setelah menentukan urutan para pemain melalui cara yang lazim dipergunakan melalui sut dan syarat-syarat lain telah disepakati, yang mula-mula melakukan permainan adalah pemain yang mendapat giliran pertama. Dia mengambil lidi sejumlah yang dimufakati (10, 15,atau 20), lalu menaruh di atas telapak tangan. Setelah lidi tersebut diletakkan di atas telapak tangan kemudian dilambungkan ke atas dan dengan segera pula pemain tersebut membalikkan telapak tangannya untuk menahan lidi tersebut melalui tangan. Setiap pemain yang telah melambungkan lidi tersebut harus berusaha agar dapat menyangkut di punggung tangan sebanyak-banyaknya. Bila lidi dapat menyangkut di punggung tangan sebanyak dua atau tiga, berarti dia memperoleh nilai dua atau tiga. Artinya nilai yang diperoleh adalah sebanyak lidi yang dapat menyangkut di punggung tangan. Pada setiap kali naik apabila tidak berhasil satu lidi pun menyangkut di atas punggung tangan berarti pemain tersebut telah mati. Selanjutnya akan naik pemain berikutnya. Demikianlah permainan ini dilakukan berulang-ulang sampai game set. Pemenang yang keluar dalam setiappermainan adalah yang berhasil mencapai nilai yang telah dimufakati.
Untuk menentukan pemenang seperti telah disebutkan adalah yang lebih dahulu mencapai nilai yang telah ditentukan, ini berlaku bagi pemain yang hanya dua orang. Dalam hal permainan dilakukan oleh lebih dari dua orang, yang keluar sebagai pemenang adalah yang dapat mencapai nilai tersebut dengan sistem siapa yang telah game dia tidak lagi ikut bermain dan dilanjutkan oleh mereka yang belum game yang pada akhirnya tinggal dua orang yang akan bermain.
Yang tidak dapat menyelesaikan permainan, dinyatakan pemain yang kalah sehingga mendapat hukuman dari pemain-pemain yang menang. Hukuman itu biasanya dengan mengetuk lutut atau pergelangan tangan yang dilakukan oleh pemenang masing-masing sebanyak yang telah dimufakati sebelumnya. Demikianlah permainan ini dilakukan beberapa kali dengan cara-cara yang telah disebutkan diatas, sampai mereka menghentikan permainan atau di antaranya ada yang menyatakan tidak bersedia lagi bermain.
Referensi:
Panduan Mengenal Masakan Khas Karo Masakan khas Karo merupakan warisan kuliner dari Tanah Karo, Sumatera Utara, yang dikenal dengan penggunaan rempah-rempah lokal yang kuat dan teknik memasak yang unik. Keanekaragaman hidangannya mencerminkan kekayaan alam pegunungan serta tradisi masyarakat Karo yang telah turun-temurun. Untuk dapat mengenali dan memahami kuliner ini, penting untuk memahami komposisi bumbu dasar, filosofi di balik nama hidangan, serta perbedaan antara masakan sehari-hari dan hidangan ritual yang mulai langka. Ciri Khas Rasa dan Bumbu Dasar Kunci utama dalam mengenali masakan Karo adalah kehadiran andaliman (merica Batak) dan kecombrang (honje atau bunga kantan) yang memberikan aroma dan sensasi rasa khas. Andaliman menghasilkan efek sedikit kebas di lidah, sementara kecombrang menambah aroma segar yang menyelimuti hidangan berat seperti daging atau ikan. Kombinasi kedua rempah ini menjadi penanda autentisitas masakan dari daerah tersebut. Selain itu, penggu...
Panduan Praktis Memahami dan Memainkan Angklung Jawa Barat Angklung merupakan alat musik tradisional multitonal yang menjadi identitas budaya Jawa Barat, khususnya masyarakat Sunda (Sumber 1, 6, 7). Terbuat dari bambu, instrumen ini menghasilkan bunyi yang khas melalui getaran dan telah menjadi simbol kebudayaan Indonesia yang dikenal hingga mancanegara (Sumber 3, 5). Keunikan angklung terletak pada konsep "multitonal" atau bernada ganda, di mana satu instrumen menghasilkan dua nada berbeda secara bersamaan ketika digoyangkan (Sumber 7). Sebagai alat musik yang berkembang di Bumi Priangan (Sumber 2), angklung memiliki sejarah panjang sejak zaman dahulu dan awalnya sering digunakan dalam berbagai upacara adat serta pertanian (Sumber 3). Berbeda dengan instrumen tiup atau petik, angklung dimainkan dengan cara digetarkan sehingga memerlukan teknik khusus dalam penggunaannya, baik secara individu maupun dalam format orkestra yang melibatkan banyak pemain (Sumber 6). Karakt...
Panduan Memahami Legenda Nyi Roro Kidul: Dari Mitos hingga Praktik Budaya Nyi Roro Kidul merupakan salah satu figur mitologis paling ikonik dalam khazanah cerita rakyat Nusantara. Dikenal sebagai penguasa Laut Selatan dalam tradisi Jawa dan Sunda, sosok ini tidak sekadar karakter fiksi, melainkan entitas budaya yang hidup dalam praktik kepercayaan, ritual, dan tata krama masyarakat pesisir selatan Jawa (Sumber 1, Sumber 8). Bagi para pelajar budaya, wisatawan, atau siapa pun yang ingin memahami warisan ini secara mendalam, penting untuk menyikapi legenda ini dengan pendekatan yang menghormati konteks historis dan spiritualnya. Artikel ini menyajikan panduan praktis untuk memahami, mengenali, dan menghargai legenda Nyi Roro Kidul secara utuh. Dengan memahami asal-usul, makna simbolik, serta tradisi yang menyertainya, pembaca dapat menyaksikan bagaimana mitos ini berfungsi sebagai jembatan antara masa lalu dan kehidupan kontemporer masyarakat Jawa. Memahami Narasi Asal-Usul La...
Harmoni di Antara Ombak: Tradisi Nelayan Pantai Selatan Ketika fajar mulai menyingsing di ufuk timur, memoles permukaan Samudra Hindia dengan warna jingga keemasan, pesisir selatan Jawa mulai dipenuhi aktivitas yang berbeda dari hari-hari biasa. Di bulan Suro, tepatnya pada hari Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon menurut penanggalan Jawa, masyarakat nelayan dari Cilacap hingga Banten bersiap menyelenggarakan sebuah pertemuan sakral antara manusia dan lautan (Sumber 5). Bukan sekadar ritual rutin, ini adalah momen di mana doa dan harapan diikatkan pada irama ombak, sebuah tradisi turun-temurun yang menjadikan laut tidak hanya sebagai sumber rezeki, tetapi juga ruang spiritual yang hidup. Jejak Spiritual Sang Ratu Selatan Di balik setiap jala yang dilabuhkan dan perahu yang diturunkan, terdapat keyakinan mendalam bahwa keselamatan dan kelimpahan tangkapan bukanlah hasil dari usaha manusia semata. Masyarakat pesisir selatan Jawa mengenal sosok Nyi Roro Kidul sebagai penguasa sekalig...
Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno Candi Miri merupakan salah satu situs candi Hindu yang menjadi bagian dari warisan arsitektur religius Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penyebaran pusat-pusat keagamaan yang strategis pada periode klasik Jawa. Sebagai candi Hindu, Candi Miri mencerminkan adaptasi tradisi arsitektur India yang dikembangkan dengan karakteristik lokal Jawa Kuno, berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Sejarah & Latar Belakang Candi Miri didentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Sumber 4). Letaknya berada di wilayah administratif Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah peradaban Jawa klasik. Terdapat variasi dalam pencatatan lokasi spesifik candi ini. Beberapa sumber merujuk lokasi Candi Miri di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo (Sumber 1, Sumber 2, Sumber...